Terjebak Pernikahan Kontrak

Terjebak Pernikahan Kontrak
Bab 129


3 hari sejak kejadian itu, sampai detik Yuna masih saja memikirkannya. Kejadian itu terus berputar diingatan, membuatnya sangat malu untuk bertemu dengan Barra. Kado yang sudah dia belikan untuk Barra saja belum sempat dia berikan. Yuna sudah beberapa kali ingin menitipkannya pada anak-anak agar mereka memberikan kado itu untuk Barra, tapi anak-anak menolaknya. Mereka selalu mengatakan agar Yuna sendiri yang memberikan hadiah itu pada Barra.


"Kamu kenapa Yun.?" Nitha duduk di depan meja kerja Yuna yang tak jauh dari mejanya. Karna sejak tadi melihat Yuna yang terus melamun, terkadang wajahnya bersemu merah seperti sedang malu.


Yuna mengakhiri lamunannya, menatap Nitha sembari menggelengkan kepala.


"Jangan kebanyakan melamun, nanti kemasukan." Ledek Nitha.


"Masih mending kalau kemasukan yang gede panjang, kan jadi enak. Gimana kalau kemasukan jin." Sambungnya dengan ekspresi mesum.


"Iya percaya punya suamimu gede panjang, tapi nggak usah mesum juga di kantor." Sahut Yuna dengan lirikan malas. Semakin dewasa, pembahasan Nitha semakin vulgar. Tak jarang Nitha menceritakan kegiatan panasnya bersama sangat suami. Mendeskripsikan secara detail bagaimana rasanya nikmat dunia itu dengan menggunakan gaya ini dan gaya itu.


Nitha seolah sedang mengompori dirinya yang tak bisa melakukannya hal itu karna tak bersuami.


"Kami tuh kebanyakan deh kayaknya, jadi mesum terus pikirannya." Ujar Yuna lagi.


Nitha terkekeh.


"Lebih baik kebanyakan daripada kurang Yun, kaya kamu gini nih, jadinya ngelamun terus." Ucapnya sembari menahan tawa.


"Buruan deh nikah lagi, Papanya twins masih menunggu tuh kayaknya."


"Duda hot sama janda seksi, beuhh kaya apa nanti di atas ranjang setelah bertahun-tahun nggak main." Nitha tertawa renyah, dia terlihat bahagia bisa meledek Yuna.


"Mendingan nanti di lantai dulu aja Yun, jangan langsung di ranjang, takutnya nanti ambruk tu ranjang." Nitha kembali tertawa.


Tanpa ragu Yuna langsung menabok lengan Nitha. Bisa-bisanya Nitha sampai membayangkan hal itu.


"Bener-bener kamu tuh mesumnya udah mendarah daging.!" Ketus Yuna sembari beranjak dari duduknya.


"Aku pulang duluan ya. Berkasnya udah aku tanda tangani." Tuturnya. Dia mengambil tas dan ponsel miliknya di atas meja.


"Kenapa buru-buru.? Nggak kuat ya bayanginnya.?" Nitha masih saja menggoda Yuna. Rasanya tak ada puasnya menggoda wanita yang sudah 6 tahun menjomblo.


"Atau pengen.?" Tebaknya tanpa basa-basi.


"Iya pengen.! Pengen ngelakban mulut kamu biar diem." Sahut Yuna sembari keluar dari ruang kerjanya.


Raut wajah kesal Yuna justru membuat Nitha tertawa puas. Yuna masih saja bertahan dengan kesendiriannya meski hampir setiap hari Nitha sengaja membahas hal-hal mesum seperti itu. Niat hati ingin membuat Yuna terpengaruh dengan ucapannya dan mau kembali dengan Barra, tapi pendirian Yuna terlalu kuat.


Bukan tanpa alasan Nitha mendukung Yuna agar kembali pada Barra, meski dulu ikut kesal dengan sikap Barra pada Yuna. Tapi sejauh ini Nitha bisa melihat bagaimana keseriusan dan cinta tulus Barra pada Yuna. Tidak menikah lagi selama-lama bertahun-tahun menduda, membuat Nitha yakin jika perasaan Barra hanya untuk Yuna.


Padahal Barra bisa mendapatkan wanita muda yang masih single dengan fisiknya yang masih gagah.


Nitha berani menyimpulkan hal itu karna dia sering menghadiri acara keluarga Yuna yang berkaitan dengan anak-anak, jadi selalu melihat kehadiran Barra di sana.


...*****...


Yuna keluar dari kamar setelah mandi. Dia menghampiri anak-anak yang sedang bersantai di ruang keluarga bersama Mama Rena.


Brian sedang memijat kaki Mama Rena sembari mengobrol. Sedangkan Twins terlihat asik menonton televisi.


"Oma,, kenapa Mama tidak mau menikah dengan Papa Barra.?" Tanya Brian. Yuna yang hendak menghampiri mereka jadi menghentikan langkah, berhenti di tempat tanpa di lihat keberadaannya oleh mereka.


"Padahal Papa Barra baik, dia juga sayang sama Brian."


"Papa Barra tidak jahat kan sama Mama.?"


Mendapat pertanyaan seperti itu, Mama Rena tampak kebingungan buntu menjawabnya. Dia tidak tau harus memberikan alasan apa kenapa Yuna tidak mau menikah lagi.


"Papa Barra baik, tentu saja tidak jahat pada Mama kamu." Ujarnya tanpa menjawab pertanyaan pertama yang di ajukan Brian.


"Jadi kenapa Mama tidak mau sama Papa.?" Brian masih saja mencecar Mama Rena dengan pertanyaan yang sama, bocah yang belum genap berusia 13 tahun itu terlihat ingin tau alasan Yuna tak mau menikah lagi.


Yuna berbalik badan, dia mengurungkan niatnya untuk bergabung dengan mereka. Bukan bermaksud untuk menghindari pertanyaan dari Brian jika nanti dia bergabung di sana. Namun Yuna tak tega melihat raut wajah putra bungsunya itu.


Masuk kembali kedalam kamar, Yuna berjalan ke salah satu sudut ruangan yang ada di kamar itu. Dimana semua foto Chandra dan foto kenangan keluarga kecilnya tertata rapi dalam rak.


Kali ini bukan karna merindukan Chandra, tapi memikirkan keinginan anak-anak yang sulit untuk dia penuhi.


Bagaimana dia bisa kembali pada Barra sedangkan tak ada sedikitpun cinta dihatinya untuk laki-laki itu. Jika menuruti keinginan anak-anak, Yuna takut akan mengorbankan perasaan Barra karna tidak mencintainya.


Walaupun tidak membencinya, namun dia tak memiliki rasa padanya.


"Apa yang harus aku lakukan,," Tanya Yuna meraih bingkai foto milik Chandra. Menatap lekat wajah almarhum suaminya itu.


"Kalau saja kamu masih ada di sini, pasti tak anak menyakitkan seperti ini."


Duka itu tak akan pernah hilang dari hatinya. Chandra selalu memiliki ruang di hatinya meski tak akan kembali.


"Putra kita menginginkannya, dia sangat merindukan figur seorang ayah." Tuturnya sembari mengusap foto di tangannya.


"Aku harus bagaimana.?"


Yuna dilema, dia dalam posisi yang sulit.


...****...


Semua orang sudah berkumpul di ruang makan untuk makan malam bersama. Yuna lebih banyak diam namun memperhatikan ketiga wajah anaknya. Menyimak obrolan mereka yang hangat.


Yuna bersyukur mereka tak pernah bertengkar. Saling menyayangi satu sama lain dan terlihat sangat peduli.


Makan malam mereka berlangsung tenang, hanya ada obrolan singkat bersama dengan anak-anak.


"Yahh,, besok Papa tidak bisa mengajak kita jalan." Keluh Kinara sembari menatap layar ponselnya.


"Papa sedang sakit." Ujarnya dengan raut wajah sedih.


"Papa sakit.?" Tanya Kenzie dan Brian bersamaan.


Kinara menganggukkan kepala.


"Papa bilang sedang tidak enak badan sejak pagi."


"Sini, biar aku telfon Papa." Kenzie mengambil ponsel Kirana lalu menghubungi Barra.


"Hallo Pa, Papa baik-baik saja.?" Tanya Zie begitu sambungan telfonnya terhubung.


"Apa Papa sudah periksa ke dokter.?" Seru Kinara, dia sedikit mendekat pada ponsel yang di pegang Zie.


"Papa sudah makan.?" Brian juga ikut menunjukkan kekhawatirannya terhadap Barra.


Terdengar suara tawa kecil dari seberang sana, tawa yang terdengar lemar.


"Jangan khawatir, Papa baik-baik saja."


"Papa hanya butuh istirahat." Jawabannya.


"Papa yakin.?" Tanya Kinara curiga, pasalnya dari suara saja sudah bisa di tebak kalau sang Papa tidak baik-baik saja.


"Kalau kalian khawatir, pergi saja temui Papa. Mama akan minta supir untuk mengantar kalian." Ucap Yuna yang sejak tadi menyimak obrolan mereka.


"Mama akan siapkan makanan untuk Papa kalian, pasti Papa belum makan." Yuna langsung beranjak dari duduknya dan pergi ke dapur untuk mengambil kotak makan.


Anak-anak terlihat senang dan langsung mengatakan pada Barra kalau mereka akan datang. Mereka kemudian mematikan sambungan telfonnya untuk bersiap-siap.


"Kalian mau Papa dan Mama kembali.?" Tanya Mama Rena sebelum anak-anak pergi dari meja makan.


"Tentu saja mau Oma,," Mereka menjawab kompak.


"Kalau begitu ajak Mama kalian, minta Mama yang menyuapi Papa kalian nanti." Ujar Mama Rena.


Twins dan Brian tampak senang, mereka lalu mengangguk paham.