Pembantuku Canduku

Pembantuku Canduku
Part60


Indira nampak menikmati kehidupannya sehari-hari di negara Paris, dirinya sering mengunjungi tempat-tempat hiburan ditemani Nicolas, Biana dan Riko.


Hubungan Riko dan Indira semakin dekat, namun Indira masih saja menolak pria itu sebagai kekasihnya. Indira menyanyangi Riko, tapi sebagai seorang kakak.


Kesibukan Indira semakin padat lantaran gadis itu kini sudah menjadi desainer muda yang lumayan banyak penggemar, sehingga gambar Disaine yang Indira buat dan di produksi oleh toko yang membuat mimpinya perlahan menjadi kenyataan.


Sebenarnya ia hanya gemar menggambar sedari kecil, ketika anak kecil seusianya senang bermain boneka, rumah-rumahan dan sebagai nya, tetapi Indira kecil lebih suka menggambar kerangka pakaian, tangan kecilnya dengan lincah menggoreskan pensil di atas kertas putih, dan dengan wajah berseri dirinya berhasil membuat gambar yang sangat ia sukai, yaitu gaun princess.


Mamanya selalu memuji gambar yang ia buat, sehingga membuat Indira kecil selalu senang menunjukkan gambar-gambar yang ia buat.


"Sayang jika kamu besar, mama yakin kamu akan menjadi seorang perancang busana yang hebat." Nilam tersenyum melihat putrinya kembali menunjukan hasil gambarnya, sepasang pengantin dengan menggunakan gaun indah dan pria menggunakan jas yang sangat serasi ketika disandingkan.


"Mama jika Aya besar nanti, Aya ingin membuat gaun seperti ini." Ucap gadis kecil yang berusia 10tahun itu.


"Semoga papa bisa melihat kamu menjadi gadis sukses dan menemukan pria yang gagah seperti gambar mu itu." Hardi yang baru datang melihat dan mendengar ucapan putrinya.


"Nanti papa dan mama akan Indira buatkan baju yang bagus juga." Indira menatap kedua orang tuanya berbinar.


"Tentu saja sayang." Mereka berpelukan, dengan perasaan bahagia.


"Miss Indira." Lamunan Indira buyar, ketika seseorang memanggilnya.


"Ya madam."


"Ada seseorang yang ingin bertemu dengan anda." Ucap wanita itu.


"Siapa?"


"Maaf saya kurang tahu."


Indira sedang berada ditempat nya bekerja, dirinya mengambil pekerjaan selesai kuliah, karena pengunjung butik itu terkadang ingin langsung memesan gaun kepada perancang nya. Pundi-pundi uang pun sudah ia kumpulkan sedikit lagi dirinya bisa mengembalikan uang yang pernah Allan keluarkan untuk jaminan rumahnya.


Meskipun Indira tahu jika Allan tidak membutuhkan uang itu, karena pria itu sudah bergelimang harta.


Namun baginya itu adalah rumah satu-satunya peninggalan kedua orang tuanya, yang harus ia tebus meskipun kepada Allan.


Indira juga tidak menggunakan uang bulanan keperluanya dari Allan karena ia sudah bekerja dan menghasilkan uang.


Indira berjalan keluar ruangan menemui seseorang yang ingin menjumpainya.


Seorang pria sedang berdiri didekat patung gaun pengantin dengan tubuh berbalut Coat hitam. Sepertinya pria itu sedang mengamati rancangan indah itu.


"Maaf anda ingin bertemu saya." Indira berdiri dibelakang pria itu dengan jarak dua meter.


"Hay..."


Indira membulatkan matanya ketika melihat pria itu.


........................................


Disebuah Club malam seorang wanita asik dengan dunianya, wanita itu nampak sudah mabuk.


"Gue benci pria seperti loe." Wanita itu sesekali tertawa dan bersedih seperti menangis.


Siska sedang duduk dengan kesadaran yang sudah hilang, dirinya datang sendiri.


Selama bertunangan dengan Allan Siska tidak pernah bisa menjumpai pria itu, Allan menutup semua akses. Jika ia datang ke kantor maka Security akan mengusirnya.


Di rumah Lili pun siska tidak pernah berhasil menemui Allan.


"Dia adalah laki-laki bodoh." Siska terus saja merancau tidak jelas.


Seorang pria dengan pakaian rapi lengan bertato mendekati Siska.


"Hay honey.." pria itu langsung merangkul dari belakang tubuh Siska yang sedang duduk.


"Kau siapa aku tidak mengenalimu." Siska mencoba berontak namun pria itu tidak bergeming.


"Apa kau melupakan ku." Pria itu menyusuri pipi mulus Siska dengan bibirnya.


"No.. aku tidak mengenalmu."


"Lepas..! aku sudah bertunangan kau akan menyesal jika membawaku." Siska kembali berteriak.


"Apa kau tau tunaganmu tidak akan perduli pada dirimu, jadi bersenang-senang lah bersamaku." Ucap pria itu sebelum membuka pintu mobil Siska.


"Diam kau Cris.!" Teriak Siska marah.


"Ohh...jadi kau sudah mengingatku honey." pria itu tersenyum menyeringai.


"Sialan..! kau datang untuk meminta uang lagi." Dengan napas memburu, antara mabuk dan marah Siska menatap tajam pria bernama Cris itu.


"Came on honey, kau tau apapun yang aku inginkan." Pria itu memasang sabuk pengaman pada Siska dan mencium bibirnya sekilas.


"Bastrad..! kau tidak akan mendapatkan apapun dariku." Siska menatap tajam pria itu.


Cris melajukan mobil dengan tersenyum tipis. "Maka penyebab kecelakaan empat tahun lalu akan terbongkar." Cris tertawa.


"Kau..!" Siska menunjuk wajah Cris. " Jika kau berani maka kau juga akan aku seret."


"Silahkan, tapi semua bukti mengarah padamu, jadi turuti saja keinginanku, maka kau akan aman." Cris tertawa sarkas.


"Asal kau tau, kaulah yang menyebabkan rem mobil Allan blong, dan kau juga yang memotong jalan mobil yang dikendarai Allan hingga mobilnya masuk ke jurang." Siska dengan dada naik turun antara sadar dan tidak mengucapkan suatu bukti yang selama empat tahun ini tertutup rapat.


"Dan kau lah dalang dari semua ini, kau pun ikut didalam mobil itu, apa kau ingat." Cris menatap tajam Siska.


"Kau lah yang sudah merencanakan pembunuhan terhadap tunangan pria itu, tapi malah keduanya menjadi korban." Ucap Cris lagi.


Siska marah dirinya tidak terima dibilang pembunuh, dengan wajah menahan amarah Siska mencoba memukuli Cris dengan membabi buta tidak perduli jika Cris sedang menyetir, karena sudah mabuk dan mendengar ucapan Cris membuat dirinya murka.


"Diam bodoh..! Apa kau mau celaka." Cris Mencoba mengahalangi Siska namun wanita itu malah semakin brutal memukulinya.


Mobil mereka tak seimbang, dari arah depan sebuah mobil truk besar dengan kecepatan tinggi menghantam mobil Siska.


"Aaaakkhhh..!!!"


Brakk


...................


"Kita mendapatkan bukti bos." Jimmy masuk keruangan kerja Allan di Apartemen nya.


"Kau itu bisa tidak ketuk pintu dulu." Allan menggerutu ketika Jimmy tiba-tiba masuk, hingga membuatnya terkejut karena sedang fokus melihat sosmed Indira. Ck lamban kali kau bang.


"Maaf bos, saya begitu senang hingga lupa mengetuk pintu." Jimmy hanya cengengesan.


"Kau baru menang lotre."


"Lebih dari itu, bahkan bos sendiri akan lebih senang dari pada saya."


Jimmy memutar rekaman yang sudah langsung tersambung dilaptopnya.


"Kau mau memperlihatkan ku vidio Dua kurcaci yang tak pernah tumbuh dewasa itu." Allan menatap Jimmy sengit.


Jimmy menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Allan yang sedang memeriksa berkas, dan Jimmy yang sebenarnya ingin menunjukan vidio hasil pantauan nya di anak cabang perusahaan, tidak sengaja malah memperlihatkan Vidio kesukaan anaknya, yaitu dua kurcaci yang tak pernah bisa tumbuh dewasa.


"Bukan bos,, Anda dengarkan saja." Jimmy memutar rekaman itu, hingga membuat bola mata Allan membulat sempurna.


Siska tidak sadar jika dari awal pertunangan mereka Allan banyak memasang mata-mata dan Jimmy pun memasang alat penyadap di dalam mobil Siska yang selalu ia kendarai.


Alhasil dengan kecerobohan dua manusia yang bersekongkol itu, kejahatan mereka terbongkar sendiri.


.


.


.


.


Author nya hari ini lelah hayati.. jadi butuh semangat dukungan kalian.. like,komen jangan ketinggalan, hadiah kirim biar author semangat, apalagi secangkir kopi, 👉☕ Siapa tahu merubah mood lelah hayati ini🤣🤣🤣