Terjebak Pernikahan Kontrak

Terjebak Pernikahan Kontrak
Bab 57


Yuna terlihat cemas melihat kedatangan Mama Rena dan Nitha. Cemas karna pada akhirnya Mama Rena dan Nitha tau bahwa selama ini dia telah membohongi mereka. Yuna yakin mereka sudah tau karna mereka berdua lah yang telah membawanya ke rumah sakit.


"Sayang,, akhirnya kamu sadar juga,," Sambil berderai air mata, Mama Rena menghampiri ranjang putrinya dan mendekapnya. Hal yang sangat menyakitkan dan mengiris hati seorang ibu adalah melihat kondisi dan kehancuran anaknya.


Mama Rena tidak akan tega mengatakan pada Yuna jika baby girl telah meninggal. Mungkin dia akan memilih diam dan membiarkan Barra yang mengatakan hal itu pada Yuna.


"Ma,,mamah,,," Ucap Yuna terbata. Dia bingung melihat Mama Rena menangis hingga tubuhnya bergetar.


"Mama kenapa menangis.?" Tanya Yuna.


"Aku sehat Mah, dokter bilang aku baik-baik saja." Jelasnya untuk menghentikan tangis Mama Rena, namun Mama Rena justru semakin terisak.


"Kenapa kamu bohong sama Mama.! Kenapa nggak bilang kalau kamu hamil kembar.?!" Ada nada kekecewaan bercampur kepedihan.


"Apa kamu tau, kehamilan kembar lebih beresiko. Kalau saja Mama tau, pasti Mama akan lebih hati-hati menjaga kamu nggak jatuh dari tangga seperti ini."


"Sekarang mereka harus lahir sebelum waktunya."


Mama Rena menatap putrinya, tidak percaya putrinya akan menyembunyikan hal seperti ini. Rasanya tidak mungkin kalau Yuna tidak mengetahui dia mengandung 2 anak sekaligus. Jadi sudah pasti kalau Yuna dan Barra membohonginya.


"Maafin Yuna Mah,,," Yuna menggenggam tangan Mama Rena. Dia merasa bersalah telah membohongi wanita yang sudah melahirkannya.


"Mungkin ini balasan untuk Yuna karna sudah bohong sama Mama, Yuna benar-benar minta maaf." Pintanya memohon.


"Tapi semuanya baik-baik saja, Mama nggak perlu sedih. Baby twins juga sehat."


"Apa Mama baru melihat mereka.? Bagaimana wajahnya Mah.? Apa ada yang mirip dengan ku.?" Tanya Yuna. Matanya kembali berbinar, Persis saat dia bertanya seperti itu pada Barra.


Mama Rena mengalihkan pandangan, tidak tega milih wajah Yuna yang begitu bahagia. Padahal salah satu dari mereka tidak bisa diselamatkan.


Barra pun yang sejak tadi duduk di sisi ranjang, memilih untuk beranjak dan keluar dari sana. Dia tidak sanggup melihat Yuna. Mungkin saat ini dia masih bisa tegar, bahkan menguatkan Mama Rena. Tapi saat tau anaknya meninggal, jangankan untuk menguatkan orang lain, dia mungkin tidak akan sanggup menguatkan dirinya sendiri.


"Mereka tampan dan cantik nak, seperti Barra dan kamu." Jawab Mama Rena lirih.


"Kenapa jawaban Mama sama dengan Mas Barra." Gumam Yuna. Padahal bukan jawaban seperti itu yang Yuna mau. Dia ingin jawaban yang detail, tenang bentuk wajah, mata, hidung serta bibir.


"Aku ingin melihat mereka Mah, ingin tau seperti apa wajah mereka." Ujar Yuna.


"Nanti ya sayang, mereka belum memperbolehkan membawa anak kamu keluar dari NICU. Kondisi kamu juga belum memungkinkan untuk keluar."


Jawaban Mama Rena langsung membuat Yuna menunduk sendu.


"Yun,,," Nitha mulai mendekat setelah obrolan ibu dan anak itu selesai. Sama halnya dengan Mama Rena, Nitha juga tidak kuasa menahan tangis.


Pasti sangat berat dan menyakitkan jika Yuna tau apa yang sebenarnya terjadi.


"Cepet sehat ya, selamat kamu sudah jadi ibu sekarang." Ucapnya sambil menggenggam tangan Yuna.


"Ya ampun Nit, kamu kenapa nangis juga."


"Sejak kapan kamu jadi cengeng seperti ini, Mama juga sama saja."


"Padahal aku baik-baik saja, tapi kalian tetap menangis."


Yuna terlihat kesal lantaran semua orang menangis dan menunjukkan kesedihan di depannya, seakan ada sesuatu yang terjadi.


"Kamu nggak tau kalau ini tangis bahagia.?" Seru Nitha.


"Aku bahagia kamu sehat dan melahirkan dengan selamat." Nitha memeluk Yuna dengan perasaan sedih.


...*****...


Cindy terlihat gelisah, sudah menjelang malam tapi Barra belum menghubunginya dan nomornya juga tidak bisa di hubungi.


Pikiran kalut, meninggalnya salah satu baby twins membuat Cindy takut. Takut apa yang selama ini dia harapan tidak akan terjadi.


Berbulan pura-pura hamil, setiap hari juga menatap foto USG baby boy, tentu saja Cindy jadi ingin memilikinya. Dia sudah menganggap baby boy seperti anak kandungnya sendiri sejak masih dalam kandungan. Wajar jika dia tidak mau kehilangan baby boy.


Ini bukan kemauannya, Barra yang sudah memaksanya untuk pura-pura hamil, dan Yuna dengan suka rela akan memberikan baby boy padanya. Jadi tidak egois jika dia ingin tetap memiliki baby boy meski pada akhirnya Yuna tidak akan bersama kedua anaknya.


Barra dan Yuna yang sudah membuatnya merasa memiliki baby boy, sering kali dia memimpikan menggendong bayi laki-laki yang tampan dan menggemaskan.


"Aku yakin Yuna akan tetap memberikan baby boy padaku." Gumam Cindy penuh keyakinan. Dia berdiri di balkon, menatap padatnya kota dari ketinggian.


Flashback


Cindy tidak sengaja bertemu Yuna di pusat perbelanjaan 2 minggu yang lalu. Saat itu Yuna sedang bersama seorang teman wanitanya tengah sibuk memilih baju bayi untuk baby girl.


Melihat Yuna yang sedang memilih baju untuk babynya, Cindy juga berniat untuk melakukan hal yang serupa. Dia juga ingin membelikan baju bayi untuk baby boynya. Karna tidak mungkin Yuna akan membeli baju untuk baby boy bersama orang lain. Karna Yuna tidak memberitahukan kehamilan kembarnya pada orang lain.


"Hai Yuna,,," Sapa Cindy dengan senyum lebar.


Yuna dan temannya menoleh, menatap wanita cantik yang juga tengah berbadan dua.


"Mba,, Cindy.?" Yuna terlihat gugup, dan penyebabnya tentu saja karna takut ketahuan oleh temannya.


"Mba Cindy sedang apa disini.?" Tanyanya.


"Oh ya ampun, kenapa aku harus bertanya." Yuna terkekeh.


"Tentu saja Mba Cindy ingin beli baju untuk babynya." Ujarnya.


Cindy mengangguk dengan seulas senyum.


"Nit, kenalin dia temanku." Ucap Yuna pada Nitha yang sejak tadi menatap penasaran pada Cindy.


"Cindy,,"


"Nitha."


Keduanya berjabat tangan dan saling melempar senyum.


"Mba Cindy datang sendiri.?" Tanya Yuna.


"Ya, suamiku sedang bekerja." Jawabannya.


Yuna hanya tersenyum tipis.


Keduanya lantas memilih baju bersama, Cindy banyak meminta pendapat pada Yuna. Dia terlihat lebih bahagia dan antusias ketimbang Yuna yang benar-benar tengah mengandung.


"Apa kamu punya waktu.? Aku ingin bicara." Tanya Cindy begitu selesai membeli baju bayi dan keluar dari store.


Yuna langsung menatap Nitha, memberi isyarat pada Cindy bahwa dia tidak bisa membicarakan hal yang selama ini menjadi rahasia.


"Aku ingin bicara berdua." Ucap Cindy lagi.


Pada akhirnya Yuna meminta Nitha untuk menunggu di tempat lain, lalu dia dan Cindy pergi ke restoran.


"Apa yang mau Mba Cindy bicarakan.?" Tanya Yuna datar.


"Tentang Barra, aku merasa dia berubah." Tutur Cindy dengan wajah sendu.


"Aku merasa bukan menjadi prioritasnya lagi saat ini. Cinta dan perhatiannya lebih condong pada kalian. Nyatanya Barra menjadi tidak adil." Ungkapnya dengan sesak yang tertahan.


Yuna tersenyum tipis.


"Jadi.? Apa Mba Cindy menyesal sudah menyuruh Mas Barra menikah lagi.?" Tanya Yuna santai.


Cindy mengangguk lemah.


Pada akhirnya dia harus mengakui bahwa hatinya tidak rela untuk berbagi, dia cemburu melihat Barra yang mulai mencintai Yuna.


"Jangan khawatir, aku nggak akan merebut Mas Barra dari Mba Cindy.."


Ujar Yuna.


"Kamu tidak akan berubah pikiran kan untuk memberikan baby boy.?" Tanya Cindy cemas.


"Hanya baby boy alasan yang akan membuat Mas Barra tidak meninggalkanku demi kamu." Raut wajah Cindy terlihat penuh kekhawatiran.


Lagi-lagi Yuna hanya tersenyum tipis.


"Aku bukan orang seperti itu, jadi tenang saja. Baby boy akan tetap menjadi milik kalian."


Jawab Yuna. Dia lalu beranjak dan pergi begitu saja.