Pembantuku Canduku

Pembantuku Canduku
Part65


Setelah adegan ungkapan rasa cinta keduanya, yang berakhir dengan Indira menerima lamaran Allan. Meskipun Indira masih harus menyelesaikan kuliahnya kurang lebih satu tahun kedepan, namun diterimanya cinta nya sudah membuat Allan bahagia.


Dirinya tidak sabar menunggu waktu itu akan tiba, dimana wanita yang dulu menjadi pembantu dirumahnya akan menjadi pendamping hidupnya. Sungguh dirinya tidak menyangka cintanya akan berlabuh kepada gadis yang terpaut 9tahun dari umurnya.


"Kamu jaga diri baik-baik selama tidak ada Abang." Allan berucap dengan memeluk gadis itu erat, seakan tidak rela meninggalkan nya.


"Abang juga hati-hati disana, jaga hati Abang buat aku."


Allan merogoh saku celana nya dan mengeluarkan sebuah kotak berwarna merah.


Indira melebarkan matanya ketika Allan membuka kotak itu dan berisikan cincin yang sangat cantik.


Allan memakaikan cincin itu dijari manis Indira. "Agar kamu selalu ingat, jika kamu milik Abang." Allan mengecup punggung tangan Indira.


Indira merasa terharu, matanya sudah berkaca-kaca. "Aku akan selalu ingat Abang."


Kini mereka berada di bandara, Indira mengantar Allan yang akan kembali ke Jakarta. Meskipun masih ingin ditemani dan merindukan pria yang sekarang menjadi kekasihnya tapi ia juga ingat jika Allan mempunyai tanggung jawab besar disana.


"Itu pasti, Abang akan jaga hati Abang hanya buat kamu Seorang." Allan tersenyum.


"Gombal...Buktinya Abang, baru aku tinggal udah bisa tunangan sama Siska." Indira mencebikkan bibirnya.


"Itu hanya untuk misi sayang, tidak lebih." Allan menarik hidung kecil Indira.


"Awas aja kalo aku denger kek gitu lagi, aku gak akan pernah lagi nunjukin diri aku didepan Abang selamanya." Ucap Indira dengan wajah yang dibuat serius.


Allan hanya terkekeh mendengar ucapan gadis itu. "Abang janji, tidak akan mengulanginya." Allan mencium kening Indira.


"Yasudah Abang pulang dulu calon istri." Ucap Allan dengan mengusap kepala Indira lembut.


Mendengar ucapan 'calon istri' entah mengapa membuat jantung Indira berdebar dan membuat rona merah diwajahnya.


"Cie... calon istri Abang blushing." Ucap Allan menggoda dan menoel pipi Indira.


"Isss Abang..." Indira memukul dada Allan dengan wajah malu.


"Ingat jangan deket-deket sama curut yang bernama Riko."


"Riko aja Abang, gak usah pakai curut."


"Apapun, yang penting jangan sampe kamu suka sama dia."


"Iya..iya Abang bawel." Indira menatap tajam Allan.


"gak mau ikut pulang sekalian."


"Nanti kalo udah berhasil dan lulus dengan nilai terbaik." Ucap Indira dengan senyum.


"Abang percaya, kalau kamu akan lulus dengan nilai terbaik." Allan kembali memeluk gadis itu erat.


"Hem...Semoga aku gak ngecewain Abang."


Allan menatap wajah cantik yang sangat akan ia rindukan setelah kembali berpisah, jarak dan waktu.


Allan mendekatkan wajahnya hingga bibirnya menempel sempurna di bibir Indira, kecupan dan sedikit lu*ma*tan, ia menye*ap dalam bibir yang menjadi candunya itu.


"Abang akan tunggu kamu pulang."


Allan mencium wajah Indira bertubi-tubi tanpa ada yang terlewat.


Sedangkan Nicolas sedari tadi lebih memilih menjauh dari kedua sejoli yang dimabuk asmara, terkadang mereka berdua bermesraan dan tidak lihat dimana tempat. Untung berada di negara yang sudah awam dengan perilaku seperti itu.


Indira melepas kepergian Allan dengan senyum manis, berharap dirinya juga akan segera menyusul pulang kembali ketanah kelahirannya.


Ia bahagia melihat pria yang juga ia cintai bahagia. dirinya sangat beruntung mendapatkan pria sebaik Allan. Ia juga beruntung memiliki orang-orang dekat yang sangat menyanyangi dirinya, meskipun tanpa ada ikatan darah atau pun saudara.


"Ayo kita kembali, kamu harus segera berangkat kuliah." Nicolas baru saja juga melepas kepulangan bosnya.


"Oke."


Mereka pun segera keluar dan masuk mobil, Nicolas melajukan mobilnya menuju kampus Indira.


"Om Kak Biana kapan akan melahirkan." tanya Indira kepada Nicolas.


"Sekitar dua Minggu lagi." Jawab Nicolas dengan senyum bahagia. Sebagai seorang pria yang sudah menikah tidak dipungkiri dirinya ingin sekali memiliki keturunan dan mempunyai keluarga kecil yang lengkap.


"Wahh sebentar lagi lahiran dong Om."


Mereka berdua berbicara seperti biasa, Nicolas yang sudah menganggap Indira seperti adik begitupun Biana juga mengganggap gadis cantik itu juga seperti adiknya.


Tak heran jika biasanya Indira menginap dirumah Nicolas karena merindukan wanita yang sudah ia anggap seperti kakaknya itu.


.........................


Disebuah cafe yang sedang ramai dengan banyak nya pengunjung muda-mudi dimalam hari.


Nampak dimeja pojok dua meja yang dijadikan satu sedang ramai karena mereka berkumpul.


Resa, Arum, Kiki, jingga, Guntur. mereka memutuskan malam Minggu nongkrong bareng sahabat.


"Gila palak gue bisa botak lama-lama mikirin mapel yang buat otak gue beku." tingkah Guntur tidak berubah meskipun sudah tidak remaja lagi.


"Lah..emang otak loe gak pernah encer kalo soal sekolah mah." Kiki yang memang dasar gadis cerewet dan nyerocos tidak pernah hilang dari dirinya.


"Bener banget yank, si Guntur emang otaknya bebek." Ledek Jingga dengan merangkul bahu Kiki yang duduk disebelahnya.


Dan ternyata Kiki dan Jingga, mereka berdua menjalin hubungan setelah keduanya merasa apa yang membuat kedua nya cekcok, adalah cara tersendiri untuk mereka mempunyai hubungan yang lebih dekat.


Keduanya baru hampir dua tahun menjalin hubungan kekasih. Berbeda dengan Resa yang sedari lulus sekolah hingga sekarang masih awet dengan Arum.


Guntur masih saja menjomblo, terlalu banyak yang ia pacari sehingga membuat hatinya belum pernah merasakan sesuatu yang membuatnya berdebar-debar.


"Ini si curut satu belum nongol-nongol" Ucap Guntur dengan melihat kearah pintu, menunggu Raka yang belum datang juga.


"Palingan jemput doi nya yang manja." Ucap Kiki.


"Sorry bro..gue telat." Tiba-tiba suara Raka terdengar bersamaan orangnya yang muncul.


"Loe mah telat melulu. sok sibuk loe." Ucap Jingga mencibir.


"Sorry loe tau sendirilah kalo bawa cewek keluar malem harus minta ijin dulu." Raka bicara dengan menarik kursi untuk kekasihnya.


"Elah..yang udah punya pawang, buayanya jadi jinak gara-gara Nemu pawang penjinak." Guntur berucap.


"Emang loe, buaya belum tobat." Raka melempar kentang goreng kearah Guntur.


"Sialan loe.!!" Dan mereka pun tertawa bersama.


"Sumpah gue kangen masa-masa kita sekolah dulu, yang bisa kumpul bareng kek gini." Arum kembali mengingat masa-masa remaja yang penuh warna tanpa adanya beban.


Sahabat dan para teman yang selalu kompak membantu apapun yang mereka alami dalam kesulitan, dan sekarang hanya dua sahabat mereka yang belum bisa kembali berkumpul.


"Iya gue juga merindukan kenangan itu." Jingga menguyel kepalanya dipundak Kiki.


"Ck. gak usah modus, jing-jing." Kiki menyingkirkan kepala jingga di pundaknya.


"dikit doang yank, modusnya." Ucap Jingga dengan cengiran.


"Eh..loe belum kenalkan sama dua sahabat kita yang di Paris dan La." Arum bertanya pada pacar Raka.


"Belum kak." Ucap cewek itu yang memang adik tingkat mereka semua.


"Nanti kalo mereka udah pulang gue kenalin beb." Ucap Raka dengan menyesap minumannya.


Gadis itu hanya menganggukkan kepalanya, dirinya merasa beruntung bisa kenal dengan orang baik seperti kekasih dan para sahabat.


.


.


.


Bentar lagi mau ending..kalian jangan lupa like..komen..kirim banyak hadiah buat yang baru meresmikan hubungan🤣 Jangan pelit ya..para Fens Alay🥰🥰