
Harlan menatap Riko yang hanya diam dengan wajah biasa saja.
"Riko apa maksud ucapan mamamu?"
"Papa sudah dengarkan jika Rere calon mantu kalian, itu berarti Rere adalah calon istriku." Riko duduk di kursi dengan menatap kedua orang tuanya. "Riko ingin serius dengan Rere, dan Riko ingin menikahi Rere." Riko menatap wajah kekasihnya yang juga menatapnya. " karena Riko mencintai Rere." Tatapan penuh cinta Riko menatap Rere yang hanya diam dengan wajah merona.
Rere tidak menyangka jika ucapan bosnya tadi berakibat kejadian seperti ini, Riko yang ingin menikahinya.
Plak
"Auwss papa kebiasaan sih main gaplok aja." Riko mengusap lengannya yang di pukul Harlan.
"Kamu kalo bicara yang serius." Harlan menatap Riko dengan ekspresi datar.
"Ma bilang sama papa jika aku mau melamar Rere besok." Ucap Riko tanpa di saring.
Bugh
"Auws..kalian ini kenapa kdrt sih." kali ini Riko mendapat lemparan buah jeruk dari Harna.
"Kamu pikir melamar tidak butuh persiapan, cuma bilang melamar terus semua bisa siap sendiri, belum tentu Rere juga mau kamu lamar." Harna kesal karena putranya itu asal bicara dan tidak di pertimbangkan, melamar kan juga butuh persiapan.
"Lah, memang nya kamu tidak mau aku lamar yank." Riko mendekati Rere yang duduk di samping Harna. "Kamu mau kan aku lamar." Riko menatap wajah Rere.
"Em.. mas kan belum pernah datang kerumah menemui kedua orang tuaku, mereka juga belum kenal dengan mas." ucapan Rere bagaikan panah yang menembus jantung Riko. Riko hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal, melihat tatapan tajam kedua orang tuanya.
"Ya..ya nanti aku akan menemui kedua orang tuamu." Riko pun tidak bisa mengelak ketika dua manusia yang sedang menatapnya siap memangsa.
"Jadi selama kalian pacaran, Riko tidak pernah bertemu dengan orang tuamu Re?" Tanya Harna yang mendapat gelengan dari Rere.
"Pah, lihat kelakuan anak mu, berani pacaran tapi tidak berani menemui orang tuanya." Ucap Harna geram karena ulah Riko.
"Ck. itu dasarnya aja si Riko Cemen." Harlan meledek Riko yang sudah menampilkan wajah masam.
"Kalau begitu kamu jangan mau di lamar, sebelum dia ketemu dengan kedua orang tuamu, enak saja mau anak nya tapi tidak mau menemui orang tuanya." Harna mendelik ke arah Riko.
"Gak gitu juga dong mah, Mama sama aja kaya Indira, suka ngompori Rere." Riko mendengus kesal melihat mamanya yang sebelas dua belas dengan Indira.
"Bagus kalau begitu, kamu jangan mau di lamar sama dia, lebih baik Mama kenalin kamu sama anak temen mama yang lebih gentel dari pada Riko." Harna suka sekali membuat putranya itu kesal dan uring-uringan.
Rere yang melihat kelakuan calon mertuanya pun hanya tersenyum tipis, ternyata keluarga Riko adalah keluarga yang hangat dan humoris.
Tidak menyangka bahwa dirinya dipertemukan dengan Riko, meskipun Riko tipe pria tengil tapi Rere bisa melihat keseriusan dan cinta di kedua bola mata Riko.
Mereka berbincang dengan menyantap menu makan siang, ini pertama kali Rere duduk di antara keluarga kekasih nya, jika dulu Rere tidak pernah di kenalkan dengan keluarga mantan padahal mereka sudah dua tahun menjalin hubungan namun kekasih Rere banyak alasan ketika Rere meminta ingin bertemu dengan keluarga si pria, dan ternyata si pria malah sudah bertunangan dengan wanita lain yang dijodohkan oleh kedua orang tuanya.
.
.
"Sayang.." Allan menghampiri Indira yang sedang duduk di kursi kerjanya. Jam makan siang Allan mendatangi butik istrinya untuk makan siang bersama.
"Abang." Indira berdiri dan langsung memeluk tubuh tegap suaminya, kebiasaan selama hamil Indira juga terkadang posesif.
Allan mendaratkan kecupan di kening dan pipi Indira, terakhir menyesap sebentar bibir yang selalu membuatnya candu.
"Abang bawakan makanan kesukaan kamu, ayam geprek tempat langganan kamu." Allan mengurai pelukan istrinya, membawa Indira menuju sofa di ruangan itu.
"Em..tau aja kalau aku lagi pengen." Indira senang, mata nya berbinar ketika melihat potongan ayam yang di balut dengan sambal yang menggugah selera.
"Tenang saja kami kuat calon papa." Indira menirukan suara anak kecil.
Allan hanya terkekeh. "Kamu memang kuat, tapi kasian si dedek jika kepedesan di dalam sana."
"Candaan Abang gak lucu." Indira mencebikkan bibirnya dengan senyum.
"Gak lucu tapi bisa bikin kamu senyum" Allan menarik hidung kecil Indira.
"Em.. mau disuapin." Pinta Indira dengan wajah memelas.
"Demi tuan putri dan calon pewaris, Abang akan suapi." Indira tergelak mendengar candaan Allan.
Keduanya menikmati makan siang dengan diselingi obrolan yang membuat keduanya kadang tertawa.
.
.
"Mbok nah, lusa dirumah akan mengadakan acara syukuran jadi mbok nah bantu saya untuk mempersiapkan segala sesuatunya." Ucap Lili yang sedang membantu mbok nah menyiapkan makan malam.
"Syukuran buat bayi neng Dira nyonya?" Tanya mbok nah.
"Iya mbok, Allan ingin mengadakan syukuran dan memberikan santunan kepada anak yatim."
"Baik nyah, mbok nah akan senang hati membantu."
Lili dan mbok nah nampak antusias membuat list apa saja yang di butuhkan, meskipun menggunakan jasa katering Lili dan mbok Nah akan tetap memantau kualitas yang akan di pakai, karena tamu nya nanti adalah anak-anak yatim piatu dari panti asuhan yang kurang mampu.
.
.
Sore hari Allan menjemput Indira di butik, karena Rere yang tidak kembali di bawa oleh Riko, alhasil Indira harus stanbay seharian di butik. Meskipun begitu, Indira malah nampak senang dan semangat karena berada di luar rumah dan berinteraksi dengan pengunjung butik membuatnya tidak bosan.
"Sayang kamu sudah siap." Allan merangkul pinggang Indira ketika sampai diruang kerja Indira.
"Sudah, kita langsung pulang." Indira mengecup pipi Allan membuat Allan tersenyum senang.
"Tentu saja, apa kamu ingin pergi kesuatu tempat?"
"Emm..sepertinya tidak, Oya apa persiapan syukuran sudah lengkap."
Kini keduanya berjalan keluar butik menuju mobil Allan yang terparkir. Indira masuk kedalam mobil ketika Allan membukakan pintu.
"Kata mama sudah beres, tinggal menunggu hari H nya saja." Allan duduk di kursi kemudi, mengunakan sealtbeat dan menghidupkan mesin mobilnya.
Mobil Allan berbaur dengan mobil lainya di jalan, Allan mengendarai dengan kecepatan sedang.
"Padahal aku ingin bantuin mama, tapi malah semua sudah beres."
"Tidak perlu sayang, kamu cukup diam dan nurut sama aku." Allan mengusap kepala Indira, dengan senyum yang selalu membuat Indira terpesona, senyum khusus yang Allan tunjukan kepada istri tercintanya.
"Abang jangan liatin aku terus, Abang lagi nyetir.." Indira mengingatkan Allan untuk fokus kedepan, karena Allan sedang menatap kearahnya.
"Abang awas..!!"
Braakk