
"Siapa nama gadis yang beruntung dapetin ponakan tampan Om ini?" Allan menepuk kepalanya pelan.
Tersenyum tipis jika mengingat kembali gadis itu. "Namanya...Aya."
"Hem.. sepertinya kamu sudah jatuh cinta kepadanya?"
Dan obrolan mereka tetap berlanjut membahas apa saja yang menurut mereka asik hingga tanpa mereka sadari gadis yang menjadi tambatan hati mereka adalah gadis yang sama. Indira Cahaya Putri adalah nama gadis yang menguasai relung hati mereka berdua, Imo yang tak lain adalah Bimo Bagaskara sang keponakan Allanaro Putra Aditama.
Takdir membawa mereka kedalam hubungan yang mungkin rumit karena Om dan keponakan harus bersaing demi mendapatkan gadis yang mereka inginkan.
Biarlah waktu yang menentukan kepada siapa hati Indira akan berlabuh, bisa Bimo sahabat ternyaman nya, ataukan Allan pria dewasa yang lumayan mesum.
...................................
Tidak terasa waktu ujian sekolah tinggal menghitung hari lagi, dirinya masih melakoni pekerjaan yang diberikan Allan membantu menjaga Oma Lili dan menemani wanita itu hingga Allan pulang dari kantor. Sebenarnya Indira merasa berat harus menunggu Allan pulang dari kantor, karena pria itu sering mengulur-ulur waktu ketika dirinya hendak pulang.
"Gila.. gak kerasa bentar lagi ujian dan gue akan lulus." Indira menatap gedung sekolah yang menjulang didepan matanya, dirinya baru sampai tetapi keadaan sekolah masih sepi, karena ia berangkat lebih pagi untuk menghindari Allan yang setiap pagi selalu nongkrong didepan rumahnya.
Indira menarik napas panjang. "Bahkan gue belum tau mau ngapain setelah lulus." Dengan wajah masam Indira berjalan menuju kelas.
Dari arah belakang seseorang berjalan dengan mengendap-endap agar tidak menimbulkan suara. Ketika sampai lebih dekat dengan gadis itu, seseorang menyekap hidung Indira dengan menggunakan sapu tangan.
"Emph..emph.." Indira berontak tetapi tenaganya semakin lama semakin berkurang dan pandangan nya mulai mengabur.
Indira dibawa dua orang pria kesebuah gudang dibelakang sekolah yang tak terpakai, bahkan mungkin tidak ada orang yang akan kesana.
"Kerja bagus, sekarang ikat dia jangan sampai lepas." Ucap seseorang menyuruh dua orang itu mengikat tangan dan kaki Indira.
"Beres bos." Setelah mengikat Indira pria itu mengadahkan tangan nya.
"Ck. ingat tutup mulut kalian." Ucap orang itu dengan memberikan sebuah amplop coklat.
"Beres, tenang saja." Dan kedua pria itu pergi.
"Loe udah gue beri peringatan, tapi loe nya aja yang bandel, sekarang rasain akibatnya." Orang itu menatap benci dan pergi meninggalkan Indira sendiri, dengan keadaan kaki dan tangan terikat tidak sadarkan diri.
........................
Kiki dan Arum mencari-cari dimana sahabatnya itu, tidak biasanya Indira bolos sekolah dan tidak memberi mereka kabar. Ponsel Indira pun aktif tetapi tidak diangkat oleh gadis itu.
Kiki dan Arum berlari menuju kantin tujuan mereka adalah mencari Bimo Cs untuk minta bantuan.
host
host
host
Napas kedua gadis itu naik turun tak beraturan ketika sudah sampai didepan meja Bimo Cs.
"Duh neng kenapa pake lari-lari sih, kayak dikejar anjing aja?" Tanya Raka yang lebih dulu melihat Arum dan Kiki sebelum sampai tempatnya.
"Loe kenapa pada ngos-ngosan begitu, abis liat hantu."
"Ogeb.. mana ada hantu siang bolong begini Jing." Guntur menoyor kening Jingga.
"Indira...Indira menghilang." Ucap Kiki terputus-putus karena napas nya masih belum teratur.
"Loe kalo ngomong yang bener, gak usah prank Kiki Mariki." Tegur Guntur.
"Indira.. tidak ada dikelas, telpon juga gak dia angkat, padahal gak biasanya dia seperti ini." Arum yang sudah tenang bisa berbicara.
"Loe yakin Indira hilang." Resa memastikan.
"Apa muka gue sedang berbohong." Arum nyolot ketika Resa tidak mempercayainya.
"Sabar mbak bro.. woles jangan emosi." Redam Raka yang sudah mencium bau-bau Percikan emosi.
"Kita cari keseluruh sekolah." Bimo segera berlari kemanapun tempat yang ada di gedung sekolah itu, berharap Indira berada di salah satu tempat itu.
Mereka semua berpencar untuk mencari Indira, Resa menarik tangan Arum agar mereka mencari berdua. Dan Kiki lebih memilih mengikuti Raka, sedangkan Guntur dengan Jingga.
Mereka menyusuri semua tempat mulai dari yang ramai dikunjungi para murid hingga tempat yang jarang dikunjungi, tetapi hasilnya nihil, dan posisi ketika Indira dibius tidak terlihat oleh jangkauan cctv.
Bimo terus mencari setiap ruangan ia datangi dan periksa tangan nya menggenggam ponsel untuk menghubungi Indira tetapi hasilnya tetap sama nihil.
"Si*al Lo dimana Ay." Dada Bimo bergemuruh pikiran nya mulai tidak tenang hal negatif pun berkelebatan didalam pikiran nya. "Gak..loe gak mungkin kenapa-napa Ay, gue yakin."
Bimo menyakinkan dirinya jika fikiran negatifnya tidak benar. Ia masih berlari mencari keberadaan Indira, dirinya menuju ketoilet rusak yang berada dipojok sekolah.
Brak
*Si*al." Bimo mengumpat bukan nya menemukan Indira dirinya malah melihat adegan live sepasang siswa/i mesum.
"Woy..Bang*at loe." Teriak seorang siswa yang terganggu karena ulah Bimo.
"Loe dimana Ay.." Wajah nya sudah dipenuhi keringat dadanya naik turun karena berlari hingga membuat nafasnya memburu.
"Kalian menemukan nya?" Bimo melihat para sahabat nya yang sedang berdiri di pertigaan lorong sekolah, dan mereka pun hanya menggeleng kan kepala.
"Arrghh si*al." Bimo berteriak menjambak rambutnya prustasi karena belum menemukan Indira.
"Gue udah periksa Cctv-nya tapi tidak terlihat Indira disemua area cctv." Resa yang pergi pertama kali menuju ruang cctv bersama Arum, beruntung petugas yang menunggu sedang berada di toilet sehingga dirinya bisa leluasa menggunakan cctv itu.
"Kita udah periksa kesemua tempat yang tidak pernah dikunjungi siswa tapi juga tidak ada." Tambah Guntur yang diangguki juga oleh Raka.
"Lalu kemana Indira pergi, bahkan tadi sempat ada yang melihat Indira masuk sekolah, tetapi mereka tidak tahu lagi kemana perginya Indira." Kiki berpelukan dengan Arum, mereka berdua sudah menangis mengingat sahabatnya menghilang dan belum ditemukan.
"Resa coba loe lacak GPS ponsel nya masih aktif." Ucap Jingga yang masih encer idenya.
Bimo yang sedang kalut tidak berfikir jika bisa melacak keberadaan Indira melalui ponsel. "Buruan Res loe lacak." Bimo menatap Resa dengan wajah prustasi.
Resa mengeluarkan laptop yang berada ditas gendongnya, kebetulan cowok itu sedang membawa tasnya, karena biasanya ia akan menaruhnya dikelas.
Resa segera mengotak-atik laptopnya dan Arum mencoba menghubungi nomor Indira yang masih aktif.
"Gimana Res..?!" Tanya Bimo tak sabaran, dirinya takut dan khawatir jika terjadi sesuatu kepada Indira.
"Sabar Bim." Resa masih fokus dengan laptop yang menyala memperhatikan titik merah lokasinya dimana.
Mereka semua harap-harap cemas hanya dengan cara terakhir ini mereka bisa menemukan Indira.
"Ketemu..!!" Resa berteriak ketika titik merah itu berhenti disebuah tempat.
"Cepat kasih tau Res."