
Hari ini adalah hari libur bagi Indira, libur sekolah libur kerja tempat Oma dan libur kerja part time.
Rencana hari ini Indira dan para sahabatnya akan jalan-jalan mumpung dirinya sedang free dan tidak punya kerjaan. Alhasil para sahabatnya mengajaknya jalan.
"Udah jam segini kenapa mereka belum pada nonggol." Indira duduk disofa depan tv sambil menunggu Arum dan Kiki.
Tak lama terdengar suara motor didepan, Indira beranjak dan membuka pintu.
"Bimo." Dirinya bergumam menatap cowok yang sedang turun dari motor besarnya.
"Hai." Bimo tersenyum dan mengacak rambut Indira pelan.
"Ck, berantakan tau." Indira cemberut.
"Tapi tetep cantik."
"Kenapa loe yang Dateng?" Heran yang janjian dua sahabatnya kenapa yang Dateng malah Bimo.
"Loe ngarepin siapa Ay?" Tanyanya sambil mengangkat alis sebelah.
"Arum sama Kiki." jawabnya cuek.
"Mereka udah duluan, gue kesini jemput loe."
"Iss kebiasaan mereka." gerutunya bersungut kesal.
"Jangan cemberut, tar tambah cantik." Godanya dengan senyum menggoda.
"Loe lagi, kenapa jadi cowok nyebelin sih, __eh tapi emang udah dari dulu nyebelin sih hahaha."
"Buru gih, mereka dah nungguin." Bimo memberi helm pada Indira.
"Pegangan Ay."
"Ck. iya bawel." Indira melingkarkan kedua tangan nya diperut Bimo.
Bimo melajukan motor nya dengan kecepatan sedang.
"Kita mau kemana Bim!" Indira sedikit mengeraskan suaranya.
"KUA!" Bimo tak kalah kencang berteriak.
Bugh.
"Ngaco loe Bim." Indira memukul bahu Bimo.
"Hahaha, canda Ay."
Tak berapa lama motor Bimo parkir disebuah Mall.
"Mereka disini?" Indira melepas helm dan menyodorkan pada Bimo.
"Hem." Bimo mengaitkan helm Indira dimotor nya.
"Ayo." Bimo menarik tangan Indira menuju tempat para sahabatnya berkumpul.
"Tuh pasangan sejoli yang kita tunggu." Ucap Guntur yang melihat Bimo dan Indira berjalan mendekati mereka.
"Iss mereka so sweet sekali sih." Kiki menatap kagum.
"Kita juga so sweet kali Kiki Mariki." Ledek Jingga yang kebetulan stile mereka hari ini hampir sama, Kiki memakai kaus berwarna hitam dengan celana jins panjang dan memakai aksesoris topi hitam.
Jingga yang juga memakai baju kaus dan topi yang sama warna dengan Kiki.
"Idih sweet pala loe peang." Kiki melotot kearah Jingga.
"Hay gaess." Indira menyapa dan memeluk kedua sahabatnya.
"Bang Raka juga mau neng Dira peluk nih."
"Mau gue gibeng." Bukan Indira, melainkan Bimo yang menjawab.
"West, ampun pak bos, pawangnya galak amat neng." Raka mengangkat kedua tangannya.
"Makanya jangan macem-macem loe." Guntur merangkul leher Raka, "Pawangnya ganas." Hahahhaha mereka berdua tertawa.
"Ehh, kita mau ngapain?" Tanya Indira pada kedua sahabatnya tanpa menghiraukan ocehan Bimo Cs.
"Kuy kita shopping." Ajak Kiki semangat.
"Ck, cewek kalo udah disuruh shopping semangat." Celetuk Galuh.
"Lah emang dunia cewek gak jauh-jauh dari shopping." Balas Jingga.
"Loe nya aja yang pelit kagak pernah ngajak belanja cewek loe." Cibir Raka.
"Cih, hanya cewek matre yang suka diajak belanja." Kilahnya mencari pembelaan.
"Bukan matre ogeb, tapi realistis." Sela Jingga.
Bimo dan Resa berjalan didepan mereka memperhatikan tiga cewek yang hanya keluar masuk toko tanpa membeli apa pun.
"Ck. kurang kerjaan." Bibirnya ngomel tapi tak urung menarik kedua sudut bibirnya membentuk senyum.
"loe udah jadian sama Dira?" Tanya Resa tiba-tiba.
"Gue gak mau ada kata jadian tapi berakhir ada kata putus dan itu membuat jarak diantara kita." Ucap Bimo yang pandangan nya tak lepas menatap gadis berbaju putih tertawa bahagia bersama kedua sahabatnya.
Resa hanya mengangguk mengerti. Dirinya menatap Arum yang juga tertawa bahagia.
"Kenapa? loe udah nembak Arum?" Tanya Bimo yang memang tahu jika Resa menyukai Arum.
"Entahlah, gue belum tahu pasti apa yang gue rasain." Kata Resa mengungkapkan yang memang dia rasakan.
Tak lama ponsel Bimo berdering, tanda panggilan masuk.
"Halo."
"Ponakan Om sombong sekali tidak pernah menemui om.' Jawab orang diseberang sana.
Bimo sedikit menjauh dari para sahabatnya tapi matanya tidak lepas dari jangkauan seorang gadis.
"Om bisa aja, Maaf Bimo sibuk dengan kegiatan sekolah."
"Sibuk sekolah apa sibuk dengan cewek." Kekehan terdengar diseberang telfon.
"Sekolah lah Om, mana ada Bimo pacaran." Elaknya dengan nada kesal, padahal mah iya. hihihi
"Om lagi diluar negeri, mau oleh-oleh apa?" Tanya seseorang diseberang sana.
"Calon Tante boleh." Canda Bimo sambil tertawa.
"Gak ada kalo yang itu mah." Suara yang terdengar sebal.
"Canda Om, apa aja yang penting Om selamat sampai rumah."
"Oke, salam buat mama, papa kamu."
"Baik Om."
Dan sambungan telepon terputus, Bimo berjalan kembali mendekati para sahabatnya yang sudah menghampiri ketiga gadis itu.
"Udah belanjanya?" Tanya nya ketika sampai didepan Indira.
"Belanja apaan, mereka cuma numpang cuci mata pegang-pegang, ngacak-ngacak abis itu ngeloyor pergi." Jawab Guntur.
"Yee itulah keseruan kita, gak harus beli cukup lihat-lihat dan cuci mata udah mempunyai kepuasan sendiri." Jawab Arum ketus.
"Lah, bilang aja kagak punya duit, biar bang Resa yang bayarin." Ucap Raka tanpa beban.
"Idih, siapa dia" Ketus Arum menatap Resa sinis.
"Cih, sok jual mahal, padahal hati meronta pengen." Cibir Raka.
"Bac*t loe." Ucap Arum kesal.
"Kenapa jadi berantem sih, cari makan lah Laper gue itu." Indira menyela dengan mengelus perutnya.
"Aduh dedek Laper ya." Bimo tiba-tiba ikut mengelus perut Indira.
Dan pemandangan itu membuat mereka semua bersorak tidak percaya dengan kelakuan Bimo.
Mereka kini berjalan menuju Cafe didalam Mall tersebut. Ketika ingin masuk dari belakang ada yang manggil.
"Bimo!"
Mampir juga ya di karya author satunya "Cinta Tak Direstui"