
Dua gadis remaja sedang asik menikmati keseruan mereka dengan melakukan kesibukan di dapur. Indira yang cenderung suka memasak dan si Arum yang suka makan tetapi tidak pernah memasak.
"Gila..hebat loe Dir." Arum berdecak kagum melihat sahabatnya yang cekatan menggunakan alat tempur dapur, sedangkan dirinya mencoba memotong bawang sudah menangis terisak.
Indira hanya cuek dan tetap melanjutkan masaknya, jam sudah menunjukan jam delapan malam, tetapi mereka baru beranjak dari depan tv ketika perut Arum yang tiba-tiba keroncongan.
Indira selalu berbelanja sayuran dipagi hari pada tukang sayur yang lewat komplek perumahan nya sebelum dirinya berangkat sekolah.
"Wisss loe emang calon mantu idaman Dir." Lagi-lagi Arum memuji bakat Indira didapur.
"Gue jadi heran, gue pinter masak tapi gue pengen jadi Disainer?"
"Mendingan loe buka rumah makan atau toko kue, loe kan jago juga bikin kue." Ucap Arum yang membantu menaruh piring diatas meja.
Arum memutuskan untuk menginap dirumah Indira dan memberi kabar kepada ibunya bahwa dirinya tidak pulang dan menginap dirumah sahabatnya.
"Gue hanya hobi bisa masak, Tapi kalo Disainer cita-cita gue dari kecil Rum." Ucap Indira dengan menarik kursi dimeja makan.
Mereka mulai mengambil makanan
"Iya sih, tapi sekolah Disainer juga butuh biaya gede."
"Hem, gue juga lagi mikirin itu, mungkin setelah lulus gue cari kerja dulu."
"Nah ide bagus itu." Ketika mereka sedang asik makan dan mengobrol, terdengar suara pintu diketuk.
"Tumben ada tamu malam-malam?" Indira membeo.
"Mungkin tetangga loe."
Indira berjalan menuju pintu yang masih terdengar di ketuk.
"Tunggu sebentar."
Ceklek.
"Ehh... Abang." Indira nampak terkejut melihat kehadiran pria dewasa dirumahnya pada malam hari.
"Abang ganggu?"
"Em, tidak kebetulan kami sedang makan." Ucap Indira santai.
"Kami?" Tanya Allan karena dia juga tahu kalau Indira hanya tinggal sendiri.
"Iya sama temen aku."
"Apa Abang tidak boleh masuk."
"Eng..."
"Abang bawa sesuatu buat kamu." Allan menerabas masuk.
"Mana teman kamu." Allan mengedarkan pandangannya menyusuri ruangan.
"Lagi dimeja makan."
"ini buat kamu." Allan mengulurkan sebuah paperbag kepada Indira.
"Apa?" Tangan nya terulur menerima pemberian Allan.
"Buka saja." Setelah mengatakan itu Allan berjalan menuju dapur, dirinya berlagak sudah seperti rumahnya sendiri.
Indira belum sempat membuka dan langsung mengikuti langkah Allan yang menuju ke dapur.
"Eh.." Arum yang masih menyuapkan nasi kedalam mulutnya bengong melihat pria dewasa yang sangat rupawan itu berjalan ke arah nya.
"Iss Abang." Indira mendengus melihat pria dewasa itu seenaknya sendiri dirumahnya.
"Eh..ini teman kamu.?"
Allan sebenarnya hanya ingin memastikan siapa teman gadis yang sudah memenuhi pikiran nya itu, dirinya penasaran dan tanpa permisi dirinya nyelonong masuk rumah Indira meskipun gadis itu tidak menyuruhnya masuk. Dan ternyata dugaan nya salah ketika membayangkan yang dimaksud teman Indira adalah seorang wanita.
Pikiran Allan adalah seorang pria dan mereka berdua sedang berkencan.
"Hem.." Indira menaruh paperbag diatas meja yang tidak jauh dari tempatnya makan. dirinya melanjutkan makan nya yang tertunda karena kedatangan Allan.
"Ehh,, dia siapa?" Arum menyenggol lengan Indira.
"Anak Oma Lili." Jawabnya cuek.
"Abang tidak diajak makan." Sebelum disuruh Allan sudah mencari posisi duduk di depan gadis itu, karena posisi duduk Arum disamping Indira.
"Abang kan orang kaya, mana mau makan tumis kangkung sama tempe goreng doang." Ucap Indira cuek dengan menyuapkan nasi kemulutnya.
"Justru makanan kaya gini yang tidak pernah ada direstoran." Allan hanya beralasan agar dirinya tidak diejek oleh gadis cerewet itu.
Indira berdiri mengambilkan piring dan sendok untuk Allan.
"Tidak diambilkan sekalian?" goda Allan.
"Dih..siapa Abang, suami bukan." Ketusnya kembali ke tempat duduk nya.
"Abang si tidak keberatan jika kamu mau sama Abang." Allan berucap dengan nada bercanda, meskipun dalam hatinya ia sungguhan.
"Iya, dalam mimpi Abang."
Arum hanya diam dengan tetap makan meskipun mata dan telinganya melihat dan mendengar perdebatan mereka.
Kini Allan makan dengan nikmat meskipun baru pertama memakan sayuran lembek bernama kangkung itu, tapi dirinya menyukai masakan Indira sejak pertama gadis itu memasak dirumah nya.