Pembantuku Canduku

Pembantuku Canduku
Part49


Allan mengambil jus yang dibawa Indira, tanpa menyapa ataupun melirik gadis itu.


"Ehh.. sepertinya kamu gadis yang kemarin ketemu direstoran Jepang?" Siska mengingat wajah Indira yang kemarin sempat membuatnya kesal.


"Benarkah? Kemaren memang Tante menyuruhnya membeli makanan bersama Bimo." Ucap Lili.


Mendengar ucapan mamanya membuat dada Allan terasa terbakar, dirinya mencekram erat gelas dengan tangan yang masih ada bekas luka belum sama sekali diobati.


Indira hanya diam dan sesekali melirik Allan yang duduk dengan tenang, bahkan Indira tahu luka ditangan Allan belum diobati, karena lukanya masih sedikit merah dan basah.


Indira pergi menuju dapur dan mencari kotak P3k. setelah mendapatkan ia kembali kemeja dimana Allan berada, tapi lagi-lagi pemandangan yang ia lihat kembali membuat dadanya panas.


Siska tersenyum manis dan merangkul lengan Allan, meskipun Allan diam saja, tetapi pria itu tidak menolak ataupun menghindar, bahkan Oma juga nampak senang dengan kehadiran Siska.


Indira mengeadah kepalanya menghalau cairan bening yang sudah berada diujung matanya.


Berjalan dengan wajah biasa saja, Indira mendekati Allan. "Abang kenapa tangan nya bisa luka." Indira mengeluarkan kapas dan alkohol untuk membersihkan luka ditangan Allan.


Allan yang mendengar ucapan gadis itu hanya diam tanpa ekspresi, sekuat tenaga dirinya menahan rasa gejolak didada, ingin rasanya ia membawa Indira kedalam pelukannya, memberi tahu betapa hancur hatinya. Tetapi ia lebih memilih diam saja seperti tidak terjadi apa-apa.


"Ya ampun Allan..tangan kamu kenapa?" Siska heboh dan menarik tangan Allan yang akan dipegang Indira.


"Tangan kamu kenapa Nak?" Lili juga khawatir, dirinya baru tahu jika tangan Allan terluka.


"Tidak apa-apa ma, hanya luka kecil." Ucap Allan.


"Tapi ini harus segera diobati Allan." Siska dengan cepat merebut obat yang dipegang Indira, dan mengobati luka di tangan Allan.


Indira hanya menatap nanar tangannya, bahkan sekarang ada jarak yang tidak bisa ia sentuh kembali.


Allan hanya diam pasrah, dirinya sebenarnya tidak tega melihat wajah sendu Indira ketika Siska merebut tangan nya. Ia harus bisa menahan rasa yang sungguh menyesakan ketika mengingat gadis itu adalah kekasih sang keponakan.


"Sayang kamu sudah makan? Sini makan bersama." Ucap Lili dengan tersenyum.


"Dira sudah makan Oma."


Siska sudah selesai mengobati luka Allan, dirinya kembali menyerahkan kotak obat itu kepada Indira lagi.


"Oya.. sebenarnya siapa dia Tante, sepertinya dia dekat dengan keluarga Tante." Siska melirik Indira dengan sinis, dirinya tidak menyukai gadis itu.


"Dia_"


"Dia pelayan dirumah ini." Belum sempat Lili berucap, Allan sudah memotong lebih dulu.


Jantung Indira seperti diremas, hatinya sakit mendengar pernyataan Allan, memang dirinya hanya seorang pelayan penebus hutang, tapi kenapa harus jujur kepada wanita itu, selama ini Allan begitu baik dan sayang kepadanya tapi sekarang pria itu menjadi dingin dan seolah membentengi dirinya dengan tembok tak kasat mata.


Lili hanya menatap heran putranya, kenapa dia berubah dingin dan datar kembali, ada apa dengan putranya?


"Ohh...hanya pelayan." Siska hanya manggut-manggut dan tersenyum, senyum remah yang ditunjukan kepada Indira.


"Ma, Allan berangkat dulu." Allan mencium kening Lili dan menyambar jas yang berada di punggung kursi.


"Ehhh boleh sekalian aku ikut, kebetulan aku tadi naik taksi." Siska tiba-tiba bersuara.


Allan sebenarnya malas tetapi melihat Indira masih berdiri disitu terpaksa dirinya mengiyakan. "Ayo.." Allan berjalan keluar duluan.


"Tante Siska pergi dulu, kapan-kapan Siska mampir lagi." Siska pamit dan langsung mengejar langkah panjang Allan.


"Hati-hati nak." Suara Lili menghilang seraya menghilangnya Allan dibalik pintu.


"Sayang kamu tidak apa-apa." Lili bertanya, karena Indira nampak melamun dengan wajah muram.


"Tidak apa-apa Oma." Indira tersenyum dan berjalan menuju dapur kembali.


"Bodoh, loe bukan siapa-siapa, sadar Aya." Indira menarik napas dalam, sebelum sesuatu mengagetkan dirinya.


"Melamun hm." Bimo berdiri dibelakang tubuh Indira dengan tangan menyodorkan sebuah coklat kesukaan Indira lewat balik punggung gadis itu.


Bimo beralih berdiri disamping Indira dengan menyender dipinggiran wastafel, karena Indira sedang berdiri didepan wastafel dapur.


"Biar gak badmood." Bimo kembali menyodorkan coklat yang belum sempat Indira terima.


Indira tersenyum senang, mendapat coklat kesukaannya. "Tau aja kalo gue lagi gak mood." Indira segera membuka bungkusan itu dan melahap potongan coklat bercampur kacang almond.


Begitulah sifat gadis itu, hatinya sedih namun dirinya pandai menutupi kesedihannya. baginya kesedihan tidak harus berlarut-larut, jika sekarang ada sesuatu yang membuatnya bahagia maka ia akan bahagia, meskipun ia nanti berhadapan dengan kesedihan setelah ini.


"Mau jalan-jalan kebetulan Oma tadi minta ditemani belanja." Bimo memberi tahu ketika dirinya datang Oma langsung bilang ingin ditemani mereka berdua belanja atau sekedar jalan-jalan.


Indira masih asik memakan coklat, hingga lelehan coklat tersisa disudut bibirnya.


"Makannya pelan-pelan Ay." Bimo membersihkan dengan ibu jarinya dan ia mengisap jarinya yang ada bekas sisa coklat dari bibir gadis itu.


"Isss Bimo jorok." Indira melotot tidak percaya.


"Manis...kayak orangnya." Bimo hanya tersenyum menatap gadis itu, yang suka sekali makan coklat jika mood nya tidak bagus.


"Yuk.. otw, keburu Oma nunggu lama." Indira meraih tangan Bimo setelah selesai menghabiskan coklat dan mencuci tangannya.


Bimo tersenyum, hati nya menghangat, meskipun dirinya tahu gadis itu masih mengangapnya sahabat tetapi sikap Indira yang tidak pernah berubah membuat Bimo semakin mencintai gadis itu.


Meskipun sedikit kecewa karena penolakan ungkapan perasaan nya, tetapi dirinya sangat menghormati keputusan itu. Asalkan gadis itu tidak pernah berubah sikapnya, biarlah waktu yang menentukan kapan gadis itu akan menerima cintanya.


Kini mereka bertiga sedang berjalan disebuah arena bermain, meskipun kedua orang itu remaja dan membawa Oma Lili juga tetapi tidak mengurangi semangat dan rasa bahagia mereka bertiga meskipun sudah bukan anak kecil lagi.


Oma Lili yang merasa senang dan bahagia bisa bermain dan bersenang-senang dengan cucu dan Indira yang sudah ia anggap sebagai cucunya sendiri, ia bahagia ketika melihat Bimo tersenyum dan tertawa tanpa canggung, karena selama ini Bimo yang kurang kasih sayang dan perhatian dari kedua orang tuanya, karena mereka berdua disibukkan oleh masing-masing pekerjaan.


"Sayang sini Oma ambil gambar kalian." Oma menawarkan jasa ketika melihat dua remaja itu asik berfoto Selfi berdua. Bahkan Oma tahu jika Bimo susah untuk diajak foto, tapi dengan gadis itu Bimo dengan senang hati malah meminta foto.


Oma membidik mereka dengan banyak gaya, bahkan tingkah mereka yang usil dan kocak tak luput dari bidikan Oma.


"Lihat hasilnya sangat bagus kalian memang serasi" Lili tersenyum senang memperlihatkan hasil jepretannya.


"Wah Oma keren, fotonya bagus semua." Indira antusias melihat banyak nya foto yang Oma ambil.


"Bim, kirim keponsel aku donk." Ucap Indira.


"Beres Ay." Bimo mengirim semua foto ke no Indira.


"Makasih Bemo sayang." Indira tersenyum senang.


"Dih, ada maunya aja panggil sayang." Bimo mencibir, sedangkan Oma hanya tertawa.


"Ya udah Bemo aja gak usah pake sayang." Indira segera memposting foto candidnya bersama Bimo, dengan gaya tangan yang membentuk love, entah apa maksud dirinya memposting foto itu ke instory WhatsApp nya. Bahkan jika dipikir Allan juga memiliki nomornya, tetapi lagi-lagi Indira tidak kepikiran tentang pria yang selalu memikirkan nya.


..............


Dilain tempat Allan membanting ponsel yang ia pegang, ia melihat postingan Indira dan Bimo dengan menggugah foto bersama meskipun beda gaya, tetapi dari foto itu bisa terlihat jika mereka seperti sepasang kekasih.


"Arrgghh..." Allan berteriak dengan meremas rambutnya kasar, dirinya sudah mati-matian menahan rasa yang begitu sesak didada, tetapi lagi-lagi dirinya tidak bisa menjauh dari kehidupan gadis itu, ia selalu menjadi penggemar setia Indira, dengan menstalking media sosial gadis itu.


"Gue gak bisa bohongi perasan gue, gue tersiksa Ra, gue gak suka keadaan seperti ini." Allan lebih baik bersaing dengan orang lain dari pada harus dengan Bimo, jika begini dirinya bisa apa, tidak mungkin ia menghajar atau menyakiti keponakan tersayang nya sendiri.


'Maaf Ra.'


.


.


.


Hari ini aku update 2x, jadi kalian para reader jangan pelit jempol dan komen kalian agar emak hilap tambah 1bab lagi. jika baik hati berikanlah hadiah yang kalian punya buat bang Alay (Allan_aya)😂 atau Biya (Bimo_aya)🙈. Kopi secangkir bisa buat mood author melek..wkwkwk malak maksa🤣🤣