
Sudah satu bulan semenjak Indira pergi ke Paris untuk belajar dan mengejar mimpi. Dirinya giat belajar, bahkan ia juga memasukkan lamaran kesebuah rumah perancang busana, Indira memberikan contoh-contoh sketsa gambar hasil Disaine nya, mencoba hal baru untuk mendapat pengalaman apa salahnya, asalkan tidak mengganggu kuliahnya. Dirinya sudah sedikit banyak fasih berbahasa Prancis, karena sering bersama Biana istri Nicolas jadi dia cepat menguasai.
"Bienvenue mademoiselle" (selamat datang nona). Sapa pelayan sebuah cafe. Indira datang kesebuah cafe karena undangan teman barunya yang bernama Emeli.
Indira mencari keberadaan Emeli yang ternyata duduk dipojok cafe itu.
"Hay Eme..?" Eme ialah panggilan gadis itu. sapa Indira ketika sampai dimeja yang diduduki Emeli.
"Hay Dira." Emeli tersenyum manis.
note: disini author pake bahasa indonesia ye,,kalo bahasa Prancis tar gak kelar-kelar nulisnya, yang ada Autornya bolak balik translate...wkwkwk.
"Kau mau pesan apa, ayo aku tlaktir." Ucap Emeli dengan tawa.
"Wahh..apa kau sedang berulang tahun." tanya Indira tertawa.
"No.. aku hanya sedang bahagia karena mendapat teman baik sepertimu." Ucap Emeli.
Emeli adalah gadis cantik namun ia adalah tipe perempuan yang Introvert.
Introvert adalah memiliki kepribadian pendiam, pemalu dan suka menyendiri.
"Wow aku sangat tersanjung." Jawab Indira bangga.
"Ya karena kamu adalah gadis baik dan tulus kepada sesama."
Pesanan mereka datang, namun karena pelayan sedikit ceroboh hingga minuman yang di pesan Indira pun bisa tumpah dan mengenai bajunya.
"Perdonne moi mademoiselle." (maafkan saya nona). pelayan itu ingin membantu membersihkan, tetapi Indira menolak.
"Tidak apa-apa." Indira pamit sama Emeli ke toilet cafe itu.
Indira berjalan dengan menunduk karena sambil membersihkan noda minum yang nampak membekas di baju warna putihnya.
Bugh
Tanpa melihat jalan Indira menabrak seseorang.
"Desole monsieur" (maaf tuan)
Indira minta maaf dengan mengambilakan ponsel orang itu yang jatuh.
"It's oke Miss." Pria itu menjawab dengan bahasa Inggris karena melihat wajah Indira indentik dengan wajah orang Asia.
"Apa anda dari Indonesia nona?" tanya pria itu langsung menggunakan bahasa Indonesia.
Indira mengerutkan keningnya. " Bagaimana anda tahu."
Pria itu tersenyum. "Wajah anda cantik seperti orang Asia."
Indira hanya tersenyum, menanggapi rayuan pria itu. "Maaf ponsel anda jatuh, saya buru-buru ingin ke toilet." Indira menyerahkan ponsel pria itu.
"Ah.. ya tidak apa-apa, lain kali hati-hati nona em..?"
"Indira, nama saya Indira." Ucap nya, karena pria itu bingung memanggil namanya.
"Oh ya.. nona Indira."
"Kalau begitu saya permisi." Indira segera masuk ketoilet hingga tubuhnya hilang dipintu toilet wanita.
"Indira, nama yang cantik." Pria itu pergi dengan senyum yang masih terpatri.
Indira keluar dan kembali menuju meja Emeli.
"Kamu tidak apa-apa?" Emeli khawatir.
"Tidak apa-apa, ayo kita makan."
Mereka pun menghabiskan pesanan makan mereka diselingi obrolan yang membuat mereka tertawa.
........................
Malam hari Allan sengaja keluar dengan Jimmy. hanya untuk menghilangkan rasa bosan dan rindu yang mendera.
Dirinya sedang berada disebuah cafe, ditemani Jimmy dengan memesan secangkir kopi. Jimmy juga dekat dengan Allan semua urusan kantor Allan, Jimmy yang dipercaya, terkadang Allan juga datang kerumah Jimmy untuk bermain dengan anaknya yang masih balita.
"Kenapa tidak melakukan kencan dengan wanita, alih-alih bersama saya tuan." Ucap Jimmy.
"Wanita mana yang bisa gue kencani selain Indira." Allan sedikit banyak sudah bercerita dengan Jimmy tentang Indira.
"Cih..pria kesepian." Jimmy mencibir, hilang sudah rasa hormat pada atasannya.
"Masih sebulan bisa setia, entah kalo sudah satu tahun." lagi-lagi Jimmy mencibir.
Allan berdecak menatap Jimmy sengit. "Gak usah loe ngatain gue, selama ini gue juga sendiri, bertahun-tahun, sebelum hati gue nemuin Indira." Allan menyanggah ucapan Jimmy.
"Hahhaha... percaya kalo setia sampai empat tahun kedepan." Jimmy tertawa, melihat wajah bosnya yang kesal.
Dari dalam cafe Allan melihat seorang gadis berdiri dipinggir jalan, dan sepertinya Allan mengenali gadis itu.
Allan melihat tiba-tiba gadis itu didekati dua orang pria berpakaian preman.
"Jim, loe bayar gue tunggu diluar." Allan segera keluar dengan langkah tergesa. dirinya melihat Rania yang ditarik-tarik preman itu.
"Lepas..!!" Rania berteriak meronta.
Kedua preman itu masih memaksa Rania yang sudah berontak.
"Hei..!Lepaskan tangan kalian." Allan berteriak dari arah belakang ketiga orang itu.
Mereka semua menoleh. "Om Al." Rania bergumam.
"Mau apa Lo, cari mati." Pria sangar berambut gimbal itu mendelik kearah Allan.
"Loe gak malu, badan loe pada kaya kingkong mainnya sama cewek, banci loe." Allan tersenyum remeh, membuat kedua pria itu geram dan emosi.
"Sialan, nantangin loe." Mereka berdua maju, sehingga cekalan ditubuh Rania lepas, Rania segera mundur menyelamatkan diri.
"Cih..beraninya keroyokan." Allan menatap sinis kedua preman itu.
"Kurang ajar."
Preman itu maju menyerang Allan bersaman, terjadilah peristiwa baku hantam, Allan yang memang bisa bela diri membuatnya sangat mudah menghindar.
Bugh
bugh
Dua pukulan diwajah pria sangar itu membuatnya mundur hingga jatuh aspal jalan.
"Masih berani loe sini maju." Allan meludah demi mengatur napasnya yang memburu karena olah raga malam yang ia lakukan, sudah lama dirinya tidak melakukan baku hantam ternyata lumayan menyenangkan.
"Boss." Jimmy datang dengan berlari, ketika dirinya keluar dari cafe ia melihat Allan sedang berkelahi.
Preman itu pun pergi melihat Allan yang hendak menyerang mereka lagi.
Sedangkan Rania hanya diam dan takjub melihat aksi baku hantam Allan dengan dua preman tadi.
'beuhh keren bethh, pria idaman'
Allan berjalan menghampiri Rania yang berdiri dengan memeluk ransel nya.
"Kamu ngapain malam-malam berkeliaran diluar sendirian?" Tanya Allan menatap Rania heran, karena daerah cafe dengan rumah Rania yang cukup jauh.
Rania hanya menyengir. "Tadi ada perlu Om makanya sampai sini." Rania sedang janjian dengan sahabatnya yang katanya ada tempat nongkrong baru yang keren, sehingga dirinya sengaja keluar dengan cara kabur, naas malah kena musibah dihadang preman.
"Bos kenal?" tanya Jimmy yang melihat mereka nampak akrab.
"Kenal." Jawab Allan. "Ayo saya antar kamu pulang, lain kali jangan keluar malam jika sendirian." Allan berjalan menuju mobilnya, diikuti Jimmy dan Rania.
"Om sedang apa di daerah sini?" Rania yang duduk didepan disamping Jimmy yang mengemudi.
Allan yang sedang melihat ponsel dengan tampilan akun medsos Indira membuatnya tidak mendengarkan ucapan Rania.
Jimmy melirik bosnya dari spion. "Pantas saja." Bergumam namun Rania masih mendengar.
"Pantas saja apa Om?" Rania kepo.
"Dia tidak akan mendengar ataupun perduli dengan sekeliling jika sedang memikirkan gadisnya "
Ucapan Jimmy, membuat Rania kembali menatap Allan kebelakang. 'Ternyata sudah punya pacar' gumamnya dalam hati.
.
.
.
.
Author hari ini hilapnya kebangetan, kalian harus rajin kasih like..komen.. kirim hadiah sebanyak-banyaknya siapa tahu Autornya hilap tiap hariπ€£π€£π€£. Sangu bobok kalian dapet salam dari Bang Al.πππ