Pembantuku Canduku

Pembantuku Canduku
Part105


Melihat kejadian yang menyesakkan dada hingga mengeluarkan air matanya, Rere menangis didalam mobil menumpahkan rasa kecewanya pada Riko.


Hanya tinggal esok mereka akan mengadakan lamaran dan menentukan tanggal pernikahan, namun yang terjadi hari ini membuatnya berpikir ulang untuk melanjutkan hubungan mereka.


Riko yang melihat Rere pergi segera berdiri dan mengejar kekasihnya yang sedang salah paham.


Tidak seperti apa yang Rere lihat, tapi nyatanya kedekatan mereka mampu membuat orang memikirkan hal yang sama.


Sampai di lobby Riko sudah tidak melihat Rere dan hingga melihat mobil Rere yang masih terparkir membuat Riko segera berlari mendekati mobil Rere.


"Re, sayang buka pintunya." Riko mengetok kaca mobil Rere namun tidak di gubris oleh Rere.


Rere hanya menundukkan wajah nya di setir kemudi meluapkan tangisnya di sana.


"Re, kamu salah paham, tolong buka pintunya." Riko terus mencoba bicara agar Rere mau membuka pintunya. Riko bisa melihat jika kekasihnya itu sedang menangis di dalam sana.


Tanpa memperdulikan Riko yang terus mengetuk dan berteriak di luar, Rere menghidupkan mesin mobilnya dan segera pergi dari kantor Riko.


"Re... Rere..tolong buka pintunya." Riko sedikit berlari dan masih mencoba untuk bicara, namun mobil Rere begitu saja melesat pergi.


"Arrghh.." Riko frustasi, kakinya menendang angin.


Dengan cepat dirinya masuk kedalam mobilnya berniat mengejar mobil Rere.


.


.


Mata Rere masih saja mengeluarkan air mata, dirinya tidak mengira kejadian yang pernah ia alami kini terulang lagi.


Dimana dulu kekasihnya yang sedang selingkuh dan dirinya memergoki mereka sedang bercumbu di apartemen kekasihnya. Semenjak kejadian itu dirinya menutup diri untuk tidak dekat dengan laki-laki hingga satu tahun dirinya mencoba membuka hati untuk pria yaitu Riko. Pria yang menurutnya baik dan dewasa, namun kata baik saja tidak cukup untuk menilai seseorang.


Rere melajukan mobilnya sedikit kencang, hingga dirinya yang kurang fokus hampir saja menabrak pengendara sepeda motor jika tidak dengan cepat mengerem dan menghindar.


"Ya..tuhan." Rere mengusap wajahnya kasar, karena terlalu emosi dirinya hampir saja membuat orang celaka.


Sebuah mobil hitam berhenti di depan nya, meskipun yang punya belum keluar Rere sudah tahu itu mobil siapa.


"Re, buka pintunya." Riko kembali menggedor kaca mobil nya.


"Keluar Re, kita bicara." Riko masih berusaha membuat Rere turun dari mobil.


Menghirup napas dalam dan menghembuskan perlahan, Rere mencoba menetralkan rasa amarahnya.


Membuka pintu dan keluar, hanya tatapan datar yang diperlihatkan untuk Riko.


"Kamu tidak apa-apa?" Riko menyentuh kedua bahu Rere memastikan tidak ada yang terluka, karena Riko sempat melihat Rere mengerem mendadak dan membanting setir.


"Re, bicara jangan diam saja." Riko menatap wajah Rere dengan khawatir namun rasa kesal yang ia miliki belum hilang sepenuhnya.


"Tidak apa-apa." Rere bicara dengan dingin.


"Kenapa kamu pergi seharusnya kamu masuk dan menemui ku."


"Untuk apa aku menemui pasangan yang sedang asik berdua, hanya untuk melihat kemesraan kalian berdua." Rere menatap Riko dengan sinis.


Riko yang mendengar ucapan Rere merasa marah, bukanya minta maaf karena tidak datang untuk membeli cincin lamaran mereka tapi malah menuduhnya yang tidak-tidak.


"Kamu pikir hanya kamu saja yang bisa marah." Riko menatap tajam Rere. "Lalu bagaiman kamu yang sengaja tidak datang untuk mencari cincin hari penting kita, apa kamu tidak menginginkan nya sehingga kamu dengan seenaknya membuatku menunggu berjam-jam."


Rere hanya diam dengan wajah datar, meskipun niat hati menemui Riko untuk menjelaskan dan meminta maaf karena tidak datng. Tapi setelah melihat adegan yang membuat nya sakit didada Ia urungkan niatnya.


"Kamu keterlaluan Re, kalau kamu tidak mau menikah denganku kamu seharusnya bilang. Tidak membuatku malu dengan keluarga ku sendiri." Ucap Riko dengan berteriak, dirinya sudah menahan amarah namun melihat wajah Rere yang sama sekali tidak merasa bersalah membuat amarahnya meledak.


Mendengar Riko berteriak membuat Rere memejamkan matanya menghirup napas Rere bicara. "Mungkin kata-kata kamu barusan lebih cocok untuk dirimu sendiri. Aku tidak datang karena ada yang harus aku sele_"


"Alah bulshitt.. Kamu memang tidak menginginkan pernikahan kita."


"Lebih baik kita tidak pernah bertemu." Riko menatap wajah Rere dengan dingin. "Tidak ada acara pernikahan, kita selesai." Setelah mengatakan itu Riko pergi meninggalkan Rere yang sudah menangis.


Rere luruh kebawah tubuhnya lemas mendengar ucapan Riko barusan. "Kenapa kamu tidak mendengarkan penjelasan ku dulu, kamu jahat Riko." Rere menangis sesenggukan di samping mobilnya.


Riko melajukan mobilnya entah kemana, Ucapanya barusan membuat dadanya terasa ngilu, ini kali pertama dirinya sangat mencintai seorang wanita dan ingin membina ke hubungan yang lebih serius tapi kenyataanya dirinya yang terluka dan lebih memilih menyudahi semua.


Tanpa mau mendengar alasan Rere kenapa, Riko mengambil keputusan yang akan membuat dirinya menyesal.


Tangan nya merogoh ponsel yang berada di saku celananya, menghubungi keluarganya agar tidak mempersiapkan sesuatu untuk acaranya besok.


"Halo mah.."


"..."


"Riko minta mama dan keluarga yang lain jangan menyiapkan apapun untuk acara lamaran Riko mah, karena acaranya tidak kan terjadi. Dan Riko sudah membatalkan semua." Ucapnya dengan Harna di seberang telepon.


"..."


"Mama tidak perlu tahu, yang pasti lamaran besok batal." Sambungan terputus, Riko melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


.


.


Harna yang mendengar ucapan Riko syok, tiba-tiba dirinya tak sadarkan diri.


Bagaiman tidak semua sudah dirinya persiapkan.dna tinggal berangkat, tapi berita yang baru saja dirinya dengar langsung dari putranya membuat dirinya tak bisa mencerna.


"Ya ampun.. mama." Harlan berlari menghampiri istrinya yang sudah tak sadarkan diri di lantai.


"Pah, mama kenapa?" Tanya Rania yang mendengar teriakan papanya.


"Papa kurang tahu sayang, kamu cepat telpon dokter." Harlan menggendong tubuh Harna menuju ke kamar.


"Iya..pah." Rania segera menelpon dokter keluarga.


.


.


Rere kembali kerumahnya dengan keadaan kacau, wajahnya yang masih basah dan mata sembab membuat kedua orang tuanya khawatir dan bertanya.


"Re, kamu kenapa Nak?" Ibu Rere menghampiri putrinya yang terlihat memprihatinkan.


Rere memeluk ibunya dengan tangis meluapkan kesedihannya, tidak disangka di hari ini dirinya di putuskan oleh Riko, pria yang akan melamarnya esok. Padahal kedua orang tua Rere sangat senang mendengar Rere akan di pinang oleh pria yang dicintai putrinya dan sebaliknya.


"Bu.." Rere dengan suara serak ingin berbicara.


Kini Rere duduk dengan dirangkul ibunya, ayah Rere duduk di kursi lain.


"Katakan yang terjadi nak, kenapa kamu seperti ini." Ibu Rere mengelus kepala putri nya dengan sayang.


Rere menatap kedua orang tuanya bergantian, dirinya mengumpulkan keberanian untuk bicara. "Bu, ayah..maaf Rere sudah membuat malu kalian." Rere menunduk dengan meremat kedua tangannya. "Riko membatalkan lamaran nya.." Rere menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, dari dirinya yang tidak bisa datang untuk mencari cincin hingga membuat Riko salah paham, mines Rere tidak menceritakan kejadian yang dirinya lihat di kantor.


.


.


.


Yuhuuu selamat siang eprrii bediehh..๐Ÿ’ƒ.


.


Jangan lupa jempol di goyang, ketik-ketik komen kalian..๐Ÿ˜œ Jejak jangan lupa ditinggal para kesayangan author๐Ÿ˜˜