Pembantuku Canduku

Pembantuku Canduku
Part50


"Oma, Oma capek." Indira duduk dikursi taman disamping Oma, kini waktu sudah sore tetapi Oma belum mau pulang dan malah meminta untuk ditemani ketaman bermain anak. Bimo sedang kesupermarket terdekat untuk membeli minuman.


Banyak pengunjung yang datang sore ini, mereka membawa anak-anak nya bermain di taman dengan banyak macam permainan.


"Oma senang, bisa kesini ditemani kalian, dulu Oma sering kesini membawa Leina dan Allan." Lili bercerita tentang masa lalu ketika Leina dan Allan masih anak-anak.


"Jadi sekarang ceritanya Oma mengenang masa kecil anak-anak Oma." Indira berkata dengan senyum, membuat Lili tertawa.


"Yah, begitulah..tetapi sekarang mereka sibuk dengan urusan mereka masing-masing, sehingga Oma hanya sendiri merasa kesepian hingga datanglah kamu sebagai teman Oma."


"Masa Oma-oma temanya gadis ABG." Indira mencibir dengan nada meledek.


Oma tertawa dan mencubit pipi Indira gemas. "Habis mau gimana lagi Oma sudah jatuh hati ketika pertama melihatmu menolong Oma."


Indira hanya nyengir menampilkan gigi rapi nya. "Indira juga beruntung bisa bertemu Oma, sangat beruntung malah."


"Sayang apa kamu ingin melanjutkan sekolah Disainer mu?" Lili bertanya dengan menatap wajah Indira serius.


"Itu cita-cita Indira Oma." Jawabnya dengan wajah berbinar.


"Oma bisa membantu kamu, Oma akan bicara kepada Al, biar kamu bisa melanjutkan sekolahmu." Lili menawarkan bantuan.


"Tidak usah Oma, Dira sudah cukup merepotkan Abang, hutang Indira sudah banyak dengan Abang." Ucapnya dengan wajah sendu.


"Hutang? Hutang apa sayang." Lili menggenggam tangan Indira lembut tatapannya menunggu jawaban.


"Oma tahu kemarin Dira dibawa sama rentenir itu, dan Abang yang membatu Indira keluar dari rumah bordir yang ingin menjadikan Indira pela*ur, dan disitu Abang datang menolong dan membebaskan Indira dengan tebusan uang."


Mendengar ucapan Indira membuat Lili terkejut, bahkan sudah meneteskan air mata. "Maaf Oma tidak tahu Masalah yang kamu hadapi sayang, beruntung Al menolongmu." Lili memeluk Indira dengan sayang.


Indira hanya tersenyum dirinya tidak lagi sedih, karena baginya kesedihan dikejadian itu sudah berlalu dan digantikan dengan menghadapi kesedihan yang baru. 'Kenapa harus aku yang harus bersedih' Indira.


"Tidak apa Oma, sekarang Dira baik-baik saja, yang hanya Dira pikirkan adalah menjadi pelayan dirumah Abang, itulah bayaran yang harus Indira lakukan atas permintaan Abang."Indira berucap dengan senyum tulus.


Dirinya tidak keberatan jika harus bekerja seumur hidupnya untuk mengganti uang yang Allan keluarkan untuk dirinya.


"Oma masih betah disini." Bimo datang dengan membawa dua botol minuman untuk Oma dan Indira.


"Oma masih mau mengenang masa lalu bemo."


mendengar ucapan Indira membuat mereka tertawa.


............................


Sudah hampir satu bulan hubungan Indira dan Allan kian menjauh dan dingin, Indira yang datang dipagi hari masih bisa melihat Allan dimeja makan, meskipun mereka tidak saling melihat atau pun menyapa, tapi Indira juga tidak tahu harus berbuat apa, mereka terasa canggung dan kembali tidak mengenal, kehangatan yang mereka dulu ciptakan kini hanya menjadi masa lalu.


Teman wanita Allan semakin sering mengunjungi Lili, bahkan ketika Allan dikantor gadis itu juga datang kerumah. Indira yang tahu jika Siska tidak menyukainya hanya bersikap biasa saja, karena dirinya memang tidak ada urusan dengan Siska.


Lili sampai bingung dengan perubahan sikap Allan, kebiasaan yang dulu ketika Leona pergi meninggalkan nya untuk selamanya kini kembali Lili lihat dari Allan. Padahal sejak Indira datang kerumah ini, Allan sudah berubah menjadi hangat dan selalu pulang tepat waktu, tidak seperti sekarang yang bertambah seperti pria penggila pekerjaan.


"Al.." Lili mendatangi kamar putranya yang sudah menunjukan pukul 10malam dan Allan baru pulang.


Allan yang sedang ingin memakai baju segera ia lakukan dan menghampiri Mamanya yang berdiri didekat pintu.


"Masuk ma." Allan berucap dan membawa Lili duduk disofa.


Lili mengelus kepala putranya dengan sayang, dan mencium keningnya.


"Apa kamu punya masalah dikantor? akhir-akhir ini Mama lihat kamu semakin sibuk dan lupa waktu pulang." Ucap Lili dengan memandang wajah putranya yang nampak guratan lelah, mata Allan menyiratkan akan kesedihan, tetapi lili tidak tahu tentang apa.


"Al sedang sibuk ma, Al mendirikan anak cabang yang sekarang semakin berkembang pesat, jadi Al harus meninjau ataupun mengerjakan nya sendiri, yah meskipun dibantu Jimmy." Allan memang sedang sibuk dikantor anak cabang perusahaan nya yang bertambah maju pesat, sehingga ia disibukkan dengan segudang pekerjaan, ditambah memang dirinya sedang mengalihkan semua pikiran tentang gadis yang selalu hadir dipikiran nya.


"Mama kasihan melihat kamu bekerja keras seperti ini, carilah pendamping agar kamu bisa berbagi keluh kesah mu, meskipun mama bisa mendengarkan tapi punya teman hidup itu lebih baik." Berulang kali Lili mengatakan hal itu, agar putranya memikirkan kehidupan nya sendiri.


Allan tersenyum dan mencium tangan mamanya. "Mama jangan khawatir tentang itu, Al percaya jika jodoh pasti akan datang tepat waktu."


"Kalo kamu tidak membuka hati dan mencarinya mana ada jodoh yang datang." Lili berkata dengan wajah sendu, pikirnya Allan masih mengingat dan mencintai mendiang Leona.


'bukannya Al tidak ingin ma, Al sudah mencintai Indira tapi sayang Bimo lebih dulu memilikinya, Al tidak mau membuat Bimo sedih dan membenci Al, karena kebahagiaan Bimo juga menjadi kebahagiaan Al' Dada Allan terasa kembali berdenyut hatinya perih mengingat sudah hampir satu bulan dirinya tidak bisa menatap dan mendekati gadis yang dicintainya.


Bahkan Allan sekuat tenaga menahan rasa cemburu ketika tak sengaja melihat kedekatan dan kemesraan Bimo dengan Indira.


Dirinya mencoba melepaskan dan merelakan Indira dengan Bimo, tapi hatinya masih terasa sakit setiap kali dirinya menatap wajah Indira yang sampai saat ini selalu ia pikirkan dan rindukan. 'tuhan hukuman apan ini'


"Baiklah mama serahkan semua sama kamu, kamu jangan sampai capek dan sakit." Setelah berucap Lili keluar kamar putranya, menuju kamarnya untuk segera istirahat.


Allan merebahkan dirinya di kasur, menatap langit-langit kamar berwarna putih itu. "Kamu tahu, keadaan ini menyiksaku, apakah kamu juga merasakan nya Ra." Allan mencoba mengingat kembali kebersamaanya dengan Indira, dimana gadis itu pertama kali mengajaknya makan ditempat biasa dipinggir jalan, ketika gadis itu memasak makanan kesukaan nya. dan sekarang dirinya tidak pernah lagi melihat gadis itu tersenyum untuk nya. Bahkan ketika dirinya merindukan maksakan Indira, Allan akan mengirim pesan kepada mbok Nah, untuk menyisakan sedikit untuk nya dan itu semua tanpa sepengetahuan orang lain kecuali mbok Nah, yang selalu menyiapkan makanan ketika Allan pulang ditengah malam.


"Bahkan untuk kembali merasakan masakan mu, aku harus menyuruh mbok Nah menyisikan nya." Allan terkekeh sendiri mengingat kelakuan konyolnya. jika tidak seperti ini maka dirinya takut tidak akan bisa rela jika Indira bersama Bimo.


'Aku akan selalu mencintaimu Ra, meskipun hanya aku sendiri yang memendam perasaan ini' .


.


.


.


.


emak author hilap hingga ngetik jadi satu bab๐Ÿ™ˆ. kalian sungguh luar biasa para pembaca karya receh emak yang baru masuk menulis di NT๐Ÿ˜˜ emak author hanya bisa mengucapkan banyak terima kasih sudah membaca kisah halu bang Alay_dan_Biya disingkat aja biar enak๐Ÿ˜‚. tanpa kalian apalah author receh ini, hanya remukan rengginang dikaleng Khong Guan ๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ. Lope you buat kalian pembaca setia๐Ÿ’–๐Ÿ’–๐Ÿ’–๐Ÿ˜˜