
"Emmph."
Indira meronta mencoba melepaskan diri dari pria itu.
"Maaf." Allan menatap wajah gadis yang sedang meneteskan air matanya, dirinya seketika merasa bersalah ketika melihat air mata gadis itu mengalir.
Indira hanya diam menatap wajah pria yang tiba-tiba datang dan langsung menyerang mencium bibirnya dengan paksa, tatapan kekecewaan dan kemarahan yang ia tunjukan kepada Allan.
"Maafin Abang Dira." Allan meraih tubuh gadis itu untuk ia peluk. Indira meronta dengan air mata yang mengalir, tetapi Allan semakin mengeratkan pelukan nya. " Abang sadar bahwa Abang menyayangi dan mencintaimu, maaf kan Abang." Allan semakin mengeratkan pelukan nya ketika berucap dan gadis itu tetap berontak.
Indira tidak menghiraukan ucapan Allan, karena dirinya cukup kecewa dengan tindakan perlakuan Allan kepadanya, selama ini dirinya sangat menghargai dan menganggap Allan sebagai kakak nya, tidak pernah dirinya membayangkan bahkan berfikir jika Allan mempunyai perasaan kepadanya.
Ketika Allan merasa gelisah memikirkan perasaan nya kepada Indira, dirinya sudah merasakan ketertarikan dan ingin memiliki gadis itu. Dirinya tidak perduli jika usia mereka terpaut cukup jauh, tetapi yang namanya perasaan dan cinta tidak bisa memilih kepada siapa akan berlabuh.
Allan sudah tidak bisa menyembunyikan perasaan nya, dirinya merasa tersiksa jika terlalu lama memendam perasaan dan tidak segera ia ungkapkan, pukul setengah sebelas Allan keluar rumah dengan mengendarai mobilnya, dirinya sudah bertekad untuk mendatangi rumah Indira dan ingin memberi tahu perasaan yang ia miliki kepada gadis itu.
Ketika sampai didepan rumah gadis itu, Allan memakirkan mobilnya sedikit jauh, tetapi dirinya bisa melihat ketika gadis yang sudah memporak porandakan hatinya sedang bersama seorang pria, dada Allan merasa panas dan cengkraman tangan di setir kemudi kian erat ketika melihat cowok itu mencium kening Indira dan memeluk nya. Darahnya mendidih sampai keubun-ubun, dirinya tidak suka jika miliknya, ralat calon milik nya disentuh oleh pria lain.
Setelah melihat Indira masuk rumah dan pria itu pergi, bahkan Allan tidak bisa melihat dengan jelas siapa pria itu, dirinya segera melajukan mobilnya masuk dalam perkarangan rumah gadis itu.
Mengetuk pintu, Allan dengan dada yang masih bergemuruh karena cemburu sehingga ketika pintu dibuka ia segera menyerang gadis itu dengan mencium bibir Indira penuh akan meluapkan perasaan nya.
"Lepas..!" Indira tetap masih berontak dirinya tidak tahu harus berbuat apa, karena kejadian barusan cukup membuatnya syok.
"Tidak, sebelum kamu maafin Abang." Allan tetap kekeh memeluk gadis itu semakin erat.
"Lepas Abang." Suara Indira pelan dan terdengar serak karena menahan tangis.
Allan yang mendengar suara serak Indira segera melonggarkan pelukannya.
Plak
Satu tamparan Indira layangkan ke wajah Allan ketika ia bisa lepas dari Allan.
"Abang keterlaluan, gue benci dan kecewa sama Abang." Indira menatap tajam wajah Allan dengan amarah. "Gue pikir loe orang yang baik, tetapi gue salah, loe sama aja seperti pria baj*ngan diluaran sana." Indira berucap dengan keras, amarah dan kekecewaan bercampur jadi satu.
"Maafin Abang Dira, Abang cemburu melihat kamu dengan pria tadi, dada Abang sesak Dira." Allan mencoba bicara dengan apa yang ia rasakan sekarang.
"Loe bukan siapa-siapa gue, jadi sekarang Loe pergi dari sini.!" Sentak Indira dengan penuh amarah, dirinya tidak perduli jika Allan adalah anak dari Oma Lili yang begitu baik dan tulus kepadanya.
Allan terpaku melihat tatapan kemarahan dan kekecewaan Dimata Indira, dirinya terlalu bodoh dengan tindakan yang ia lakukan karena cemburu.
"Abang minta maaf, Abang salah." Lagi dan lagi hanya kata maaf dan penyesalan yang Allan ucapkan.
"Loe udah gue anggep seperti Abang gue sendiri, tapi bukan berarti loe bisa mainin gue seenaknya." Begitulah Indira meskipun hatinya lembut tetapi sifat keras kepala dan bar-bar nya tidak akan hilang, dirinya merasa seperti wanita murahan.
"Pergi..!"
Allan hanya menggeleng, dirinya tidak akan pergi sebelum gadis itu memaafkan nya.
"Awwss." Allan memekik dan mengibaskan tangan nya yang digigit oleh Indira.
"Loe keterlaluan Abang." Murka Indira dengan napas memburu.
"Terserah!" Allan berteriak keras hingga membuat Indira terkesiap.
Allan menatap tajam Indira, dirinya sudah mencoba bersabar tetapi gadis itu masih saja keras kepala. " Kamu ingin berteriak dan agar orang-orang datang mengira saya telah melecehkan kamu. " Allan maju mendekati gadis itu hingga reflek kaki Indira melangkah mundur dengan wajah takut melihat tatapan Allan yang begitu marah.
"Oke, saya akan lakukan seperti yang ada didalam otakmu itu." Allan menyeringai tipis melihat wajah panik Indira.
"A-abang m-mau apa?" Indira terbata tubuhnya jatuh diatas sofa dengan wajah pucat karena panik.
"Mau ngelakuin seperti yang kamu pikirkan." Allan mencondongkan tubuhnya kedepan tangan nya menarik belakang leher Indira dan bibir mereka kembali bertemu, Indira memejamkan mata tangan nya mencoba mendorong dada Allan tetapi pria itu tak bergeming.
Ciuman Allan lembut dan penuh perasaan berbeda dengan tadi ketika langsung menyerang Indira, Indira mulai pasrah ketika usahanya memberontak tidak berhasil malah membuat tenaganya habis. Dirinya hanya diam tanpa harus tau harus berbuat apa ketika bibir kenyal dan hangat Allan menyapa bibirnya.
Karena gemas Allan sedikit menggigit bibir bawah Indira dan gadis itupun meleguh membuka mulutnya sedikit, Allan tidak menyia-nyiakan kesempatan lidahnya mengapsen rongga mulut Indira dengan napas memburu. Indira mencoba membalas meskipun yang pertama baginya tetapi dirinya sudah mulai terhanyut oleh permainan bibir Allan.
Pelan tapi pasti mereka berdua saling bercumbu dan menikmati ciuman bibir mereka, Allan mencecap, menyesap bahkan lidah mereka saling membelit, anggap saja pemanasan dan Allan adalah gurunya. eeaaa😂
"Eghh.." Leguhan Indira membuat dada Allan kembali bergejolak sesuatu dibawah sana sejak tadi sudah membuatnya merasa sesak. tangan nya yang berada di leher gadis itu kini turun merayap ke punggung dan berhenti di pinggang gadis itu.
Tanpa melepas tautan bibirnya, Allan mengangkat tubuh Indira hingga dia yang duduk dan Indira berada diatas kedua pahanya dalam posisi berhadapan.
Allan menatap wajah Indira yang memerah karena marah, malu menjadi satu dadanya naik turun seakan berlomba menghirup udara sebanyak-banyaknya.
"Abang mencintaimu." Meskipun jantungnya berpacu dengan cepat napas nya memburu, Allan kembali meraup bibir gadis itu dengan semangat. Gerakan Allan begitu lihai kali ini gerakan bibirnya sedikit kasar, dengan perasaan yang menggebu dan nampaknya gadis itu mulai menikmati permainan nya.
Tangan Allan merayap mengelus punggung Indira, menyelinap kedepan berada dibalik baju yang gadis itu kenakan. Tubuh Indira meremang merasakan telapak tangan Allan yang hangat menyentuh kulitnya rasa yang belum pernah ia rasakan kini menjalar disekujur tubuh nya. Tangan nya ingin berontak tetapi dengan cepat sebelah tangan Allan menangkap kedua tangan kecilnya.
Ciuman keduanya semakin intens, Allan menaruh kedua tangan gadis itu dipundak nya. kini bibir Allan beralih menyusuri leher jenjang nan putih Indira. Leguhan kecil dan sedikit erangan keluar dari mulut Indira ketika Allan dengan menggigit kecil leher gadis itu, tidak meninggalkan bekas di area terbuka karena Allan masih sadar jika gadis ini besok masih sekolah.
Indira yang sudah terhanyut oleh rasa yang baru pertama ia rasakan hanya pasrah menikmati sesuatu yang membuat darahnya berdesir dan sekujur tubuhnya meremang. Pengalaman pertama yang memabukkan Oh Tuhan apakah ini yang dinamakan surga dunia. ehhh
Ketika tangan Allan menyentuh kedua gundukan kembarnya semakin membuat Indira kehilangan akal, akal sehatnya sudah berhamburan kemana-mana dirinya sudah terbawa oleh permainan Allan.
"Egh.. shh.." Indira mendesis ketika sesuatu yang hangat menempel dikulit dadanya, hingga sesuatu dibawah terasa berkedut. karena kesadaran nya sudah melayang yang ia rasakan hanya menikmati rasa baru yang memabukkan.
Cukup lama Allan bermain dikedua buah semangka yang masih sangat mengkal itu, dirinya sangat tahu jika ini pertama bagi gadis itu. cukup banyak Allan memberikan tanda merah di dada gadis itu. Diarea tertutup hingga Indira tidak perlu malu jika bertemu dengan para sahabatnya.
Allan menatap wajah lelah dan sayu Indira, meskipun dirinya menahan gejolak rasa ingin sesuatu yang lebih, tetapi kesadaran sudah menariknya kembali.
Allan menggendong tubuh Indira menuju kamar gadis itu. Melihat mata Indira yang sudah terpejam dirinya tersenyum geli. "Menggemaskan." Allan mengecup gemas bibir yang sedikit terbuka dan bengkak karena ulahnya. "Terlalu bersemangat membuat bibir manis mu seperti ini." Ibu jarinya mengusap pelan bibir bengkak Indira.
"Istirahatlah my swety." Allan ikut merebahkan tubuhnya disamping gadis itu tangan melingkar posesif di perut Indira, jam sudah menunjukan tengah malam dirinya enggan meninggalkan gadis manis yang sudah membuat hatinya ketat-ketir.
"Maafin Abang."