Pembantuku Canduku

Pembantuku Canduku
Part121


"Pembukaan sudah delapan, sebentar lagi lengkap." Ucap dokter wanita yang biasanya menangani Indira.


"Kenapa tidak segera ditangani dok?" Allan memekik ketika dokter malah meninggalkan ruangan bersalin setelah mengecek keadaan istrinya.


"Masih harus nunggu pembukaan lengkap pak." Ucap seorang suster yang membantu Indira memasangkan selang infus.


"Memangnya harus pembukaan berapa? kenapa harus pake buka-bukaan?" Tanya Allan dengan bingung tapi wajahnya terlihat panik ketika Indira kembali menggerang kesakitan.


"Abang...sakiitt.." Indira merintih dengan tangan mencekram erat tangan suaminya.


"Terus Abang harus apa sayang." Allan menjadi frustasi sendiri.


Jika bisa digantikan, maka lebih baik dirinya yang merasakan sakitnya.


"Elusin pinggang aku bang." Indira berkata lirih dengan mata sayu.


"Ibu berbaring miring ya, boleh ke kanan atau ke kiri..dan bapak tolong semangati ibunya." Suster pun pindah ketempat sedikit jauh untuk menyiapkan perlengkapan nya.


"Sayang kamu pasti kuat." Allan mengelus kepala Indira, dan mengecup kening istrinya berkali-kali. Dirinya duduk disamping istrinya yang berbaring.


"Ahkkhh...Abang..sakit..!!" Indira menjerit kesakitan ketika rasa itu datang sakitnya luar biasa.


"Sus, suster, tolong istri saya sus..!!" Allan berteriak, padahal suster tak berada jauh dari nya.


"Abang..ahhghh...!!!" Teriakan Indira semakin menjadi, diikuti tubuh yang bergerak tak nyaman.


"Dokter, pembukaan sudah lengkap." Ucap suster diambang pintu, kebetulan dokter juga ingin masuk untuk mengecek pembukaan Indira.


"Segera siapkan keperluanya." Dokter pun langsung menyuruh Indira untuk menekuk kedua kakinya.


"Abang..sakit.." Indira meneteskan air mata ketika sakit yang luar biasa dirinya rasakan.


"Sayang, yang kuat...kamu pasti bisa..aku mencintaimu." Allan terus saja memberi motivasi istrinya agar kuat, dan membisikan kata cinta untuk sang istri.


"Ya Tuhan, semoga persalinannya lancar, sehat ibu beserta bayinya." Tiga wanita beda generasi itu terus saja melafalkan doa untuk kelancaran persalinan cucu dan keponakan mereka.


Tak jarang jika suara teriakan Allan dan Indira saling bersahutan, mereka pasti paham kenapa Allan juga ikut berteriak.


"Ayo ibu, lebih kuat lagi rambutnya sudah kelihatan." Ucap dokter. "Ikuti aba-aba saya."


Indira sudah nampak lemas dan ngos-ngosan.


"Tarik nafas, keluarkan perlahan, yaa lakukan hingga tiga kali, jika sudah rileks saya suruh mengejan, ibu mengejan ya." Dokter itu pun memberi aba-aba dan Indira mengikutinya.


"Ayo mengejan Bu.."


"Aggrrhhh...!!!" Sekuat tenaga Indira mengejan dan mencekram erat lengan suaminya hingga kuku jarinya menancap di kulit Allan.


Ooee..ooee..


Suara tangisan melengking bayi terdengar menggema di ruangan itu. Tubuh Indira terasa lemas dan lelah, bahkan untuk membuka mata dirinya tidak sanggup.


"Selamat pak, nyonya laki-laki dan sehat." Ucap suster.


"Sayang terima kasih." Allan terharu mendengar tangisan anak pertamanya yang masih merah, air mata nya menetes menciumi wajah sang istri.


"Ajak istrinya bicara terus lak, agar Kesadarannya tidak hilang." Ucap dokter yang masih membersihkan milik Indira dibawah sana.


Allan hanya mengangguk, dan melihat Indira hanya tersenyum lemah. "Sayang, anak kita laki-laki terima kasih untuk pengorbanan dan perjuangan kamu, aku mencintaimu." Allan terus saja mengajak Indira banyak bicara seperti saran dokter.


Suara tangis bayi juga terdengar hingga luar ruangan, mereka merasa lega dan bersyukur karena persalinannya lancar.


Sungguh hati ini adalah hari paling bahagia bagi keluarga Aditama, karena telah lahir cucu pewaris kerajaan bisnis Aditama.