
Indira berjalan dilorong sekolah dengan wajah biasa saja, meskipun tadi malam terjadi sesuatu yang menurutnya sangat bodoh karena terbuai oleh sentuhan Allan tetapi dirinya sungguh menikmati rasa yang pertama kali yang membuat kulitnya meremang dan darahnya berdesir hebat. Entah karena terbuai oleh sentuhan Allan atau Indira yang memang ingin merasakan sesuatu berbau dewasa, tetapi dirinya sungguh menikmati kegiatan mereka tadi malam, apakah dirinya sudah seperti jal*ng?
Indira menggelengkan kepala, apalagi semalam dirinya tidur satu ranjang dengan Allan, bahkan lelaki itu memeluknya sepanjang malam. Perasaan asing menyusup dihatinya, jika bersama Bimo dirinya merasa nyaman dan senang tidak pernah hatinya berdesir seperti tadi malam ketika dirinya bersama Allan.
Apakah dirinya mulai ada perasaan kepada Allan? atau itu hanya rasa penasaran ketika Allan memberi pengalaman pertama ciuman kepadanya? Entahlah, yang terpenting dirinya masih bisa menjaga hal berharga yang ia punya.
"Dira?" Suara seseorang dari belakang menghentikan langkahnya.
Indira berbalik dan melihat siapa yang memanggilnya. Seorang cowok dengan menggunakan jaket hitam berjalan kearahnya.
"Hay.." Tersenyum manis menyapa Indira.
Gadis itu hanya diam dengan ekspresi bingung karena merasa tidak kenal.
"Loe lupa sama gue?" Cowok itu tidak percaya, jika para cewek lain sangat tergila-gila padanya , tapi cewek didepan nya ini malah tidak kenal siapa dirinya.
"Siapa?" Indira cuek dan ingin berlalu pergi, tetapi tangan nya dicekal oleh cowok itu.
"Gue Reza, anak sekolah sebelah." Reza masih memegang lengan Indira.
"Gak perlu pegang juga kali." Indira menepis tangan Reza agar melepas pegangan tangan nya.
"Oh..maaf, __Gue cuma mau bilang, pulang sekolah gue jemput." Ucap Reza pede, karena selama ini dirinya tidak pernah gagal jika urusan berkencan dengan wanita.
"Ck. siapa loe ngatur-ngatur gue, sorry gue gak butuh tumpangan." Ucap Indira ketus, segera dirinya berlalu pergi dari hadapan Reza.
"Si*al.. sok suci loe jadi cewek, awas saja loe." Reza yang merasa terhina karena penolakan Indira membuatnya geram.
............
"Widiihh... loe kayak orang gak pernah makan satu Minggu tau gak Dir?" Tanya Kiki ketika melihat Indira makan dengan dua porsi bakso.
"Habis ngapain loe?" Timpal Arum.
Mereka bertiga sedang berada di kantin sekolah, karena jam istirahat.
"Gak tau gue berasa Laper banget." Ketika Bagun Indira jam sudah menunjukan pukul setengah tujuh pagi, alhasil dirinya tidak sempat membuat sarapan apalagi kegiatan tadi malam serasa menguras semua tenaganya. Mengingat hal itu tiba-tiba wajah Indira memanas.
"Lah kenapa muka loe tiba-tiba merah? Kepedesan?" Tanya Kiki yang melihat wajah Indira tiba-tiba berubah merah.
"Hah..iya gue kepedesan." berbohong demi menutupi perasaannya yang tiba-tiba mengingat Allan. Indira segera meraih es jeruk dan langsung meminumnya.
"Pelan-pelan Dira, gue gak bakalan minta." Kiki masih setia memperhatikan Indira yang seperti terburu-buru.
Arum hanya diam mengamati, dirinya merasa terjadi sesuatu kepada sahabatnya itu, tetapi ia hanya akan menunggu Indira yang bercerita sendiri kepadanya.
"Gue gak pa-pa."
"Ehh..ehh ada neng Dira cantik dan manis?" Raka bicara dengan nada.
Bimo Cs datang dengan masih menggunakan seragam basket, karena jam pelajaran mereka adalah olahraga.
"Hay para cogan." Kiki yang paling semangat jika menyapa mereka. Arum hanya memutar bola matanya malas, ketika melihat es robot yang juga ada disana.
"Iss apa-an sih tarik-tarik pipi Kiki..!" Kiki mendengus dengan wajah cemberut menatap Guntur.
Bimo duduk disamping Indira, sedangkan Resa langsung duduk disamping Arum.
Arum hanya mendelik kearah Resa dirinya masih jengkel dengan cowok yang sudah mengambil first kiss nya.
Tangan Bimo terulur mengusap sisa kuah bakso yang berada disudut bibir Indira. "Makan belepotan kayak anak kecil." Ucap Bimo dengan tersenyum.
Perlakuan tersebut tak luput dari semua siswa/i yang berada di kantin, sontak mereka bersorak riuh melihat keuwuan seorang Bimo di depan umum.
"Masyaallah.. kenapa hamba dikelilingi oleh manusia yang penuh keuwuan ya Allah." Jingga menampilkan wajah polos dan bergaya dramatis.
"Jantung gue masih aman." Kiki memegangi dadanya sebelah kiri.
"Sumpah kalian berdua bikin ane jadi pengen." Ucap Raka.
"Dih kalian pada lebay." Indira hanya cuek dan biasa saja, meskipun jadi pusat perhatian seluruh isi kantin tapi entah mengapa dirinya merasa santai dan tidak merasakan sesuatu yang aneh dalam dirinya.
"Gak usah liatin gue kayak gitu.!" Ucap Arum ketus ketika tatapan Resa tidak lepas memperhatikan dirinya.
"Kenapa tidak ada sisa makanan dibibir loe." Ucapan sepontan Resa mengundang tawa keras dari para sahabatnya. Arum hanya menunduk malu dengan wajah memerah.
"Woy Res, lu mau ngarep banget ada sisa makanan dibibir Arum." Ucap Raka meledek, ketika ingat kejadian malam itu, Resa yang mencium bibir Arum.
"Bau baunya Resa sudah mulai ketagihan Bro." Guntur tertawa melihat wajah malu Resa.
"Dih, kalian bicara apa sih, apakah Kiki ketinggalan berita?" Tanya Kiki melihat para cowok dengan wajah bingung.
"Loe masih dibawah umur, kagak boleh." Jingga menepuk kepala Kiki pelan, dengan tawa.
"Iss gak usah pegang-pegang Jing." Kiki menyentak tangan Jingga.
"Wah Sekate-Kate lu kalo manggil." Ucap Jingga sewot.
"Emang Jing..__Jingga Jing." Kiki malah semakin meledek Jingga dengan tertawa lebar.
"Dih seneng." Jingga mendengus menatap para sahabatnya yang ikut tertawa.
Mereka semua menertawakan Jingga bagi mereka tertindas nya Jingga adalah lelucon.
"Dih mereka beruntung banget sih, bisa Deket sama geng Bimo Cs." Ucap teman Flora.
Mereka bertiga sejak tadi memperhatikan meja yang diduduki Indira Cs. Flora menahan geram, dirinya yang merasa paling cantik dan seksi disekolah tetapi tidak bisa menarik perhatian seorang Bimo Bagaskara. Dirinya merasa Indira adalah saingan nya sehingga jika ada kesempatan dirinya akan membuly gadis itu dan menyerangnya. Tetapi selama ini Indira tidak pernah bisa ia tindas dan membuat nya menyerah. Padahal jika dilihat Bimo lah yang selalu mendekati Indira dibanding gadis itu sendiri.
"Gue akan buat perhitungan dengan mereka nanti, liat aja." Flora mengepalkan tangan nya, menatap tajam penuh kebencian kepada Indira yang sedang tertawa bahagia bersama sahabatnya, bagi Flora Indira adalah penghalang dirinya untuk mendapatkan apa yang dirinya inginkan.
Karena bagi seorang Flora sesuatu yang dirinya inginkan harus tercapai dan ia dapatkan, tidak perduli apapun yang akan ia lakukan.
Indira adalah gadis periang dan berhati baik. jika seseorang memperlakukan nya dengan baik maka dirinya akan membalas orang itu dengan lebih baik. Baginya jika ada yang mengusik nya maka dirinya tidak akan tinggal diam atau pun lemah.