
Barra menjemput twins di sekolahnya. Kemarin sudah meminta ijin pada Yuna untuk mengajak twins menginap di rumah Mom Sonya.
Dia menunggu di depan kelas twins. Senyumnya merekah melihat kedua anaknya. Sudah hampir 1 minggu tidak menemui mereka, terakhir kali saat mengajak mereka pergi ke pusat perbelanjaan dan bertemu Chandra di sana.
"Yeay,,, Papa,,," Seru twins bersamaan, keduanya langsung berlari ke arah Barra dan menghambur ke pelukannya. Barra mendekap twins erat, setelah itu mencium kening mereka bergantian.
"Papa kangen sama kalian." Ucapnya sembari menara mereka.
"Hari ini kita mau ke rumah Oma dan Opa, kita akan menginap di rumah Oma. Kalian mau kan.?" Tanyanya. Kenzie dan Kinara mengangguk antusias.
"Mau Papa, ayo ke rumah Oma,," Kinara menggandeng tangan Barra agar segera pergi ke rumah Mom Sonya.
"Ok,, les't go,," Seru Barra. Dia menggandeng mereka menuju mobil.
Saat ini hanya kebersamaan dengan twins dan keluarganya yang bisa mengalihkan pikirannya tentang Yuna. Setidaknya bisa melupakan sejenak perasaannya terhadap Yuna yang tidak bisa pudar ataupun terkikis seiring berjalannya waktu.
Cintanya untuk wanita yang sudah memberikan 2 orang anak dalam hidupnya seakan sudah terpatri dalam hati. Sekeras apapun mencoba untuk menghapusnya, perasaan itu tak akan pernah bisa untuk di hilangkan.
Sampai saat ini bahkan tidak pernah berfikir untuk menjalin hubungan dengan siapapun.
"Oma,,, Opa,,," Twins berlari menghampiri Mom Sonya dan Dad Hendra yang tengah duduk di ruang keluarga. Semua orang berkumpul di sana karna sebelumnya Barra sudah memberi tau mereka kalau akan datang dan menginap di sana.
"Ya ampun cucu Oma,," Mom Sonya memeluk Kinara yang datang padanya, dan Dad Hendra langsung memangku cucu laki-lakinya.
Mereka juga sudah lama tidak bertemu dengan twins.
"Bagaimana sekolahnya hari ini.?" Tanya Mom Sonya pada keduanya.
"Seru Oma,," Jawab Kenzie.
"Barra, gantikan dulu baju mereka." Ujar Dad Hendra. Barra mengangguk pelan, dia bergegas pergi ke kamar anak yang sejak dulu di siapkan oleh kedua orang tuanya untuk cucu-cucu mereka jika menginap di sana.
Baju-baju mereka juga sudah ada di kamar itu, termasuk baju milik Kevin dan adik perempuannya, Aileen.
"Hei, heii,,, kalian tidak mau memeluk aunty.?" Seru Sisil pada kedua ponakannya. Dia sampai merentangkan kedua tangannya agar twins beralih padanya.
"Hai aunty,," Kinara berjalan mendekati Sisil, memeluk dan mencium pipinya.
"Uhhh,, ya ampun kamu sweet sekali." Kata Sisil sembari mencubit gemas hidung mancung Kinara.
"Kamu tidak mau bermain dengan Kakak Kevin dan Aileen.? Kakak Kevin sedang bermain di taman belakang." Tuturnya.
"Mau dong aunty, Ara mau ke taman,," Serunya.
"Ok, tunggu Papa ambilkan baju dulu ya." Ujar Sisil.
"Ponakan tampan aunty, sini sayang,," Sisil juga menarik Kenzie dalam dekapannya.
"Kenapa tidak mengajak adik Brian.?" Sisil bertanya pada keduanya.
"Jangan aunty, nanti adik nakal." Tutur Ara.
Sisil tersenyum gemas melihat penuturan Ara dengan wajah yang lucu.
"Oh ya.? Memangnya adik Brian nakal.?" Tanyanya lagi. Kinara mengangguk cepat. Brian yang tidak bisa diam selalu mengganggu dan menjahili Kinara saat sedang bermain, hal itu membuat Kinara sedikit gemas bercampur kesal padanya.
"Adik tidak nakal," Seru Kenzie, dia memiliki jawaban yang berbeda dengan Kinara. Pasalnya Brian lebih akur dengannya dibanding dengan Kinara.
"Sini ganti bajunya dulu,," Barra menghampiri kedua anaknya dengan membawa baju mereka.
Dia duduk di samping Sisil, memberikan baju milik Kinara agar Sisil membantu memakaikan bajunya.
"Gantikan baju Ara." Ujarnya datar. Sejak datang memang Barra bersikap datar pada Sisil, bahkan tidak menoleh padanya.
"Siap Oppa duren." Sahut Sisil menggoda. Dia menahan tawa, tidak takut meski Barra menetapkannya tajam.
"Oppa duren.?" Tanya Mom Sonya dengan dahi berkerut.
"Duren, duda keren Mom,," Seru Sisil cepat.
"Dasar adik kurang ajar." Geram Barra sewot. Belakangan ini Sisil selalu meledeknya lewat telfon ataupun pesan. Bahkan beberapa kali mengirimkan foto gadis padanya.
"Aku sudah mengirimkan foto gadis-gadis cantik pada Oppa, Mom." Tutur Sisil.
"Tapi Oppa malah marah-marah padaku. Padahal aku ingin menjodohkan Oppa dengan teman-temanku yang masih single." Sisil melirik Barra, sedikit kesal dan kecewa karna Barra tidak pernah mau untuk kencan dengan salah satu temannya.
"Dia mengirimiku foto wanita berusia di bawah 23 tahun Mom." Adu Barra dengan ekspresi kesal.
Usianya saat ini bahkan sudah 36 tahun.
"Tapi Oppa, bukannya yang muda lebih menggoda.?" Ujar Sisil memberikan pembelaan.
"Harusnya Oppa senang karna mereka ingin dekat dengan Oppa ku yang tampan ini." Goda Sisil sembari menyentuh dagu Barra.
"Prisilla.! Jangan bicara seperti itu pada kakakmu." Tegur Dad Hendra.
"Maaf Dad, aku cuma ingin melihat Oppa bahagia dengan memiliki pasangan."
"Tapi Oppa masih mengharapkan Mama twins." Sisil melirik iba pada Barra. Kakaknya itu benar-benar tidak bisa melupakan Yuna, Sisil tau betul kalau sampai saat ini Barra masih mencintai Yuna dan berharap bersatu lagi.
"Jangan sok tau kamu.!" Tegas Barra.
"Ayo ke taman." Barra menggandeng twins, mengajak mereka ke taman setelah selesai di gantikan baju.
"Kamu boleh memberi semangat untuk kakakmu, tapi jangan mencampuri urusan pribadinya terlalu jauh." Tutur Dad Hendra menasehati Sisil.
"Biarkan saja kakakmu menjalani hidupnya saat ini, itu sudah menjadi pilihannya." Ujarnya lagi.
Sisil langsung mengangguk paham, meski dalam hatinya ingin melihat Barra bahagia dengan wanita lain.
...*****...
Yuna keluar dari kamar setelah beberapa jam mengurung diri untuk menangkan pikiran.
Ucapan Agatha telah membuka luka lama, takut hal buruk itu terulang kembali pada rumah tangganya.
Kecewa dan sakit hati sudah pasti, membayangkan ucapan Agatha tentang hubungannya dengan Chandra. Yuna mencoba untuk tidak gegabah, dia ingin mendengar penjelasan dari mulut Chandra setelah memenangkan diri. Setidaknya dia bisa mengontrol emosi jika nanti harus mendengar penjelasan dari Chandra.
"Mas Andra dimana bu.?" Tanya Yuna. Dia menghampiri Mama Rena yang tengah berada di dapur.
"Nak, kamu baik-baik saja.?" Mama Rena menatap cemas pada putrinya.
Yuna mengangguk pelan.
"Aku baik-baik saja Mah." Ucapnya.
"Chandra ada di kamar Brian."
"Bicarakan baik-baik masalah kalian, semoga saja Chandra tidak seperti yang bicarakan oleh wanita itu." Ujar Mama Rena.
"Iya mah, Yuna ke kamar Brian dulu."
Yuna bergegas ke kamar Brian, membuka pintu kamar dengan perlahan. Dilihatnya Chandra yang tengah tertidur di ranjang bersama putranya. Brian bahkan tidur dalam dekapan Chandra.
Yuna masuk kedalam, berdiri di sisi ranjang dan menatap lekat wajah keduanya. Terutama wajah Chandra yang terlihat sendu meski sedang tertidur.
Ada perasaan kesal dan kecewa saat menatap Chandra, entah bagaimana jika ucapan wanita itu benar. Sakit yang dia rasakan pasti akan berkali-kali lipat dari sebelumnya.
Mungkin saja rumah tangganya akan berakhir untuk kedua kalinya jika memang benar Chandra memiliki hubungan dengan wanita lain.
Yuna menyeka air matanya. Baru 3 tahun merasakan kebahagiaan bersama Chandra, tapi sudah muncul permasalahan yang menguras emosi.
Menarik nafas dalam, Yuna beranjak dari sana, namun tangannya di tahan oleh Chandra.
"Maaf sudah membuatmu menangis." Ucap Chandra tercekat. Perlahan bangun dari ranjang, masih terus memegang tangan Yuna, kemudian menariknya dalam dekapan.