
"Apa harus seperti ini.?" Tanya Yuna dengan wajah yang merona. Dia tidak berani menatap mata Chandra.
"Memangnya kenapa.?" Chandra menaikan sebelah alisnya, terlihat sengaja menggoda Yuna. Apalagi semakin mendekap erat tubuh Yuna hingga saling melekat dengan wajah yang hampir tanpa jarak.
"Aku malu,," Sahut Yuna. Dengan lingerie yang menerawang, dia diminta duduk di pangkuan Chandra yang sudah melepaskan bajunya hingga dada bidangnya terekspos.
"Sudah 7 tahu Yuna, kenapa masih malu padaku.?" Chandra menatap heran sekaligus gemas.
"Setidaknya untuk 2 hari ke depan, hilangkan rasa malu itu. Kapan lagi kita bisa menghabiskan waktu berdua seperti ini.?" Tutur Chandra. Dia mulai menghirup dalam-dalam aroma parfum yang menguar dari tubuh Yuna.
Yuna mengangguk, kali ini tidak mau mengecewakan Chandra di hari anniversary mereka.
"Kamu tau,? Aku sangat mencintaimu."
"Aku pastikan tidak akan ada yang bisa menggantikan posisimu disini,," Chandra menggenggam tangan Yuna dan meletakkannya di dadanya.
"Bahkan sampai aku sudah tidak ada sekalipun." Lanjutnya dengan seulas senyum dan tatapan mata yang dalam.
"Mas Andra bicara apa.! Aku tidak akan membiarkan kamu pergi kemanapun.!" Sahut Yuna kesal. Tiba-tiba moodnya buruk setelah Chandra mengatakan hal yang membuat pikirannya tidak karuan.
"Benarkah.? Kamu tidak mau aku pergi.?" Tanya Chandra sembari mengulum senyum. Dia tau Yuna kesal, tapi masih saya di tanggapi dengan candaan olehnya.
"Tentu saja.!" Ucap Yuna sewot. Chandra tersenyum lebar, menangkup wajah Yuna dan melu- m*t sekilas bibirnya.
"Sepertinya kamu sangat mencintaiku." Ujarnya setelah melepaskannya ciumannya.
"Jadi selama ini Mas Andra pikir aku tidak cinta.?" Yuna mencebik kesal.
"Bagaimana mungkin aku berfikir seperti itu, tantu saja aku tau kalau istri cantiku ini sangat mencintaiku."
"Kalau tidak, mana mungkin setiap malam menempel padaku." Goda Chandra lagi.
Dia kembali membuat wajah Yuna merona. Chandra selalu membahas hal itu.
Sejak Brian tidur di kamar terpisah, mereka memang lebih sering melewatkan malam panas. Hubungan keduanya juga semakin lengket dan romantis.
"Suka sekali membuatku malu.!" Geram Yuna. Dia mengeluarkan jurus jahilnya dengan mencubit pinggang Chandra berulang kali.
Keduanya terkekeh, Chandra mendekap tubuh Yuna dan menggulingkan tubuhnya ke ranjang hingga membuat Yuna berada di atasnya. Malam itu percintaan yang panas dan penuh keromantisan terjadi di kamar hotel VIP.
Keduanya benar-benar menikmati malam anniversary pernikahan mereka dan mengukir kenangan indah yang ternyata menjadi kenangan terakhir bagi Yuna.
Saat ini Yuna tengah menangis histeris di atas pusara Chandra. Tangisnya pecah mengingat kenangan terakhir mereka saat merayakan anniversary 3 hari yang lalu.
Yuna bukan mau menolak atau menentang takdir, dia tau betul setiap yang bernyawa pasti akan tiada. Namun dia tak pernah menyangka secepat itu Tuhan mengambil Chandra dari sisinya. Rasanya baru kemarin Chandra menjadi lentera dalam kehidupannya yang sempat redup. Baru kemarin pula Chandra menciptakan kenangan indah dalam hidupnya, kini semuanya lenyap dalam sekejap dan hanya meninggalkan kenangan.
"Mama,,," Brian yang semula menangis dalam pelukan Mama Rena, kini ikut bersimpuh di tanah bersama Yuna dan memeluknya.
Anak berusia 6 tahun itu sudah sangat paham jika Papanya telah pergi selamanya dari hidupnya. Dia juga menangis histeris seperti Yuna saat mendengar Papanya meninggal dunia.
Suara Brian dan dekapannya, membuat Yuna menoleh. Dalam keadaan masih menangis, dia menatap lekat wajah putranya. Buah cintanya dengan Chandra.
"Sayang,," Yuna memeluk erat putra bungsunya. Tangisnya semakin pecah dalam keadaan saling berpelukan.
Sungguh amat sangat menyakitkan kehilangan orang yang kita cintai untuk selama-lamanya. Dada terasa sesak, terasa sulit walau hanya sekedar untuk bernafas. Dunia tak lagi terang, terasa kelabu dan semakin lama menggelap.
Semua yang hadir di pemakaman ikut larut dalam kesedihan, banyak yang tak kuasa menahan air matanya. Sisil dan Mom Sonya bahkan terlihat ikut menangis melihat Yuna dan Brian begitu hancur.
Barra juga menatap sendu ke arah Yuna, matanya yang berkaca-kaca di tutupi oleh lensa hitam.
Beberapa kali menarik nafas dalam untuk menahan air matanya.
Barra hanya bisa menenangkan twins yang juga terus menangis sejak dari rumah. 7 tahun hidup bersama Chandra, nyatanya membuat twins sangat kehilangan Papa sambungnya.
Perhatian dan kasih sayang Chandra pada mereka, membuat twins sangat dekat dengannya.
Mereka juga sama kehilangannya seperti Brian.
Mama Rena menatap Yuna dan cucu-cucunya, air matanya terus mengalir. Sebagai seorang Ibu, hatinya hancur melihat putrinya harus mengalami hal menyedihkan berulang kali dalam hidupnya.
Baru kemarin bisa melihat Yuna tertawa bahagia, kini tawa itu berubah menjadi duka yang mendalam untuknya.
Nitha dan semua karyawan Yuna juga turut hadir dengan berurai air mata. Mereka tau betul bagaimana Yuna dan Chandra saling mencintai, melihat bagaimana sikap Chandra yang begitu romantis pada Yuna.
...*****...
1 minggu berlalu, dunia tak lagi seindah dulu bagi Yuna. Entah sudah berapa banyak air mata yang dia keluarkan karna merindukan Chandra. Sampai detik ini masih belum menyangka kalau Chandra sudah pergi untuk selama - lamanya.
Saat ini Yuna tengah duduk di sisi ranjang. Buket bunga pemberian Chandra terakhir kali, ada dalam dekapannya. Sebelah tangan Yuna juga memegang foto dalam bingkai. Foto yang dia ambil terakhir kali dengan Chandra saat dinner romantis malam itu.
Mungkin memang Chandra sudah memiliki firasat, dia terus meminta untuk mengabadikan momen kebersamaan mereka saat malam anniversary kalau itu. Entah berapa puluh kali mereka mengabadikan momen itu. Chandra bahkan menyuruh pekerja rumah untuk mencetak semua foto itu setelah pulang dari hotel.
Foto yang akhirnya menjadi album kenangan terakhir untuk Yuna.
"Aku masih berharap semua ini hanya mimpi buruk." Ucapnya dengan suara yang tercekat.
"Berharap setiap kali membuka mata, kamu akan ada di sampingku." Tangis Yuna kian pecah.
Dia memejamkan mata, berharap Chandra akan hadir di hadapannya dan mengatakan aku mencintaimu setelah dia membuka mata.
Hal yang selalu di ucapan oleh Chandra berulang kali dalam 1 hari.
"Aku mencintaimu." Ucap Yuna.
Dia menyesal tidak mengungkapkan perasaannya lebih dulu, selalu Chandra yang mengungkapkannya lebih dulu.
Andai saja dapat mengulang waktu, Yuna ingin mengatakannya setiap waktu agar Chandra tau bahwa dia sangat mencintainya.
"Kenapa harus pergi secepat ini.? Kenapa tega membuatku menangis setiap hari.?" Racau Yuna sembari menatap lekat wajah Chandra dalam foto.
"Mas Andra bahkan sudah berjanji tidak akan membuatku menangis."
"Tapi lihat apa yang Mas Andra lakukan padaku.? Aku bahkan tidak bisa berhenti menangis sampai saat ini."
Yuna mencium foto Chandra dan mendekapnya erat.
Dia sangat merindukan Chandra. Hal terberat yang pernah dia rasakan adalah menahan kerinduan pada orang yang telah pergi untuk selama-lamanya.
...***...
^^^Kamu dan kenangan^^^
^^^by. Maudy Ayunda^^^
Seusai itu senja jadi sendu awan pun mengabu
Kepergianmu menyisakan duka dalam hidupku
'Ku memintal rindu menyesali waktu mengapa dahulu
Tak ku ucapkan aku mencintaimu sejuta kali sehari
Walau masih bisa senyum
Namun tak selepas dulu
Kini aku kesepian
Kamu dan segala kenangan
Menyatu dalam waktu yang berjalan
Dan aku kini sendirian
Menatap dirimu hanya bayangan
Tak ada yang lebih pedih
Daripada kehilangan dirimu
Cintaku tak mungkin beralih
Sampai mati hanya cinta padamu