Pembantuku Canduku

Pembantuku Canduku
Part120


"Loh Al mau kemana pagi-pagi begini?" Lili yang baru bangun dan keluar dari kamar melihat Allan membantu Indira berjalan dan membawa tas di tangannya. "Apa kamu sudah mau melahirkan nak?" Lili menyentuh lengan Indira.


"Iya mah, Dira sudah mulai mulas dan sakit perut, Al mau membawanya kerumah sakit." Ucap Allan.


"Ya ampun sayang, cucu Mama sudah mau keluar." Lili nampak heboh sendiri.


"Mah, Allan berangkat dulu, nanti Mama menyusul."


"Yasudah... Mama siap-siap dulu, Sayang semoga lancar dan sehat...jangan bikin Mama mu merasakan sakit lebih lama." Lili mengelus perut buncit menantunya.


"Iya mah, doakan yang terbaik untuk Indira...shhh.." Indira kembali mendesis ketika rasa sakit kembali hadir.


"Ayo sayang, Abang tidak tega melihat kamu begini." Allan segera membopong tubuh istrinya.


"Abang.." Indira nampak terkejut dengan yang di lakukan Allan.


"Biar kamu tidak lelah." Allan berjalan pelan menuruni tangga, memanggil supir untuk menyiapkan mobil.


"Mbok, tolong ambilkan tas di atas tangga bawa ke mobil." Ucap Allan ketika bertemu dengan mbok Nah dibawah.


"Si Eneng mau lahiran tuan." Tanyanya yang melihat wajah Allan panik.


"Iya mbok.." Indira yang menjawab.


"Abang...shh.."Indira mencekram kuat lengan suaminya demi merasakan sakit yang kembali datang.


"Sabar sayang, kamu boleh melakukan apapun untuk melampiaskan rasa sakitnya." Ucapnya dengan mendudukkan Indira di dalam mobil.


"Pak, antar kerumah sakit sekarang." Allan bicara pada supir.


"Baik Tuan.."


"Tarik napas sayang, hembuskan pelan." Lili mencoba membantu Indira untuk mengurangi rasa sakitnya. "Apa sudah ada tanda-tanda seperti lendir darah yang keluar?" Tanya Lili menatap kebelakang.


"Sudah mah, jam lima tadi pagi." Ucap Indira lirih.


"Apa? Ya ampun Al, kenapa baru sekarang kamu bawa istri kamu kerumah sakit." Lili nampak syok mendengar ucapan Indira, dan sekarang sudah jam setengah tujuh baru dibawa kerumah sakit.


"Al, ngak tahu Mah, Indira dari semalam tidak bicara apa-apa sama Al." Allan mengelus perut istrinya. "Sabar sayang, sebentar lagi sampai rumah sakit."


"Auwss...sayang sakit." Bukan suara Indira, melainkan Allan yang merasakan sakit dan perih ketika lengannya di cengkram erat oleh Indra.


"Maaf Abang..shh.." Ucap Indira yang melihat suaminya kesakitan karena dirinya.


"Tidak apa-apa, Abang hanya kaget." Allan mencoba untuk menahan rasa yang begitu perih.


"Ayo dong pak, lebih cepat lagi." Ucap Allan yang tak sabaran ketika pak supir tidak menambah kecepatannya, padahal dirinya sekuat tenaga menahan rasa sakit setiap kali Indira mencekram lengannya.


"I-iya tuan.." Pak supir menambah kecepatan laju mobilnya, namun masih pada jarak aman.


"Abang...aku udah gak kuat..aaakkh." Indira meringis dan memegangi perutnya ketika rasa sakitnya lebih kuat.


"Tahan sayang, tarik napas." Allan mencoba tenang namun tetap saja panik ketika istrinya menjerit kesakitan.


Dua puluh menit mobil sudah sampai diparkiran rumah sakit. Allan keluar dan langsung membopong tubuh istrinya.


"Dokter, suster tolong istri saya akan melahirkan." Allan berteriak ketika masuk rumah sakit, membaut perawat segera mendorong brankar kearah Allan.


"Abang.." Suara Indira begitu lirih.


"Sabar sayang, kamu pasti kuat." Allan menggenggam tangan istrinya dengan tangannya, mereka mengikuti suster membawa Indira ke ruangan bersalin.