
Uhuk...uhuk...
Resa tersedak air yang sedang ia minum ketika mendengar ucapan Arum.
"Pelan Napa Res, kagak bakalan ada yang minta." Ucap Raka sambil menepuk punggung Resa pelan, karena posisi duduk mereka bersampingan.
Sedangkan Arum hanya cuek tanpa peduli manusia robot itu tersedak karena ucapan nya.
Resa hanya menatap Arum datar, setelah dirinya merasa lebih baik. Sungguh susah sekali meluluhkan hati cewek bermulut bon cabe itu, jika cewek lain mungkin hanya mengedipkan mata saja mereka dengan suka rela mendekat kepada nya. Lain hal nya dengan gadis didepan nya ini, keras kepala dan bar-bar itulah sifat Arum.
Sialan memang.
Mereka merayakan pesta ulang tahun Indira dengan penuh rasa bahagia, canda tawa mereka membuat suasana menjadi ramai.
Pesta sederhana yang dibuat oleh para sahabatnya mampu membuat Indira terharu dan masih beruntung disaat dirinya sendiri masih ada para sahabat yang selalu ada untuk dirinya.
Kini jam sudah menunjukan pukul 22:00 malam, mereka semua sudah membubarkan acara itu, Arum yang dipaksa Resa untuk diantar pulang dengan dirinya, karena gadis itu sempat menolak dan lebih memilih Guntur untuk mengantarnya.
Alhasil karena kesal ditolak oleh Arum, Resa pun mengunakan cara ektream untuk membuat gadis itu menurut.
"Loe mau nurut atau gue cium loe sekarang juga." Resa menatap Arum dengan tajam, karena sudah kesal melihat penolakan gadis itu.
Arum membulatkan matanya. "Na*jis!" Ucap nya marah.
Resa yang mendengar umpatan gadis itu geram. Dalam gerakan cepat Resa menarik tengkuk Arum dan mendaratkan bibirnya bertemu dengan bibir Arum. Arum membeku matanya melotot dengan tubuh terasa kaku. meskipun hanya menempel tanpa gerakan tetapi cukup membuat gadis itu terdiam tak berkutik. Resa memejamkan mata, ini adalah tindakan paling ekstrim yang pernah ia lakukan.
"Woowww....mata suci gue ternodai..!!" Teriakan jingga menyadarkan dua insan yang sedang menempelkan bibir mereka, meskipun hanya lima detik tetapi sudah cukup membuat jantung keduanya berlarian dengan kencang.
"Wadidau sungguh pemandangan langka." Ucap Raka dengan wajah syok melihat sahabat nya yang paling dingin itu melakukan tindakan yang menakjubkan.
Arum menunduk dengan wajah memerah, merasa kesal, marah dan malu secara bersamaan. Apalagi tiga pria yang sudah menyaksikan adegan ciuman mereka tadi.
karena Bimo sudah mengantarkan Indira lebih dulu pulang dan kini tinggal mereka berlima, sedangkan Kiki sudah pulang duluan dengan menggunakan taksi online.
Resa segera menarik tangan Arum untuk menaiki motornya. Dirinya bisa menampilkan wajah datar dan biasa saja, meskipun jantung dan hatinya kian bergemuruh hebat. Ini adalah kali pertama dirinya berdekatan dengan wanita kecuali keluarganya, dan tindakan dirinya tadi sungguh diluar kendalinya.
Dan ia segera melesatkan kuda besinya meninggalkan tiga sahabat itu.
"Wah gila si Resa, langsung pake tindakan man." Guntur berdecak kagum melihat kelakuan Resa. para sahabatnya mengenal Resa tidak mudah tergoda oleh seorang wanita meskipun disekolah dan diluaran sana dirinya termasuk pria yang banyak digandrungi wanita.
"Pren gue ngab." Raka tertawa jika mengingat kejadian singkat tadi.
"Cih, gara-gara Resa mata gue udah gak suci lagi." Jingga mendengus tetapi setelahnya tertawa.
Meskipun mereka tampang playboy tetapi mereka juga belum pernah yang namanya first kiss.
"Makasih Bim, udah bikin gue seneng banget malam ini." Indira yang sudah berdiri diteras rumahnya dengan Bimo yang berdiri didepan gadis itu, tinggi mereka sejajar karena Indira berdiri diatas teras dengan Bimo yang hanya berdiri diatas rumput di bawah pijakan teras itu.
Bimo tersenyum. "Sama-sama Ay, gue seneng kalo loe juga seneng." Ucapnya dengan menatap wajah Indira lekat.
"Hem, seneng banget malah." Indira tersenyum lebar mengingat pesta sederhana yang para sahabatnya buat untuk dirinya.
"Ay." Bimo menatap Indira dengan intens.
"Ya..?"
Cup
Bimo mengecup kening Indira dalam dan merangkul tubuh gadis itu masuk kedalam pelukan nya. "Gue sayang, dan cinta sama loe." Ucap nya dengan pelan, hatinya terasa menghangat ketika dirinya mengucapkan kalimat itu.
Indira hanya diam, merasakan kecupan hangat dikening yang Bimo berikan, dirinya tidak tahu harus bicara apa mengenai ungkapan Bimo barusan, karena dirinya yang memang merasa nyaman dan suka bersama Bimo, apakah itu bisa dikatakan cinta.
Entahlah.
Bimo melepas pelukan nya dengan menatap wajah gadis itu lekat. "Udah malem, masuk gih loe harus istirahat besok sekolah." Bimo mengacak rambut Indira pelan, dirinya juga tidak mengharapkan balasan gadis itu, cukup selalu dekat dan melihat gadis itu bahagia sudah membuatnya juga bahagia. Bimo sadar ketika mereka sudah lulus nanti dirinya yang harus melanjutkan sekolah keluar negeri, karena itulah yang ia inginkan, dan untuk menjadikan gadis itu miliknya sekarang maka mereka nanti akan berpisah ketika sudah lulus sekolah, meskipun bisa LDRan tetapi Bimo tidak yakin hubungan mereka akan tetap sama ketika berpisah bertahun-tahun lamanya. Biarlah seperti ini saja sudah cukup membuatnya bahagia, jika nanti dirinya kembali dan gadis itu masih sendiri maka dirinya tidak akan membuang kesempatan itu lagi.
"Hem." Hanya ucapan itu yang keluar dari mulut Indira dirinya menjadi canggung.
"Jangan pernah perubah, gue selalu ada buat loe." Bimo menatap Indira dengan senyum manis.
Indira hanya tersenyum, dan segera berbalik masuk kedalam rumah setelah membuka kunci pintu.
"Gue janji Ay, bakalan kembali buat loe." Gumamnya pelan, dan segera kembali menaiki motornya menuju pulang keapartemen nya.
"Gue sayang sama loe Bim, tapi untuk cinta gue belum tau." Indira mendesah dengan napas panjang, dirinya duduk disofa dengan mata terpejam mengingat ucapan Bimo tadi.
tok
tok
tok
Suara ketukan pintu membuat gadis itu membuka mata, melihat jam dinding yang sudah menunjukkan hampir jam sebelas malam, siapa yang datang malam-malam begini, apakah Bimo belum pergi.
Indira bangkit dan berniat melihat siapa yang datang, ketika dirinya membuka pintu, dengan waktu dan gerakan cepat dirinya merasa darah nya berhenti mengalir tubuhnya membeku tanpa bisa bergerak.
"Emmph."