Pembantuku Canduku

Pembantuku Canduku
Part36


"Abang mau apa?" Indira terkejut ketika Allan semakin mendekatkan wajahnya.


"Menyuapimu dengan caraku sendiri."


"Ti-tidak perlu aku bisa makan sendiri." Indira menjadi gugup dan berdebar ketika Allan semakin intens mendekati wajahnya.


"Bagus, jadi sekarang makan lah." Sebenarnya dari tadi Allan sudah menahan tawa melihat polosnya wajah Indira bercampur rasa takut.


Dirinya merasa geli sendiri dan ingin tertawa keras.


"Mulai hari ini kamu jagain Mama dan temani Mama, tidak perlu merawat kebun bunga Mama, biarkan orang lain yang mengurusnya." Allan berbicara santai sambil menyuapkan nasi.


"Kenapa? Aku senang bis merawat kebun bunga Oma." Indira sedikit tidak terima jika pekerjaan dirinya digantikan orang lain. meskipun disuruh menjaga Oma tetapi dirinya masih ingin merawat kebun itu.


"Tidak usah protes, sekarang majikan mu adalah aku, jadi menurut saja apa kataku." Ucap Allan santai namun tersirat akan ketegasan.


Indira hanya diam dan tetap melahap makanan nya, jika begini maka hidupnya akan penuh drama menyebalkan dengan pria itu. Tamat sudah riwatmu Aya.


.........................


"Mama kenapa bisa sakit?" Leina yang mendengar kabar bahwa Lili sakit dari Allan langsung datang ketika malam hari bersama suami dan anaknya.


"Mama tidak apa-apa nak, hanya kecapean."


"Mama sudah tidak muda lagi jadi jangan terlalu banyak aktivitas dan bekerja berat." Leina menatap Mamanya dengan rasa sedih.


"Iya,, Mama tidak akan melakukan nya lagi." Lili membelai kepala Leina dengan lembut, meskipun putrinya ini sangat sibuk tetapi masih tetap perhatian dan peduli kepada dirinya.


"Mama sudah makan? minum obat?" Tanya Leina beruntun.


"Sudah, seharian Mama dirawat sama Dira..jadi Mama sudah sehat kembali." Ucap Lili dengan tersenyum.


"Syukurlah.. Mama sebaiknya istirahat." Leina membantu merebahkan tubuh Lili dan menaikan selimut hingga batas perut.


"Terimakasih sayang." Ucap Lili tulus.


"Mama tidak perlu berterimakasih, justru Lei yang minta maaf, tidak bisa menjaga mama." Leina mengecup kening Lili, dengan wajah sendu.


....................


"Sebenernya kenapa Mama bisa kecapean dan drop Al?" Leina yang tiba diruang keluarga menyusul suami anak dan adiknya itu.


"Mungkin karena kecapean dan Mama kurang istirahat kak, kemarin Mama sangat bersemangat hingga lupa waktu ketika berbelanja." Ucap Allan sambil menyesap cangkir kopi yang dibuatkan mbok nah.


"Berbelanja? Sejak kapan Mama lupa waktu jika sedang berbelanja?" Leina menautkan kedua alisnya, berpikir sejak kapan Mamanya lupa waktu saat berbelanja.


"Sejak ada nya gadis itu dirumah ini, sangking asiknya Mama sampai lupa waktu." Ucap Allan yang melihat raut wajah bingung kakaknya.


"Jadi sekarang Mama punya teman untuk? seorang gadis?" Tanya Leina lagi.


"Ya.. gadis yang pernah Mama bicarakan waktu kakak, datang kemari."


Suami dan anak Leina hanya diam menyimak dengan mata menatap acara tv dan memakan cemilan, anak dan ayah memiliki kebiasaan yang sama jika sedang disandingkan.


"Mas.. Imo, malam ini kita menginap dirumah Mama ya." Leina memberi tahu keinginan nya kepada anak dan suaminya.


"Oke." Jawaban serempak anak dan ayah itu ucapkan, membuat dua orang kakak adik itu menggelengkan kepala dan tersenyum melihat tingkah kedua nya yang sama persis.


"Jika kamu nanti punya anak, kamu akan merasakan sendiri seperti mereka." Leina berdiri menuju kamar Mama nya kembali setelah mengatakan hal itu pada Allan.


Allan hanya tersenyum, mungkin benar jika nanti dia mempunyai anak maka dirinya akan mempunyai kesamaan dengan anaknya. Semoga ibu dari anak gue gadis bar-bar dan cerewet itu. Allan tersenyum sendiri ketika mengingat wajah Indira.


...................


"Masuk." Suara jawaban dari dalam membuat seseorang diluar membuka pintu.


"Om belum tidur." Tanya orang itu.


"Oh..Hay boy.. Belum, kemari." Allan menyuruh keponakan nya masuk kedalam kamarnya.


"Apa Om sibuk?" Dirinya melihat Allan sedang memangku laptop diatas tempat tidur.


"Tidak juga, hanya sedikit memeriksa berkas yang belum selesai dikantor." Allan menutup laptopnya ketika sudah selesai, kebetulan ketika keponakan nya datang ia hanya tinggal menyimpan file tersebut, jadi sekarang dirinya bisa mengobrol dengan keponakan nya itu. " Tumben datang kekamar Om? ada apa?" Karena tidak biasanya ponakan nya ini mendatanginya ketika sudah didalam kamar.


Pria yang sering akrab dipanggil Imo itu segera merebahkan diri disamping Allan duduk. sebenarnya dirinya tidak suka nama panggilan yang diberikan kepada nenek, Mama dan papanya ketika kecil berlanjut hingga remaja sekarang.


"Apa Om pernah, menyukai seorang gadis?" Ponakan Allan to the poin jika ingin menanyakan sesuatu atau menyampaikan sesuatu, dirinya tidak suka bertele-tele.


"Apa kamu sedang menyukai seorang gadis?" Allan malah balik bertanya.


"Hem..sepertinya begitu." Datar dan terkesan cuek, entah menurun dari sifat siapa, jika kedua orang tuanya kayaknya tidak mungkin.


"Ternyata kamu sudah besar, Perasaan baru kemarin Om menggendong kamu." Allan terkekeh kecil, ponakan nya sekarang sudah besar bahkan sebentar lagi lulus sekolah, sedangkan dirinya sebentar lagi sudah akan berusia kepala tiga.


"Om yang terlalu tua, tetapi belum mau menikah juga." Meledek Allan pria itu dengan wajah menyebalkan.


"Ck. kau meledek Om." Allan melempar bantal kearah ponakannya dengan kesal.


"Itu kenyataan." Imo tertawa ketika melihat wajah kesal Allan.


"Siapa gadis yang bernasib si*al yang disukai oleh cowok dingin seperti kamu." Allan kembali meledek ponakan nya.


"Dih, gini-gini gue jadi mostwanted ya di sekolah." Ucapnya bangga.


"Buta mereka yang tergila-gila sama loe." Begitulah Allan dan keponakan, berawal saling sopan, meledek dan berakhir seperti berbicara kepada sesama kawan.


"Ada cewek yang selalu bikin hati gue berdebar Om, dia selalu cuek dan apa adanya, tidak seperti kebanyakan gadis lainya yang." Ucapnya sambil mengingat wajah cantik Indira ketika tersenyum tertawa dan cemberut. membuat dirinya tak sadar ikut tersenyum.


Allan yang juga berbaring disamping ponakannya dengan tangan dibelakang kepala sebagai bantalan, heran ketika melihat Imo tersenyum sendiri. "Kesambet loe."


"Dia cantik dan manis Om, meskipun tingkahnya bar-bar." Allan tahu jika keponakan nya sedang membayangkan gadis itu, makanya dirinya tersenyum sendiri.


"Jika menurutmu baik dan patut diperjuangkan maka perjuangkan lah, ketika kita sudah menyayangi dan mencintai seseorang, tetapi kita takut untuk menyampaikan maka hanya penyesalan yang kita dapat setelah orang itu pergi dan kita baru sadar." Allan sebagai orang yang lebih berpengalaman memberi nasehat kepada keponakan nya itu.


"Gue hanya gak bisa jika menjalin hubungan terus gue harus pergi ninggalin dia, karena gue memilih pendidikan diluar ketimbang disini Om." Imo menghela napas sebelum melanjutkan.


"Dan gue hanya cukup bisa membuatnya bahagia, gue maupun dia selalu ada buat kita bersama, yang pasti gue udah ungkapin perasaan gue kedua, meskipun gue gak berharap balasan dari dia, karena gue sadar, gue akan tinggalin dia." Lanjut Imo dengan menatap langit-langit kamar Allan.


"Siapa nama gadis yang beruntung dapetin ponakan tampan Om ini?" Allan menepuk kepalanya pelan.


Tersenyum tipis jika mengingat kembali gadis itu. "Namanya...


..............


Like,komen..tinggalkan jejak kalian🄰


Mampir karya author satunya "Cinta Tak Direstui"