
Sudah tiga bulan semenjak kepergian sang nenek. mereka nampak merasa kehilangan sosok wanita tua yang sudah berubah termakan usia, jika dulu nenek wanita arogan dan sombong, menjunjung tinggi harkat dan martabat, bibit dan bobot. dan anak nya sendiri sebagai korban ke egoisa nya. kini wanita tua itu sudah sadar dan sudah kembali kepada sang pencipta.
Dua bulan lalu Arum dan Resa juga melangsungkan acara pertunangan dengan dihadiri para keluarga, kerabat dan sahabat. semua berjalan lancar, tinggal menunggu beberapa bulan lagi mereka akan menikah.
"Sayang, besok aku akan pergi ke luar kota, apa kau mau ikut?" Allan menatap istrinya yang sedang merapikan bekas sisa makan siang mereka di kantor Allan.
Hari ini Indira yang datang ke kantor Allan dengan membawa makanan yang ia masak sendiri. "Memang Abang gak repot bawa aku?" Tanya Indira dengan mengelap meja pakai tisu.
"Justru Abang senang, jika kamu ikut kemanapun Abang pergi." Allan mengulurkan tangan nya, agar Indira mendekat.
"Berapa hari?"
"Tiga hari, bisa lebih. tergantung masalah disana selesai nya."
"Boleh deh, nanti butik aku serahin sama Rere." Indira tersenyum.
Rere sudah menjadi orang kepercayaan Indira, Indira sendiri yang mentraning kemampuan Rere dan ternyata gadis itu sangat berpotensi dan cerdas.
"Sekalian kita honeymoon." Allan mengecup bibir Indira.
"Em..baru satu Minggu lalu dokter memperbolehkan, Abang langsung gas pol aja." Indira terkekeh.
"Apa kamu gak kasian dan terong premium Abang?" Allan menampilkan wajah memelas.
"Enggak, orang tiap malam dia dapat spa VVIP."
Allan tertawa hingga kepalanya terdongak mendengar ucapan istrinya.
"Kamu emang pinter buka servisnya sayang." Allan menggoda sang istri.
"Kalo gak kasian, males lah." Indira pura-pura cuek, padahal hatinya senang karena suami menyukai servisnya.
"Ya ampun, dosa sayang kalo gak mau melayani suami."
"Dih, bawa-bawa dosa."
"Loh gak percaya." Allan meraih pinggang istrinya gemas dirinya langsung menyambar bibir tipis istrinya yang selalu menjadi candunya.
Keduanya menikmati hidangan penutup yang sangat nikmat dan membangkitkan gelora panas di jiwa.
Allan menyesap bibir bawah Indira dengan kuat, seakan benda kenyal itu bisa ia makan.
"Abang..egh." Indira bergerak gelisah diatas pangkuan Allan, tonjolan terong premium membuat milik nya berkedut.
"Kita lanjutkan didalam." Allan membopong tubuh istrinya, dan kembali meraup bibir yang sudah bengkak akibat ulahnya itu. Kini keduanya menikmati gelora bercinta disiang hari.
.
.
.
.
"Apa Indira ada?" tanya pria itu.
"Maaf, ibu sedang keluar mungkin ada yang bisa saya bantu?"
"Saya mau ambil pesanan saya beberapa hari lalu."
"Nama bapak siapa?"
"Riko Kusuma." Riko hanya berbicara dengan nada datar kepada Rere.
"sebentar saya ambilkan."
"Dih, Dira punya karyawan modelan begitu." Riko menatap punggung Rere, rambut panjang, pinggang ramping dan bokong tidak terlalu menonjol. "Udah kayak bentuk triplek aja."
Riko menunggu di sofa tunggu diruangan itu, dirinya sedang sibuk dengan ponselnya.
"Maaf pak, sudah saya cari tidak ada pesanan nama bapak?" Tiba-tiba Rere muncul didepan Riko.
"Duh, ngagetin aja sih." Mendengar itu Rere hanya menunduk.
"Mana pesanan saya?" Riko menatap Rere.
"Maaf saya tidak menemukan pesanan bapak, mungkin anda salah toko." Ucap Rere yang memang belum tahu siapa Riko.
"Lah, kamu kan yang diberi tanggung jawab Dira buat jaga toko, masa gak tau dimana pesanan saya." Riko kesal karena sudah menunggu lama, dan wanita triplek didepan nya ini malah membuatnya jengkel.
"Tapi pesanan atas nama bapak tidak ada, jadi mungkin anda tidak lesan disini." Rere tetap kekeh, karena memang dirinya tidak menemukan pesanan atas nama Riko di tempat penyimpanan semua pesanan.
"Wah ngadi-ngadi ni orang kalo ngomong." Riko kesal bukan main. "Modelan orang kayak kamu kok bisa di terima, buta kali si Dira." Riko meremehkan Rere.
Mendengar ucapan Riko, Rere meradang. "Heh, pria sombong. jangan mentang-mentang anda tamu terus saya takut ya. penampilan anda saja yang keren, tapi kelakuan mines." Rere bersungut pada Riko dengan tatapan sinis.
"Eh.. loe berani ya ngatain gue." Riko merasa di hina oleh gadis triplek itu.
"Berani lah, emang bapak siapa men-judge saya." Rere menatap tajam Riko.
kini para karyawan nampak bisik-bisik memerhatikan mereka berdua yang sedang berdebat.
"Dasar modelan triplek." Riko pun segera pergi setelah berucap, kesal nya sudah diubun-ubun tapi ia masih bisa menahannya, karena di toko adik sepupunya sendiri. "Awas aja kalo ketemu lagi gue sikat loe."
"Huh.. cowok nyebelin, tampan ok, akhlak no." Rere menatap punggung Riko kesal. "Eh maksudnya ngatain gue modelan triplek apa ya?" Rere hanya berpikir dan menatap dirinya sendiri. "Hisss Awas aja kalau ketemu lagi."
.
.
.
Like...komen..jangan pelit gaess...😘😘