
Memasuki bulan ke delapan kehamilannya, Indira mulai mempersiapkan kehadiran si kecil princess yang akan kembali menambah suasana rumah Adhitama menjadi ramai.
"Sayang itu di letakkan di sebelah sana saja." Indira menunjuk tempat untuk menaruh box bayi.
Allan kembali menghela napas dalam, kesabaran nya benar-benar sedang di andalkan.
Bagaimana tidak jika dari satu jam lamanya dirinya hanya memutar-mutar box bayi di dalam ruangan itu.
Allan kembali dari kantor jam empat sore dan dirinya menemani permintaan sang istri yang ingin menatap kamar untuk anak kedua mereka. Allan pun dengan senang hati menuruti permintaan sang istri karena belum tahu jika ternyata istrinya itu sangat menyebalkan dan membuat dirinya kesal.
"Sayang, apa kamu tidak bisa lihat jika dari tadi kita hanya memutar-mutar box dengan tatanan yang sama." Allan me desah kesal, tubuhnya sudah terasa lelah.
Indira mengerutkan keningnya. "Masa sih Bang, aku tidak ingat jika posisi seperti itu tadi sudah aku praktekkan." Ucapnya tanpa dosa.
"Besok lagi saja sayang, Abang lelah ingin mandi." Allan mulai membuka kancing kemejanya satu persatu.
"Tidak bisakah kita pindahkan lagi box itu kesebelah sana." Tunjuk nya di pojok ruangan itu.
"Tidak sayang, Abang sudah lelah." Allan menampilkan wajah memelas nya.
"Tapi aku tidak lelah sayang." Indira mendekati box bayi itu dan ingin mendorongnya sendiri, ketempat yang dia inginkan.
"Eh..kamu mau apa?" Allan langsung meraih box bayi itu ketika Indira akan mendorongnya.
"Meletakkan di sana." Jawabnya dengan arah mata menunjukan tempat dimana dirinya akan menaruh box itu.
"Tidak perlu, lagian ini sudah sore pasti Aldrick mencari kita." Allan meraih tubuh istrinya untuk di ajak keluar dari ruangan yang akan ditempati Beby mereka nanti.
"Tapi sebentar lagi Bang, tanggung." Ucapnya merengek ketika tubuhnya di bawa keluar.
"No.. besok lagi Abang akan temani kamu, dan sekarang kamu temani Abang mandi." Allan langsung menggendong tubuh istrinya.
"Abang turunin..." Indira memukul dada suaminya dengan tawa.
"Tidak akan sebelum Abang beri hukuman karena sudah membuat Abang lelah." Allan menatap dada Indira yang terlihat begitu menggoda karena Indira memakai daster tanpa lengan dengan belahan dada rendah.
Allan tertawa dan membawa Indira masuk kedalam kamar mandi.
"Kita mandi bersama." Allan menaruh tubuh Indira kedalam balthub.
Allan segera melucuti pakaian yang menempel di tubuhnya hingga kini dirinya polos.
Indira yang melihat hanya memalingkan wajah, karena dirinya juga sudah melepas daster yang Ia kenakan ketika air di dalam balthub sudah hampir penuh tadi.
"Abang Merindukan ini." Tangannya menyentuh inti Indira di bawah sana.
"Emph.." Indira hanya meleguh ketika tangan Allan bermain di bawah sana, dan bibirnya keduanya kini sudah saling melumatt.
Napas keduanya memburu ketika gairah di tubuh keduanya meningkat ingin melakukan sesuatu yang lebih.
"Ahh.." Indira mendesahh ketika buah dadanya di remas dengan perlahan dan pucuk dadanya di sesap secara bergantian, membuatnya kehilangan akal.
"Shh..Abang..emph.." Tangan nya meraih kepala Allan menekan kepalanya agar semakin dalam menyesap nippel nya yang lama-lama terasa gatal.
Allan yang sudah tak tahan segera menyuruh istrinya untuk berbalik.
"Ahh.." Keduanya kembali mendessahh bersama ketika inti keduanya menyatu dengan sempurna.
Indira duduk di atas kedua paha Allan dengan posisi membelakanginya.
"Bergerak sayang..ah." Allan menggeram rendah ketika Indira menggerakkan pinggulnya maju mundur.
Keduanya mulai berpacu untuk mencari kenikmatan yang selalu membuatnya candu, menikamati setiap gerakan yang begitu sensitif dan menggelora.
Suara erangan dan dessahhan mereka mengudara bersama, bersahut-sahutan untuk menggapai pelepasan yang begitu memabukkan.
Hingga hampir satu jam lamanya berada di dalam, kamar mandi terdengar suara erangan panjang dan di ikuti desaahann keras oleh Indira.