
Allan mengendarai mobil dengan kecepatan diatas rata-rata dirinya dilanda rasa khawatir, karena yang Allan tahu gadis itu sudah tidak memiliki siapa-siapa dan sekarang gadis itu berada dirumah sakit. "Sebenarnya apa yang terjadi." Allan ingin rasanya mengumpat kenapa jalanan sore ini cukup padat, sedangkan dirinya tak sabar ingin segera sampai.
Setelah cukup menguras emosi Allan ketika dijalan, akhirnya mobil mewahnya sampai diparkiran rumah sakit.
Allan segera keluar dengan tergesa-gesa dirinya bertanya ruangan pasien kepada resepsionis.
Lantai dua Allan keluar dari lift, dirinya mencari no ruang rawat Indira.
Ceklek.
Arum dan Kiki segera menyingkir karena Allan yang tiba-tiba masuk dan langsung memeluk Indira. "Syukurlah kamu baik-baik saja." Allan memeluk gadis itu erat, tidak perduli tatapan bingung oleh ketiga gadis didalam ruangan itu. "Aku nungguin kamu disekolah tapi kamu tidak ada, dan aku juga mencarimu kerumah tapi malah kamu memberi tahu malah disini." Allan merancau dirinya merasa lega melihat gadis itu baik-baik saja, meskipun duduk diatas berangkar rumah sakit tetapi dirinya mendengar gadis itu tertawa membuat perasaan nya menjadi lega.
Indira hanya diam tertegun, tidak menyangka bahwa Allan akan menunggu dan mencarinya hingga kerumah. Kenapa? ada apa dengan perasaan nya yang tiba-tiba merasa nyaman apalagi setelah menghirup aroma wangi tubuh Allan ketika pria itu memeluk nya.
Allan melepas pelukannya dirinya menatap wajah cantik Indira, meskipun tanpa riasan gadis itu nampak lebih cantik. "Abang khawatir sama kamu." Allan berucap dengan tatapan penuh cinta, tanpa kebohongan. tangan nya menangkup wajah gadis itu. "Lain kali jika terjadi sesuatu kasih tau Abang."
Mereka berdua saling tatap dengan pandangan terkunci. Tidak sadar sedari tadi dua gadis yang berada disana merasa malu sendiri melihat perhatian Allan kepada sahabatnya.
Ehem
Suara deheman Arum menyadarkan dua insan yang saling pandang dengan penuh arti.
"Ehh.." Allan baru menyadari jika diruangan itu ada orang lain. dirinya merasa kikuk tetapi bukan Allan jika tidak bisa menutupi rasa malunya.
"Kalian disini?" Mencoba mencairkan suasana agar tidak canggung.
Sedangkan Indira hanya menghembuskan napas pelan menutupi rasa gugupnya ditatap Allan, padahal sebelumnya mereka berdua sudah melakukan hal yang sedikit gila.
"duh jangan sampe gue beneran naksir Abang."
"Hem.. kami jadi obat nyamuk, sangking asiknya." Cibir Arum, yang memang sudah pernah kenal Allan, meskipun hanya sekali bertemu.
Kiki hanya mengangguk karena dirinya masih loading ketika melihat pria dewasa yang tampan nan rupawan ada didepan matanya.
"Maaf.. Abang lupa jika ada kalian." Allan terkekeh kecil mendengar cibiran Arum.
Kiki mengikut Arum. "Loe kenal sama pangeran ganteng itu." Ucap Kiki.
"Abang Allan." Jawab Arum cuek, dirinya berjalan menuju sofa, karena Allan duduk disamping tempat tidur Indira.
Kiki mengikuti Arum ikut duduk disebelahnya. "Kok gue gak tau kalo Dira punya Abang ganteng mirip oppa gue." Ucap Kiki masih menatap kearah Allan.
"Ck. gak penting, siapa loe."
"Dih.. sok iyess Lo." ucap Kiki sebal, sedangkan Arum hanya terkikik sendiri.
"Abang gak kerja, biasanya Abang belum pulang?" Indira mencoba bertanya agar tidak canggung. dirinya merasakan sesuatu debaran dihatinya merasa senang karena Allan mencarinya.
"Sengaja Abang pulang siang, karena ingin jemput kamu pulang sekolah, tetapi malah Abang menemukan mu disini." Ucap Allan tersenyum seraya mengamati wajah yang selalu berada di fikiran nya.
"Maaf Dira belum bisa jagain Oma, pasti Oma nungguin Dira." tiba-tiba wajah Indira muram mengingat Oma Lili juga belum sehat benar.
"Tidak apa-apa ada mbok Nah yang jagain Mama." Allan mengusap kepala Indira lembut. "Kenapa bisa sampai masuk rumah sakit, padahal yang Abang tau kamu adalah gadis kuat." Nada Allan santai tetapi akan sebuah ledekan. Karena Allan tahu Indira adalah gadis kuat dan bar-bar.
Indira mencebikka bibirnya kesal. "Emang Dira robot, robot aja mesin nya bisa rusak apalagi aku mahluk ciptaan tuhan."
Allan terkekeh melihat wajah gadis yang menyebalkan namun menggemaskan ini. "Kamu sudah makan." Allan melihat meja terdapat makanan khas rumah sakit tetapi masih utuh.
"Belum, Dira gak suka makanan rumah sakit." jawaban jujur apa yang dirasa gadis itu.
"Kamu mau makan apa, biar sahabat kamu yang belikan, mereka juga pasti belum makan kan." Allan hanya melihat banyak bungkus Snack makanan ringan diatas meja dekat sofa.
"Kalian tolong belikan makanan kesukaan Indira, dan kalian juga carilah apa yang kalian mau." Allan mengulurkan beberapa lembar uang kertas berwarna merah kepada Arum.
"Abang sudah makan?" Tiba-tiba Indira perhatian.
Allan tersenyum untuk pertama kalinya gadis itu memberi perhatian kepadanya. "Belum."
"Abang mau makan apa biar sekalian Arum dan Kiki belikan." Tanya Arum.
"Samakan dengan punya Indira." Allan menarik kursi untuk dirinya duduk disamping Indira.
"Oke." Mereka berdua keluar setelah pamit untuk membeli makan.
"Tidak mau cerita sama Abang, kenapa bisa masuk kesini?" Allan masih penasaran kenapa gadis itu bisa masuk rumah sakit padahal tidak terjadi luka pada anggota tubuh Indira.
"Dira hanya pingsan disekolah, mungkin karena kecapean." Indira berbohong, dirinya tidak mau membuat Allan berpikiran macam-macam.
"Abang boleh tanya sesuatu?" Tiba-tiba raut wajah Allan berubah serius menatap Indira.
"A-apa?" Indira merasa gugup melihat tatapan Allan yang seakan mengintimidasi dirinya.
"Siapa pria yang waktu itu memeluk dan mencium kening mu didepan rumah." Dada Allan berdebar keras mengingat malam dirinya terbakar rasa cemburu dan berakibat dirinya yang menyerang Indira hingga mereka bisa tidur satu ranjang.
"Eng.." Indira bingung menjawab apa, dirinya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dikatakan pacar, Bimo bukan lah pacarnya karena memang mereka berdua tidak pernah jadian, sahabat tapi perlakuan Bimo lebih dari sahabat. "Teman." Ucapnya memilih kata yang tepat, entak mengapa Indira tidak mau jika Allan mengetahui dirinya mempunyai teman pria, atau lebih tepatnya teman dekat. "hiss kenapa bilang teman sih, bego."
"Yakin hanya teman?" Allan memincingkan matanya menatap wajah Indira lekat-lekat.
Yang ditatap merasa gugup sendiri. "I-iya."
"Abang percaya, tapi jujur Abang cemburu melihat kamu dekat dengan pria, apalagi sampai mencium dan memeluk kamu." Allan menatap wajah Indira lekat-lekat melihat semburat merah diwajah gadis itu, membuatnya tersenyum
"Kamu tau?" Indira menggeleng tanda tidak tahu. "Abang cepat pulang meninggalkan pekerjaan karena Abang rindu kamu." eaaa mulai deh si Abang ngegombal.😂
"Dih.. gombal." Indira membuang muka, merasa senang dan malu.
Allan memegang tangan Indira." Serius.. Abang kayaknya udah bucin sama kamu." Allan tersenyum konyol, mengatakan kata bucin yang menurutnya alay.
Nambah merah saja wajah Indira. Mampus!
"Ra..?"
"Yaa."
Cup
Tiba-tiba sesuatu yang kenyal dan tidak asing menyentuh bibirnya dengan lembut.
.
.
.
.
.
Yaahhh gantung lagi😂 😂beri semangat jempol kalian me Gandung racun untuk author semangat up🥰🥰