
Acara syukuran berjalan lancar tanpa hambatan, kini kelurga Allan nampak bahagia karena kehamilan Indira bahkan mereka semua berkumpul keluarga demi momen yang jarang sekali terjadi kalau tidak ada acara seperti ini.
Bahkan Bimo yang biasa sibuk dan lebih memilih menyendiri kini menyempatkan diri untuk tetap tinggal berkumpul dengan keluarga.
Kesibukan yang mereka miliki membuat waktu mereka tidak pernah bertemu, terkadang Leina berkunjung pun tidak pernah bertemu dengan Allan.
Keluarga Harlan pun ikut berkumpul dengan keluarga suami keponakanya itu, Harlan sangat bahagia dan bersyukur karena Indira di berikan jodoh dan keluarga yang baik dan menyayanginya. Allan yang begitu mencintai Indira dan Lili juga yang sangat menyanyangi menantunya. Jika saja Hardi dan Nilam masih hidup pasti mereka sangat bahagia melihat putrinya begitu banyak yang mencintai dan menyayangi nya. Harlan selalu mengucap syukur ketika dirinya dipertemukan dengan Indira, keponakan satu-satunya yang ia miliki, Indira juga anak nya sama seperti Riko dan Rania.
.
.
Di waktu yang bersamaan ketika semua berkumpul Harlan mengumumkan sesuatu yang penting untuk mereka semua.
Ehem
Harlan berdehem untuk memulai pembicaraan, yang sebelumnya dirinya sudah meminta waktu sebentar sebelum semuanya pulang.
"Saya hanya ingin memberi tahu jika lusa anak saya Riko akan melamar seorang gadis, jadi saya harap semua keluarga bisa menghadiri acara putra saya." Harlan menatap satu persatu wajah yang ada di ruang keluarga itu, nampak semuanya tersenyum bahagia, apalagi Riko yang nampak nya malu karena diledek Bimo dana Allan.
Semua nampak senang mendengar kabar baik dari Harlan, bahkan Indira dan Rania kompak memeluk Riko bersama.
"Duh, gue bisa mati sebelum belah duren." Riko nampak kesusahan untuk bernapas karena kedua adiknya itu memeluknya erat.
"Gak ngaruh kak, loe udah belah duren berapa kali, jangan bilang loe juga udah ninggalin bibit duren di kebon banyak wanita." Indira menatap Riko dengan mengintimidasi karena dirinya tidak rela jika Rere akan mendapat buah duren jatuh.
"Ck. gue gak sebreng*sek itu Oneng." Riko menyingkirkan kedua tangan adik nya yang erat melingkar di lehernya.
"Awas aja kalo gue tau loe punya bibit duren yang tumbuh." Indira menunjukan kepalan tinjunya di depan wajah Riko.
"Dih, segala ngancem." Riko mencebik.
"Sayang, kemari." Allan sedari tadi sudah gerah melihat istrinya yang menempel pada Riko, jika sedang tidak banyak orang sudah pasti Riko jadi sasaran amuknya.
"Noh di panggil sama pawang nya." Riko mendelik kearah Allan yang menatapnya tajam, mereka seakan berperang lewat tatapan mata.
Indira hanya memanyunkan bibirnya, berdiri mendekati Allan dan duduk di samping suami posesif nya itu.
Mereka para anak muda berada di ruang tv, sedangkan para orang tua berada di ruang keluarga.
"Hibis kak Riko, kira-kira yang soul out duluan si Bemo apa si Rania nih?" Indira menatap bergantian antara Bimo dan Rania.
"Gue gak mungkin lah kak, kuliah aja belum lulus, kayaknya kak Bimo dulu deh." Rania menampilkan gigi rapihnya dengan senyum.
"Loe udah setengah abad tapi masih jomblo aja Bim?" Riko menyenggol kaki Bimo yang kebetulan duduk di sebelahnya.
"Cari teman hidup butuh seleksi, biar gak keliru. Nikah sekali seumur hidup itu prinsip gue." Ucap Bimo bijak, langsung mendapat ancungan jempol dari Indira dan Rania.
"Gue juga mau nikah sekali seumur hidup juga kali."
Mereka masih terus mengobrol hingga malam, dan memutuskan untuk pulang.
.
.
.
Indira memejamkan mata ketika bibir suaminya menyusuri leher turun ke bahunya yang terbuka, menggigit kecil meninggalkan bekas kemerahan disana, jika sudah seperti ini dirinya tidak bisa menolak.
Pagi hari matahari belum menampakkan sinarnya, Allan merayapi tubuh istrinya yang baru saja selesai mandi, melihat Indira hanya menggunakan handuk yang melilit ditubuh berisi nya membuat Allan sudah bergejolak, apalagi handuk yang Indira pakai tidak bisa menutupi semua bongkahan padat area belakang.
Allan menyusuri leher hingga bahu polos Indira dengan memberi kecupan basah, memancing rangsangan pada tubuh Indira.
Allan tersenyum mendengar Indira meleguh ketika tangan nya meremat dua benda bulat dan padat bagian favorit nya. Tangannya bergerilya bibirnya beroperasi mengeksplor setiap inci kulit Indira.
Keduanya sudah berada di atas ranjang sama-sama polos tanpa busana, Allan dengan posisi setengah berbaring dengan punggung bersandar pada kepala ranjang, kali ini Indira yang memimpin permainan panas mereka, posisi yang nyaman ketika perutnya yang sudah sedikit membesar.
Allan memejamkan mata dengan mulut terbuka Geraman dalam terdengar begitu nikmat yang ia rasakan. Tangan nya meremat dua buah dada yang menggantung dengan indah bergerak sesuai dengan gerakan tubuh Indra yang berada di atasnya.
"Emmhh...shh.." Indira mendesis tertahan ketika terong premium milik Allan semakin melesak dalam.
Hentakan pinggul Indira membuat Allan kian merancau, istrinya itu sekarang sudah mahir.
"Sayang ouh.." Allan merancau meremat kedua Boko*ng Indira yang padat, tubuh Indira yang terus bergerak mencari kepuasan membuat Allan semakin merancau.
Tangan Indira berpegangan pada bahu Allan tatapan matanya tak lepas dari wajah suaminya yang sangat berg*irah.
Pinggulnya Ia angkat hingga menyisakan sedikit kepala terong Allan yang masih menyatu, Indira menatap wajah Allan dengan tatapan nakalnya bibir bawah sengaja ia gigit.
"Sayang..egh.." Tangan Allan ingin menekan pinggang Indira, namun belum sampai terjadi Indira dengan gerakan cepat menggerakkan pinggangnya turun membaut Allan mengerang nikmat.
"Ahh.." keduanya meleguh bersama ketika Indira memompa kembali pinggulnya dengan cepat, Indira sudah merancau keras ketika gelombang pelepasan yang akan meledak.
"Abang..ahh..shh..emmh.." tubuhnya terus bergerak tangan Allan membatu menggerakkan pinggang Indira naik turun.
Pagi yang dingin disambut pergumulan panas keduanya dalam mengarungi kenikmatan yang tiada tara. keduanya menyatu rasa cinta yang membuncah, Allan sangat menyukai servis yang diberikan Indira. Selama hamil Indira semakin agresif tidak seperti sebelum hamil yang masih malu-malu. Kini istrinya itu nampak liar di atas ranjang Allan semakin di buat melayang dan tak berkutik.
"Ahh.." Tubuh Indira bergetar dengan wajah penuh peluh. Allan tersenyum melihat wajah istrinya yang nampak sangat seksi.
"Sekarang giliran ku sayang." Allan membalikkan tubuh Indra pelan dibawah kungkunganya.
Tangan Allan mengelus perut buncit Indira dan mendaratkan kecupan di atas perut Indira.
"Abang akan pelan-pelan." Allan mulai melancarkan aksinya kembali.
"Emmh.." Indira mencekram lengan Allan ketika benda pusaka Allan melesak begitu dalam.
Allan menggerakkan tubuhnya pelan namun dalam, membuat Indira semakin mende*sah keras ketika titik sensitifnya terasa berdenyut karena benda tumpul yang mengoyak begitu dalam.
"Abang.." Indira meri*tih dengan meliukkan tubuhnya, gelombang pelepasan menghampiri nya kembali.
Allan yang tahu jika istrinya yang akan menuju pelepasan dengan gerakan sedikit cepat namun tetap hati-hati agar tidak melukai calon bayinya menekan kuat hingga hentakan ketiga kali keduanya meleguh bersamaan.
.
.
Selamat malam😘