
๐น
๐น
๐น
Ballroom hotel kini nampak ramai dimana seorang pengusaha sukses menggelar acara resepsi pernikahannya.
Allan bersama sang istri, ya sekarang itulah gelar baru bagi Indira, istri seorang Allanaro Putra Aditama. Mereka berdua nampak bahagia dan selalu tersenyum ketika para kolega, sahabat dan keluarga memberi selamat dan mengucapkan doa, Buah dari kesabaran dan pengorbanan kini menyatukan mereka berdua dalam ikatan pernikahan.
Sahabat Indira nampak ramai berjalan menuju pelaminan mereka semua membawa pasangan kecuali Bimo, Guntur yang katanya jomblo membawa seorang gadis.
"Aaaa gue baper pengen cepet nyusul." Kiki langsung memeluk Indira diikuti Arum, ketiganya berpelukan heboh sampai-sampai Allan hampir saja tertabrak Kiki.
"Semoga loe cepet dapet baby beb."
"Makasih kalian emang best friend gue." Mereka bertiga berpelukan seperti anak remaja yang baru ketemu.
Dan semua sahabat mengucapkan selamat, mereka semua berfoto Selfi dengan wajah bahagia.
.
.
.
Pesta usai pukul sebelas malam, kini semua sudah kembali ke rumahnya masing-masing hanya saja sepasang pengantin baru itu yang akan menikmati malam pengantin mereka hingga esok di hotel mewah milik Keluarga Aditama.
Indira sedang duduk dikursi depan cermin dirinya melepas aksesoris yang ada di kepalanya.
Ceklek
Allan masuk ke kamar setelah berbincang dengan para sahabatnya.
"Sedang apa sayang." Allan berjalan mendekati istrinya yang sedang mencoba menurunkan resleting gaun nya.
"Tangan aku gak sampai Bang, bantuin." Allan pun tersenyum, istrinya ini tidak malu, dan Malah menyuruhnya membantu. jika pengantin lainnya pasti sudah malu-malu tapi mau.
Allan pun membantu Indira menurunkan resleting itu, mata Allan tak lepas dari punggung mulus istrinya, bahkan dirinya susah payah menelan salivanya. meskipun dirinya pernah melihat sekali tubuh istrinya tapi itu sudah empat tahun lalu, dan kini dirinya disuguhkan dengan pemandangan yang membuat adik kecil mengeliat.
Indira memejamkan mata sebentar merasakan tangan besar hangat menyapa pelan kulit punggung nya.
"Abang, aku mau mandi dulu." Indira berbalik badan, dan menatap wajah Allan yang nampak menahan sesuatu.
"Ma_mandi." Allan tergagap pikirannya masih berfantasi setelah melihat punggung mulus istrinya.
"Ya, aku atau Abang duluan yang mandi." Indira mencoba tenang, meskipun degub jantung nya sudah ingin melompat-lompat.
"Emm, kamu duluan sayang." Setelah mendapat jawaban Indira pun langsung melesat kedalam kamar mandi.
Allan meraup wajahnya kasar. "Sabar Jon, nanti kau akan bertemu." Allan bicara sambil mengelus sesuatu yang sudah berontak dibawah sana.
Indira pun keluar dengan masih menggunakan bathrobe putih.
Allan yang melihat istrinya keluar dari kamar mandi, dirinya juga langsung melesat masuk tanpa menyapa Indira.
"Lah, kok si Abang aneh." Indira hanya mengedikan bahunya melihat tingkah suaminya yang aneh.
Dirinya membuka sebuah paperbag pemberian kedua sahabatnya dan sepupunya, mereka bilang itu hadiah dari mereka, yaitu baju 'pemersatu bangsa'. Indira tertawa geli sendiri melihat bentuk lingerie yang sangat seksi dan transparan itu. "Sungguh kalian teman luknud."
Indira pun memakai pakaian 'Pemersatu bangsa' dengan warna hitam kontras dengan kulitnya yang putih. "Sungguh, ini gue udah kaya wanita penggoda beneran." Indira mematut dirinya didepan cermin, melihat lekuk tubuhnya yang sangat seksi apalagi dua buah dada yang nampak padat menonjol.
Ia kembali menuju ranjang, setelah menyelesaikan urusan perawatan kulit malam nya. Indira sengaja ingin menggoda suaminya di malam pertama. Entahlah padahal gadis itu tidak pernah melakukan sebelumnya, namun dirinya cukup berani, dimalam pertama yang biasa pengantin wanita akan merasa malu dan gugup, tapi dirinya malah menantang suaminya dengan pakaian setan itu. "Gak papa udah halal ini" Batin nya berbicara.
Tak lama Allan keluar dengan hanya bertelanjang dada, dan sebuah handuk putih melingkar di pinggangnya.
Ketika pandangan nya mengarah ke ranjang, tiba-tiba tenggorokan Allan terasa tercekat, degub jantung nya sudah menggila. Bayangkan saja jika seorang wanita cantik yaitu istrinya duduk di atas tempat tidur dengan memakai pakaian setan dan berpose sangat seksi. Allan menelan ludah dengan kasar, adik kecilnya yang sempat tidur kini kembali bereaksi.
"Sa-sayang." Suara berat Allan mengiringi langkahnya, mendekati Indira yang hanya diam dengan menatap Allan penuh godaan, gadis itu sengaja menggigit bibir bawahnya, ketika Allan berjalan mendekat.
"Apa Abang mau melakukannya." Indira bertanya dengan nada seksi, tangan mengelus rahang Allan yang sudah berada di dekat wajahnya.
"Jika sudah melakukannya, maka Abang tidak akan berhenti." Suara Allan bertambah berat, seiring dengan kabut gai*ah yang sudah membara.
"Hemm." Ingin menjawab, namun bibirnya sudah dilahap rakus oleh Allan.
Allan me*lu*mat dengan dalam bibir yang selalu membuatnya candu. Tangan nya menahan tengkuk Indira memperdalam ciuman mereka.
Indira mencoba mengimbangi serangan bibir Allan dengan menerima sapuan dan sesapan yang suaminya lakukan. Tangan Allan mulai bergerak, meraba dan meremas dengan lembut lekuk tubuh Indira.
Setelah puas bermain dengan bibir, lidah Allan menyusuri telinga Indira, menghembuskan napas hangatnya hingga membuat gadis itu meremang.
Lidah dan bibir nya menyusuri wajah hingga leher jenjang nan putih mulus itu. Allan adalah pria dewasa dirinya cukup lihai dalam melakukan hal yang berbau dewasa. Meskipun dirinya belum pernah melakukan hal suami istri.
Indira pun mengalungkan tangan nya di leher Allan ketika rasa nikmat menjalar di tubuhnya.
Tangan Allan bergerak menyentuh dada Indira yang masih terbungkus kain tipis alias baju setan. bibirnya tak berhenti bermain di area leher dan selangka Indira, tangan nya pun bergerak liar memainkan sesuatu yang membuat ga*rahnya kian menanjak.
Indira menikmati sentuhan dan cumbuan yang suaminya berikan, sungguh perlakuan Allan membuatnya hilang akal.
Allan menarik paksa lingerie yang Indira pakai hingga robek.
"Abang..!!" Indira memekik malu, membuat wajahnya merona dan tangan nya dengan reflek menyilang menutupi dadanya.
"Kenapa hm?" Tanpa melepas pandangan yang tertuju ke tubuh istrinya. "Jangan ditutupi sayang, mereka sangat indah." Allan meraih tangan Indira menyingkirkan tangan itu dari sesuatu yang sangat indah.
"Emmph..Abang." Indira memejamkan mata ketika lidah hangat Allan menyapa pucuk buah dadanya. Tangan nya menyusup dikepala Allan hingga menimbulkan rema*san kecil di rambut Allan.
Allan dengan penuh semangat menjelajahi area favoritnya, tangannya dengan pandai memberi pijatan dan memainkan pucuk buah Cherry itu.
Semakin Allan bermain dengan kasar semakin kuat Indira meremat rambut Allan. Bibir Allan menyusuri tubuh istri nya dengan meninggalkan kecupan basah hingga bercak merah menghiasi kulit putih Indira.
Mengecup, men*ji*lat dan men*ecap memberi tanda disekujur tubuh istrinya, hingga lidah Allan turun sampai di titik sensitif Indira.
Allan membuka kedua paha Indira, dan pemandangan yang sangat indah. Allan menatap wajah istrinya dengan senyum, Indira yang ditatap hanya membuang wajah malu. Kepala Allan menunduk hingga lidah nya menyapa sesuatu yang membuat Indira men*es*h.
"Emh..shh." Tangan Indira meraih kepala Allan yang sedang asik dengan sesuatu kenikmatan di bawah sana. Indira menekan kepala Allan agar semakin dalam lidah nya bermain di liang surgawinya, Suara Leguhan, Des*han Indira sudah tak terkendali ketikan bibir dan lidah Allan menyesap kuat area sensitifnya bersamaan sesuatu yang meledak dalam dirinya.
"Eghh..ah." Tangan Indira mencekram erat rambut Allan ketika gelombang kenikmatan itu meledak dalam dirinya, dan Allan pun menyesap habis cairan nikmat itu.
Wajah Allan mendongak menatap wajah istrinya yang sudah basah oleh keringat, wajah yang terlihat semakin seksi, mata Indira terlihat sayu, dadanya naik turun seirama dengan napasnya yang masih memburu.
"Kamu siap sayang." Allan mensejajarkan wajahnya dengan Indira, ia memberikan kecupan dikening dan bibir istrinya.
Indira hanya mengangguk sebagai respon. Medapat lampu hijau Allan pun segera memulai aksinya dengan mencium bibir istrinya dengan ganas. Lidah mereka saling me*lu*mat mencecap dan membelit mencurahkan ga*rah yang membara.
Allan mengarahkan Rudal yang sudah menegang dan mengeras siap untuk menyapa lembah surgawi sang istri.
"Sshh Abang.." Indira mencekram lengan Allan yang berada di samping tubuhnya ketika sesuatu benda yang besar dan asing ingin menerobos area sensitifnya.
"shh,, tahan sebentar sayang mungkin akan terasa sedikit sakit." Allan memberi ciuman dibibir istrinya berharap bisa mengalihkan rasa sakit nya.
"Ah..Emh.."era*ngan Indira tertahan ketika bibirnya dibungkam dengan bibir Allan.
"Maaf, tapi Abang tidak bisa berhenti." Allan mencium kening Indira, napas keduanya memburu, Allan merasakan sesuatu yang sempit mencekram kuat rudal nya dengan pijatan yang membuat gai*rahnya menggila.
Dengan gerakan pelan Allan menggerakkan pinggulnya seirama suara rin*tihan berubah menjadi de*sah*an yang membuat libidonya kian naik.
Keduanya menyatu dan melebur jadi satu, Allan tidak membiarkan istrinya berhenti untuk menyebut namanya ketika gelombang kenikmatan menyapa. Semakin kuat Allan menumbuk di bawah sana ketika dirinya yang ingin meledak dan rudal nya begitu keras dan mengembang lebih besar.
"Arrghh..!" Suara Geraman Allan mengiringi sesuatu yang hangat menghantam dinding rahim Indira. Pelepasan yang begitu hebat hingga Indira pun bergetar ketika merasakan semburan kuat didalamnya.
Allan ambruk diatas istrinya dengan napas tersengal-sengal merasakan sesuatu yang luar biasa nikmat dunia.
Menatap wajah istrinya yang masih memejamkan mata, peluh membasahi sekujur tubuh keduanya. dengan lembut Allan mencium kening dan bibir Indira sekilas lalu menarik miliknya dari dalam tubuh istrinya.
"Ah.." kedua nya meleguh ketika Allan menarik diri dan berbaring disamping istrinya.
"Terimakasih sayang." Allan merapatkan tubuh istrinya untuk ia peluk, dan Indira pun hanya tersenyum dan menggagguk sebagai respon. "Tidurlah, malam ini cukup satu ronde saja." Allan mengecup kening dan kepala istrinya.
Indira memeluk tubuh suaminya yang masih basah oleh peluh pergumulan panas mereka. dirinya bahagia karena bisa memberikan sesuatu yang berharga kepada suaminya disaat malam pertama pernikahan mereka.
Karena lelah Indira dengan cepat memejamkan mata dan masuk Allan mimpi, Allan pun segera menyusul sang istri yang lebih dulu terlelap setelah menutupi tubuh keduanya yang masih polos dengan selimut.
.
.
.
.
.
.
Maaf ya para penggemar Al_Ay, author nya agak ngaret up nya, karena sedang kurang fit. jadi kalo part nya kurang ngena.. om sorry๐.
.
.
Like...komen..hadiah kalian jangan lupa kirim sebanyak-banyaknya nya๐๐๐