
Huek...huek..
"Sayang aku antar ke dokter ya." Ucap Allan yang tidak tega melihat istrinya sejak bangun tidur terus saja muntah namun tak ada yang di keluarkan.
Indira membasuh wajahnya, menghadap Allan dengan wajah pucat dan tubuh lemas, Allan saja sampai memeluk istrinya.
"Aku tidak apa-apa Abang, nanti juga berhenti sendiri, biasanya juga seperti ini kalau lagi." Ucap Indira merangkul leher suaminya, kepalanya Ia sandarkan di dada bidang Allan.
"Tapi wajah kamu pucat sayang." Ucap Allan khawatir, tangannya menyentuh rambut Indira menyingkirkan dari wajahnya.
"Minum obat nanti juga sembuh sendiri. Ucap Indira yang sudah memejamkan mata, dirinya merasa lemas dan tak bertenaga.
Kehamilan keduanya terasa begitu menyiksanya, Indira mengalami morning Sickness setiap pagi hingga menjelang siang, dan tubuhnya terasa lelah.
Beruntung baby Al tidak rewel, baby yang baru berusia satu tahun itu sedang senang-senangnya berjalan.
Jika pagi seperti ini baby Al ditemani pengasuh dan Mama Lili, karena Indira yang mengalami teler di awal kehamilannya yang kedua, dan akan menemani Baby Al disiang hari hingga malam.
Indira juga sudah tidak memberikan asi pada Al, karena Si kecil sudah tidak mau dengan sendirinya.
"Abang hati-hati ya, jangan lupa makan siang." Ucap Indira pada Allan ketika hendak pergi kekantor.
"Iya sayang, kamu istirahat, jika butuh sesuatu hubungi Abang." Allan mencium kening Indira.
"Hem.." Indira hanya memejamkan mata, karena posisinya berbaring di ranjang dengan setengah duduk.
"Maaf tidak bisa menemani Abang sampai depan." Ucapnya lagi.
Allan tersenyum. "Tidak apa-apa, yang penting kalian sehat." Allan mengelus perut rata Indira.
Dulu dirinya yang mengalami ngidam dan morning Sickness. Allan merasa kasihan pada istrinya, karena dirinya juga pernah merasakannya.
"Yasudah Abang berangkat."
Allan mengecup bibir Indira sedikit memberi luma*tan. Sebelum meninggalkan Indira.
.
.
"Tuan hari ini ada meeting dengan klien di restoran xx." Ucap Jimmy membacakan agenda Allan pagi ini.
"Makan siang tuan, mereka menunggu." Ucap Jimmy lagi.
"Oke." Allan pun membuka laptop karjanya, memulai aktifitas setiap harinya, padahal dirinya ingin pulang ketika jam istirahat, namun malah ada pekerjaan di luar sana.
.
.
"Sayang, kenapa wajahmu pucat sekali?" Tanya Lili yang melihat menantunya turun kebawah menghampiri Baby Al.
"Indira sejak tadi mual dan muntah Mah." Ucapnya duduk di sofa dengan kepala bersandar pada sofa.
"Kenapa tidak istirahat, kasian Mama liat wajah kamu pucat begini." Ucap Lili lagi.
"Dira pengen liat Aldrick bermain Mah, bosan dikamar terus." Ucapnya menegakkan kepalanya meskipun terasa berat.
Baby Al bermain di bawah beralaskan karpet bulu dengan pengasuh yang menemaninya.
"Kan kamu bisa menyuruh suster El, untuk membawa Aldrick ke kamar Nak." Ucap Lili lagi yang masih perihatin dengan keadaan Indira.
Indira mengamati putranya yang begitu aktif dan ceria ketika bermain bola, berjalan tertatih mengejar bola dengan tawa khasnya yang menggemaskan.
"Mah, kenapa Aldrick mirip banget sama Abang, padahal Dira yang mengandung selama sembilan bulan." Tanya Indira pada Lili, Aldrick memang kopian Allan sewaktu kecil dulu, bahkan bagian dari Indira pun tak ada yang menempel di wajah Aldrick.
"Gen laki-laki memang begitu sayang, Allan kecil juga mirip sekali dengan papanya, Mama saja sampai iri karena mereka mempunyai banyak kesamaan." Ucap Lili menatap cucunya yang sedang bermain.
"Tapi Kak Leina mirip dengan Mama." Ucap Indira.
"Ya, beruntung ada Leina yang mengikuti gen Mamat, jika tidak entahlah Mama merasa sendiri." Lili tertawa begitu pun Indira.
Tangannya mengelus perut datarnya. 'sehat selalu sayang'.
.
.
Klik profil author ya.. Ada yang baru dari "Wanita Malam Milik Daddy" 😘😘