
🌹
🌹
🌹
Allan terbangun tengah malam, karena mendengar Leguhan kecil sang istri.
"Sayang." ia menegakkan duduknya sehingga bisa melihat Indira sedang membuka mata perlahan.
"Emh..B-bang."
"Mau apa sayang, mau minum." Tanya Allan, yang hanya mendapat anggukkan dari Indira.
Allan meraih gelas berisi air putih ia membantu Indira sedikit mengangkat kepala nya agar bisa minum.
Allan kembali membenarkan posisi tidur istrinya agar nyaman, setelahnya ia duduk di samping istrinya berbaring.
"Tidurlah lagi." Ucap Allan seraya mengecup kepala istrinya dan mengelusnya.
"Kenapa aku bisa disini?" Indira yang tidak ingat kejadian dimana dirinya pingsan.
"Kamu pingsan karena kelelahan, Rere yang membawamu kesini." Allan berucap dengan lirih.
"Hem..apa kata dokter, apa benar aku hamil?"
Indira ingat perkataan mertuanya mungkin saja ia sedang hamil.
Tubuh Allan menegang, tenggorokannya tercekat, mendengar pertanyaan istrinya.
"Abang." Panggil Indira lagi, karena Allan masih diam.
"Hm..ya." Suara Allan terasa berbeda di pendengaran Indira.
"Apa terjadi sesuatu?" Indira yang menyadari raut wajah dan mendengar suaminya, dirinya yakin jika terjadi sesuatu.
Allan menarik nafas dalam, dirinya harus bisa kuat bahkan untuk menguatkan istrinya. Allan menggenggam tangan istrinya, menatap wajah yang masih sedikit pucat itu.
"J-jadi.?" Suara Indira tercekat dirinya tahu apa maksud suaminya.
Allan mengangguk dan memeluk tubuh istrinya, seketika air mata Indira lolos tanpa suara.
"Kita harus ikhlas sayang, Tuhan pasti akan menggantinya yang lebih baik nanti." Allan pun tak kuasa membendung air matanya, sesak didadanya melihat orang yang ia sayangi bersedih seperti ini. Jika saja dirinya memperhatikan dan mengerti istrinya mungkin ini tidak akan terjadi.
Hening, untuk beberapa saat ruangan itu terasa sepi, Allan dengan rasa bersalahnya, dan Indira dengan rasa tidak percayanya.
"Berapa usia nya?" Suara Indira memecah keheningan.
"Tiga Minggu sayang." Allan kembali merapatkan rangkulannya.
"Bahkan dalam waktu tiga Minggu aku tidak menyadari kehadirannya, Ibu macam apa aku ini." Air mata Indira kembali jatuh kali ini dengan Isak tangis. Dirinya terlalu bodoh dan sibuk dengan urusan nya sendiri, sehingga tidak menyadari jika ada malaikat kecil yang sedang tumbuh di rahimnya. Merasa bersalah kecewa tentu saja, ia kecewa dengan dirinya sendiri, merasa bersalah karena tidak bisa melindungi buah hatinya.
"Ssstt..jangan salahkan dirimu, ini semua cobaan yang harus kita jalani dan ikhlas kan." Allan membenamkan wajah istrinya didada, dirinya tidak sanggup melihat istrinya menyalahkan dirinya sendiri.
Tangis Indira pecah, kenapa Tuhan mengambilnya secepat ini, bahkan dia sendiri belum mengetahui keberadaan nya.
Keduanya larut dalam kesedihan, kesedihan yang dalam, bagi keduanya dalam pernikahan yang ditunggu-tunggu adalah hadirnya seorang malaikat kecil yang akan melengkapi keluarga kecilnya. Tapi inilah takdir mereka, dan mereka pun harus ikhlas dan merelakannya.
.
.
.
Di Kantor, seorang pria dibuat kesal setengah mati, Bimo menunggu gadis yang sudah membuat mobilnya lecet dan kini dirinya ingin meminta pertanggung jawaban dengan ganti rugi, tapi gadis itu malah tidak masuk kerja.
Bimo mengambil KTP gadis itu dilaci meja kerjanya, dan melihat dimana alamat rumah gadis itu.
"Alena Anindhi." Gumam Bimo membaca nama gadis itu.
"Ok, gue akan samperin rumah loe." Bimo tersenyum menyeringai, dirinya punya cara untuk membuat gadis itu tidak bisa kabur lagi.