
Sudah menjadi rutinitas setiap hari Indira mendapat perlakuan mesum suaminya, Allan selalu saja berulah ketika berdekatan dengan istrinya apa lagi sekarang Indira yang nampak memiliki tubuh lebih seksi dari sebelumnya, bagian-bagian yang menonjol kini bertambah padar dan Mon*tok, Allan selalu tidak puas jika hanya menyentuh istrinya hanya sekali.
kegiatan Indira sudah berkurang semenjak kejadian dimana dirinya harus dilarikan kerumah sakit dan sekarang yang bertanggung jawab di butik ia percayakan kepada Rere. Indira hanya tiga kali dalam seminggu mengunjungi butiknya untuk memberi desaine baru atau hanya sekedar untuk mensurvei keadaan toko.
Allan sudah memberi larangan kepada Indira, jika dirinya tidak boleh terlalu capek mengurusi butiknya dan yang terpenting Indira masih bisa menyalurkan hobi dan keinginan nya. karena bagi Allah adalah kesehatan Indira paling penting. jika untuk mencari uang sudah pasti Allan bisa mencukupi semua kebutuhan istrinya, Allan juga tidak akan mengekang istrinya yang memiliki cita-cita sebagai perancang busana, Allan hanya sedikit membatasi dan memilah job customer yang tidak terlalu banyak, agar waktu Indira tidak terkuras oleh pekerjaan nya.
Pagi ini Allan sudah lebih dulu bangun ketimbang Indira, biasanya istrinya itu ketika bangun untuk melakukan kewajibannya tidak akan kembali tidur lagi dan lebih memilih menyiapkan keperluan suaminya dan memasak untuk sarapan pagi, tapi sekarang istri cantik nya nya itu masih meringkuk di bawah selimut.
Allan yang melihat istrinya masih terlelap hanya geleng kepala, mungkin saja istrinya masih kelelahan akibat pertempuran panas tadi malam, kadar ke mesum-an Allan tidak berkurang, malah semakin semangat ketika melihat tubuh istrinya yang semakin Mon*tok dan padar berisi.
Allan memakai pakaian yang ia ambil dalam lemari karena Indira tidak menyiapkan pakaian kerjanya, setelah selesai dan rapi Allan menghampiri istrinya yang masih anteng dibawah selimut tebal.
"Sayang..apa kamu tidak mau memberiku semangat pagi." Allan mengelus bahu istrinya yang tidur menyamping.
"Ck, kenapa dia ini menjadi kebo begini sih kalo lagi tidur." Allan berdecak, biasanya Indira akan cepat merespon ketika dirinya berbisik dan mengelus tubuh Indira, tapi tidak untuk sekarang bahkan Allan sedikit mengguncang lengan istinya hasilnya tetap sama.
"Sayang..hey.."
cup
cup
cup
Allan menciumi seluruh wajah Indira, bahkan Allan menyesap bibir Indira berharap istrinya itu bangun, dan berhasil Indira mengeliat dan membuka mata.
"Abang.." Indira mendorong tubuh Allan agar mundur. "Minggir abang."
"Kenapa?" Allan menggeser duduk nya dan Indira segera duduk.
"Abang pake parfum apa sih, bikin enek tau gak." Indira menutup mulut dan hidung nya ketika ia mencium bau menyengat.
"Abang lake parfum biasanya lah, emang kenapa?" Tanya Allan dengan mengendus-endus baju nya.
"Bau nya gak enak bikin Eku enek, dan_ uwekk." Indira menutup mulut nya dengan kedua tangan nya, dan berlari kekamar mandi.
"Sayang, kamu kenapa?" Allan panik melihat istrinya lari kedalam kamar mandi dan menutup mulutnya. "Kamu sakit." Allan membatu memijit tengkuk istrinya pelan, ketika Indira berusaha memuntahkan sesuatu."
"Egh... Abang minggir, aku tambah mual mencium bau Abang." Indira dengan lemas mendorong dada Allan.
"Biasanya kamu suka bau parfum Abang, kenapa sekarang kamu jadi gak suka sih." Allan masih mencium bau parfumnya yang memang wanginya masih sama.
"Gak tau, sekarang aku gak suka wanginya." setelah mencuci wajah dan mulutnya Indira keluar dengan wajah lemas dan sedikit pucat.
"Sayang kamu sakit, aku antar ke dokter." Allan panik dan khawatir, melihat wajah pucat istrinya, ingatannya kembali dimana Indira pingsan dan dilarikan kerumah sakit.
"Aku gak apa-apa bang, cuma lemes, terus pengen makan Laper?" ucap Indira dengan cengengesan.
"Habis muntah kamu lapar?" Tanya Allan tak percaya.
"Kamu kenapa sih aneh gini." Meskipun kesal karena harus mengganti baju lagi, tak urung Allan pun mengikuti kemauan sang istri.
.
.
"Abang, aku mau makan bubur ayam yang Deket rumah aku." Indira duduk di meja makan dengan Allan yang sedang menyuapkan nasi goreng kedalam mulutnya.
"Bubur ayam?" Tanya Allan, karena yang Allan tau Indira tidak suka dengan makanan yang lembek itu.
Indira mengangguk dengan cepat dengan wajah imut. "Bukanya kamu gak suka makan bubur, kamu lebih suka makan ayam geprek." ucap Allan yang memang tahu makanan kesukaan istrinya.
"Tapi aku pengen Abang, sekarang." Wajah Indira sendu dan matanya sudah berkaca-kaca.
"Iss..kenapa pake wajah sedih gitu sih, iya Abang beli-in."
"Sekarang Abang ayo, nanti ke buru habis." Indira berbinar dan menarik tangan Allan untuk berdiri.
"Duh..tunggu bentar yank, aku habisin dulu makan nya." Allan masih ingin menyuapkan nasi goreng kedalam mulutnya, namun Indira lebih dulu mencegahnya.
"Abang..ihhh nanti keburu habis." Indira kembali menarik Allan, dan mau tidak mau Allan terpaksa menyudahi sarapan nya langsung minum dan mengikuti kemauan istrinya yang tiba-tiba manja.
Allan tidak percaya melihat Indira makan bubur habis dua mangkuk, sekali makan.
"Kamu beneran lapar apa doyan." Allan hanya geleng kepala.
keduanya sudah sampai di gerobak penjual bubur di dekat gang rumah Indira, dan ketika sampai ternyata buburnya tinggal dua porsi dan Indira memesan semua untuk dirinya, kini dua mangkuk itu tandas oleh nya.
"Kok jadi kenyang ya." Indira menyengir setelah minum air putih.
"Gak sekalian kamu makan mangkok nya yang?" Tanya Allan menyindir. karena melihat cara makan Indira yang lahap dan habis bersih tanpa sisa bahkan Indira menji*lati sendok yang masih ada sisa bubur nya dengan bersih.
"Hehe, habis enak sih." tanpa rasa malu Indira tertawa.
"Yasudah Abang mau ke kantor, ayo Abang antar pulang." Allan berdiri mengeluarkan uang dalam dompetnya untuk membayar.
"Aku mau ikut Abang." Ucap Indira ketika keduanya sudah duduk didalam mobil.
Allan tertegun sejenak oleh permintaan istrinya. "Tapi kamu nanti bosan yank, seperti yang sudah-sudah." Allan mengingatkan Indira ketika dirinya ikut ke kantor Allan hanya cemberut dan menggerutu kerena merasa bosan padahal dia sendiri yang mau ikut, disuruh pulang pun tidak mau, dan malah membuat Allan pusing.
"Tapi aku pengen ikut Abang." Indira merengek seperti anak kecil bahkan mata nya kembali berkaca-kaca.
Allan tidak percaya melihat tingkah istrinya yang aneh, bahkan Indira bukan wanita yang mudah cengeng. "Jangan sedih gitu sih, iya..iya kita ke kantor sekarang." Allan mengelus kepala Indira dan mengecup keningnya.
Mendengar ucapan Allan membuat Indira senang bukan kepalang.
Kini mobil Allan bergerak menuju kantor, dirinya hanya memikirkan bagaimana ia akan dibuat pusing lagi oleh istrinya itu.