
Keributan di butik membuat para pengunjung mengeluarkan ponsel nya, mengunggah Vidio Rere dan wanita yang sebagai pembuat onar secara langsung.
Banyak unggahan judul di postingan itu, bahkan nama butik IC Boutique tertera.
"Emak-emak julid mau bergaya sosialita tapi menipu"
"Ati karep bondo cupet"
"Mau tampil sosialita, tapi jiwa miskin"
"Mbak Rere is the best, hempaskan penipu ulung"
Dan masih banyak lagi judul yang mereka buat untuk kejadian live tersebut.
Secara tidak langsung butik Indira menjadi trending dan terkenal di media sosial.
"Saya tidak terima kamu menuduh saya." Wanita itu masih saja menampilkan keberaniannya meskipun sudah ketahuan menipu.
"Saya juga tidak terima nyonya memfitnah butik saja dengan kelakuan murahan anda." Rere menatap sengit wanita itu.
"Jika anda masih saja keras kepala dan membuat kekacauan di butik saya lagi, maka saya tidak akan segan-segan lapor polisi atas nama pencemaran." Rere bicara dengan tegas sorot matanya menatap tajam wanita yang lebih tua darinya itu, meskipun begitu Rere tidak akan takut jika jelas wanita itu bersalah.
"Awas kamu, ingat saya tidak akan tinggal diam." Wanita itu menunjuk wajah Rere dan segera keluar dari butik dengan wajah marah.
Pembeli di dalam butik menyoraki si penipu dengan nyinyiran.
"Huh...mau bergaya kok gak modal."
"Dasar emak-emak jiwa sosialita dompet BPJS."
Mereka semua kembali memilih pakaian dengan tenang, karena perusuh sudah pergi.
"Hufhh..kenapa jadi laper habis adu abab sama wanita gila." Rere duduk di kursi kerjanya.
"Wah mbak Rere emang the best, Meta salut." Ucap meta yang membawakan minum Rere.
"Kamu bisa aja Met." Rere terkekeh dan menerima minuman dari meta. "Gue Laper Met setelah adu urat tadi." Rere menegak minumannya hingga setengah.
"Emang mbak belum makan? ini sudah hampir mau sore mbak." Tanya Meta bingung.
"Belum sempat Met, Tadi belum berasa lapar sekarang baru terasa lapar habis mengeluarkan tenaga." Rere tertawa.
"Iss mbak yu kebiasaan makan telat, tinggal pesen mbak kalau Laper." Ucap Meta.
"Iya, ya kok gue jadi Lola kalau Laper." Rere menepuk keningnya, dan segera mengambil ponselnya di dalam tas.
"Ya ampun..mati gue." Rere menutup mulutnya terkejut, melihat tertera Hampir seratus panggilan tak terjawab dan 20 pesan masuk.
"Sayang kamu sudah berangkat belum?"
"Sayang aku sudah sampai di toko perhiasan, tapi kamu belum datang?"
"Kenapa panggilan aku tidak kamu angkat, apa memilih cincin pernikahan kita tidak penting bagimu."
"Re..Sudah satu jam aku menunggumu..!!"
Dan masih banyak lagi pesan masuk dari Riko yang sepertinya sudah marah dan kesal.
Siang ini Riko mengajak Rere untuk mencari cincin lamaran mereka, dan mereka janjian ditoko perhiasan langsung.
Rere mencoba menghubungi nomor Riko namun hingga panggilan ke lima tidak di angkat.
"Met, tolong jaga butik, gue ada urusan penting." Rere segera menyambar tasnya dan berjalan keluar butik menuju mobilnya.
Rere melajukan mobilnya menuju kantor Riko, kesibukan di tambak kekacauan di butik hari ini sungguh membuat nya lupa akan janji ketemuan mereka.
Rere melajukan kecepatan mobilnya sedikit kencang, jalanan yang sedikit lenggang membuatnya lebih cepat sampai ke kantor Riko.
Rere memakirkan mobilnya dan segera keluar menuju lobby kantor.
"Maaf mbak, apa pak Riko nya ada?" tanya Rere dengan napas sedikit memburu, karena rasa bersalah dan sedikit berlari menggunakan high heels membuatnya sedikit kesulitan.
"Ada mbak, silahkan keruangan nya di lantai 20." Ucap resepsionis wanita tersebut.
.
.
.
Indira yang berada di Mall dengan Lili sedang makan di salah satu restoran yang Indira pilih karena ibu hamil tersebut ingin makan soto khas Betawi.
Lili yang sedang melihat siaran langsung salah satu anggota sosialita nya di sebuah butik yang nampaknya sangat tidak asing baginya. "Ehh sayang bukanya ini Rere calonnya Riko?" Lili memperlihatkan Vidio yang sedang live di ponselnya.
"Mana mah." Indira mencondongkan tubuhnya mendekat kearah mertuanya. "Loh, Oya mah, kenapa bisa masuk sosmed begini." Mereka berdua nampak melihat siaran live tersebut dengan mata membola mendengar perkataan Rere yang sangat berani dan tegas tidak merasa takut.
"Wah...ini si calon sepupu minta di beri penghargaan mah." Indira nampak takjub melihat keberanian Rere di dalam Vidio live tersebut.
Lili menganggukkan kepala. "Iya, gak salah si Riko pilih calon istri. Bisa-bisa Riko dilibas jika berani menyenggol." Keduanya tertawa dan melihat Vidio itu sampai selesai.
"Mama yakin habis ini butik kamu pasti jadi terkenal di semua kalangan." Ucap Lili menatap Indra dengan senyum.
"Iya mah, dan itu semua berkat Rere yang berani."
Keduanya kembali dengan menyantap makanan mereka.
.
.
"Maaf pak Riko ada didalam?" Tanya Rere lada sekertaris yang sedang duduk di bilik meja kerjanya.
Wanita itu mendongak dan mendapati wanita yang pernah dibawa bosnya sekali ke kantor. "Oh..ada Bu, bapak sedang ada tamu." Ucap sekertaris tersebut.
"Emm.. apa aku harus menunggu mbak?" Tanya dengan sedikit wajah masam, karena ternyata Riko sedang ada tamu.
"Sepertinya tidak Bu, karena tamunya adalah teman pak Riko sendiri." Ucap sekertaris yang nama tag nya Dian. "Ibu masuk saja." Tambahnya lagi.
"Baiklah terimakasih mbak Dian." Rere melihat nama di bagian sisi dada Dian.
"Iya Bu."
Rere pun berjalan menuju ruangan Riko yang ternyata pintunya sedikit terbuka.
"Emm...ya sedikit kencang lagi Sya." Suara Riko pertama kali yang Rere dengar ketika tangan nya sudah memegang handel pintu untuk mendorong.
"Emhh..seperti ini..uhh.." Suara wanita terdengar jelas di telinga Rere, membuat dadanya kian berdebar kencang dengan pikiran mulai berkelana.
Rere merasa sakit hati mendengar suara yang seperti desaahhan satu sama lain.
"Ya..Sya rasanya enak sekali."
"Emmhh...kamu menyukainya beb."
Dada Rere kian sesak mendengar pembicaraan dua insan yang seperti sedang melakukan sesuatu.
Karena tidak tahan mendengar lebih lama, Rere pun mendorong pintu dengan kuat hingga menimbulkan bunyi nyaring yang membuat kedua orang didalam terkejut.
Rere yang melihat Riko sedang duduk di sofa dan seorang wanita yang menggunakan baju seksi nampak menempelkan tonjolan buah dada nya intens ke tubuh Riko.
Riko yang mendengar pintu di buka keras ingin mengumpat namun ketika matanya melihat Rere dengan wajah menahan amarah hanya menelan salivanya kasar.
"Re_Rere." Riko yang masih terkejut lupa jika ada wanita yang begitu dekat dan sangat intens pada dirinya.
"Maaf kalau saya mengganggu." Rere menatap Riko dengan wajah kecewa, dan segera pergi dengan perasaan hancur.
Keputusan nya untuk mendatangi Riko di kantornya ternyata malah membuat hatinya sakit, Rere pikir Riko sedang sibuk bekerja karena tidak mengangkat panggilan nya. Tapi ternyata dia salah, Riko malah asik berduaan dengan seorang wanita.
.
.
Duh..bang Riko ada-ada aja sih..🤣🤣
Like...Komen..tinggalkan jejak kalian para reader kesayangan...👍👍😘