Pembantuku Canduku

Pembantuku Canduku
Part48


Malam sudah larut tetapi Allan masih setia duduk dikursi kebesarannya.


Sore ketika ia memutuskan untuk keluar rumah, setelah melapiaskan kemarahannya, ia berencana akan kekantor lagi, dan sialnya dirinya malah mendapati pemandangan yang kembali membuat jantungnya berdebar hebat.


Dirinya mencoba tidak menghiraukan kedua orang yang menurutnya sedang bermesraan, pada kenyataan nya tidak seperti itu.


Kini dirinya hanya duduk dengan pandangan menerawang pikirannya dipenuhi dengan kejadian hari ini yang begitu membuatnya sesak. Meskipun dirinya sadar jika diantara ia dan Indira tidak ada hubungan apapun, tetapi dirinya sudah mengatakan perasaan cinta, dan gadis itu pun tahu.


Allan melihat jam ditangannya sudah menunjukan pukul sebelas malam. dirinya meraih kunci mobil dan segera keluar ruangan untuk pulang.


Sepanjang jalan di pikirannya hanya ada Indira, gadis cilik yang bar-bar dan cerewet, gadis yang mampu membuatnya merasakan sakit karena cinta.


Allan ingin segera sampai rumah, dan mengistirahatkan tubuh dan pikirannya, hari ini adalah hari yang begitu berat baginya ketika telah mengetahui sesuatu.


Pikiran dan logika nya sudah tak sejalan, Kini mobil Allan malah terparkir didepan rumah Indira. Padahal niatnya tadi ingin pulang kerumah, tetapi malah dirinya membawa mobilnya kerumah ini. "Ck. kenapa otak gue selalu ada loe. gue benci merasakan rasa seperti ini." Allan menatap nanar rumah Indira, yang terlihat sepi seperti biasa.


Tidka dipungkiri hatinya ingin menemui gadis yang ia cintai dan meluapkan perasaan yang menyiksa dirinya. Allan bukanlah tipe pria yang suka datang keclub malam ketika ada masalah, ia lebih suka menghabiskan waktunya untuk berkutat dengan pekerjaan, dulu sebelum dirinya menjadi tulang punggung bagi perusahaan ayahnya, dirinya adalah pria yang bebas, tetapi setelah memimpin perusahaan dirinya bisa merubah sifat buruknya itu.


Kini Allan sudah berdiri didepan pintu, ingin mengetuk tetapi dirinya masih merasakan sesuatu yang ingin meledak ketika mengingat kejadian hari ini.


Tok..tok..tok..


Allan berkali-kali mengetuk pintu dengan sabar dirinya menunggu sang empu membukanya.


Setelah hampir lima belas menit menunggu akhirnya pintu terbuka dari dalam. Indira dengan wajah bantal yang belum sepenuhnya nyawanya terkumpul ia menguap ketika membuka pintu.


Allan tertegun, penampilan acak-acak Indira menambah kadar kecantikan gadis itu, dengan memakai hotpants dan kaos oblong kebesaran gadis itu terlihat sangat imut.


"Egh..Abang." Indira mengucek matanya demi meraih kesadarannya dan melihat benar Allan yang datang.


"Beneran Abang." Masih dengan wajah polosnya Indira menusuk-nusuk pipi Allan dengan jari telunjuknya.


Allan hanya berdecak kesal, bisa-bisanya dirinya setengah mati memikirkan perasaan nya yang cemburu dan membuat semua yang ia kerjakan berantakan dan sekarang dirinya melihat Indira dengan wajah biasa saja, dan bahkan gadis ini bisa tidur nyenyak.


"Kamu kira saya hantu." Allan berkata ketus, dan langsung masuk kedalam rumah, Indira pun mengikut langkah Allan, setelah menutup dan mengunci pintu.


Allan duduk disofa dengan tatapan tak lepas dari gadis yang masih berdiri di depannya.


"Abang ngapain kesini." Indira bersedakep dada menatap Allan yang juga sedang menatapnya.


"Kenapa bertanya? biasanya juga aku kesini." Allan menyilang kan kakinya dan kedua tangannya ia lipat didepan dada.


"Ini sudah malam, sebaiknya Abang pulang." Ucap Indira ketus seperti biasanya.


Allan tersenyum getir, Sekarang gadis ini menolak kehadirannya.


Allan berdiri didepan Indira dengan jarak hanya tersisa satu kaki. "Apa hubungan kamu dengan Bimo?" Pertanyaan inilah yang sejak tadi bersarang diotaknya, memikirkan apa hubungan mereka membuat kepalanya rasanya ingin pecah. Allan menatap tajam Indira dengan rasa kemarahan yang masih tersisa didalam dadanya.


"A-aku.." Indira pucat, melihat tatapan Allan yang mengerikan, ini pertama kali Allan menatapnya seperti ini. Jantungnya berdetak cepat gugup sekaligus takut melihat wajah Allan yang seperti menahan amarah.


"Apa dia kekasihmu?" Allan maju satu langkah membuat kaki Indira reflek mundur.


Indira hanya menunduk tangan nya saling bertaut, dirinya memikirkan jawaban apa yang tepat, sehingga tidak membuat kedua saudara itu bertengkar. Indira menyayangi Bimo sebagai sahabat baik, bahkan Bimo sendiri tahu itu, dan pria didepanya ini, Indira menyayangi Allan tetapi dirinya mulai gusar, ketika tahu mereka berdua adalah keluarga. ingatannya kembali ketika bertemu Allan direstoran tadi siang, Indira yakin jika Allan adalah pria dewasa yang mungkin juga ia punya kekasih yang seumuran dengan nya.


Biarlah kali ini dirinya membohongi hatinya sendiri. "Ya Bimo adalah pacarku!" Indira memberanikan diri mengangkat kepalanya dan membalas tatapan tajam Allan. Ia menatap wajah Allan yang rahangnya semakin mengeras, dirinya bisa melihat rasa kecewa bercampur marah mendominasi pria itu.


Allan tertawa bodoh dalam hati, ternyata selama ini benar dia menyukai gadis yang sudah berpacaran dengan keponakannya sendiri, jika saja bukan Bimo orangnya Allan tidak akan prustasi dan kecewa seperti sekarang ini. Dirinya bisa mempertahankan dan berjuang untuk mendapatkan Indira, tetapi sekarang ia harus menelan kekecewaan, dengan kenyataan saingannya adalah Keponakannya sendiri.


Indira meneteskan air mata melihat mata yang biasa menatapnya hangat dan lembut kini berubah dingin dan datar.


Tanpa mengucapkan apapun Allan langsung pergi meninggalkan Indira yang berdiri mematung dengan cairan bening mengalir di pipinya.


Brak


Allan membanting pintu rumah Indira dengan kuat, dirinya segera masuk kemobil dan pergi membawa kekecewaan yang mendalam oleh kenyataan. Dirinya sangat mencintai Indira, tetapi dirinya tidak bisa berbuat apa-apa karena rivalnya adalah Keponakannya sendiri.


Kedua mata Allan memerah karena marah dirinya, dirinya tertawa getir. "Gara-gara gadis labil, loe patah hati." Kecepatan mobil Allan diatas rata-rata karena hari sudah larut jadi jalanan sepi. "Parahnya dia adalah kekasih keponakan loe." Lagi-lagi dirinya menertawakan dirinya yang terasa menyedihkan.


.........................


Pagi ini Indira sudah rapi dengan penampilan seperti biasa celana jeans dengan kaus oblong dan sepatu sneaker yang Allan pernah belikan. Dia tidak sengaja memakai sepatu itu, karena memang Indira sangat menyukai sepatu yang Allan berikan.


Indira memasuki pintu samping yang area dapur.


Indira bisa mendengar suara Oma Lili sedang berbicara diruang makan, bersama siapa dirinya tidak tahu, dan sepertinya suara seorang wanita. 'Apakah Mama Bimo disini' Indira hanya bergumam dalam hati.


"Ehh si Eneng sudah datang." Mbok Nah yang baru saja masuk setelah mempersiapkan makanan diatas meja makan.


"Iya mbok.. apa Bu Leina disini." Indira bertanya seraya menaruh tasnya di atas meja dekat dapur.


"Bukan.. itu teman wanita Aden yang datang." Ucap mbok Nah.


"Oh.. bibi mau apa?" Indira masih. elin bisa menjabarkan perasaannya, meski tidak bisa dipungkiri ada rasa sesak yang menghampiri dirinya.


"Ini Aden minta jus jeruk."


"Biar Dira yang antar mbok."


Indira berjalan dengan nampan berisikan jus yang Allan minta.


"Ehh sayang kamu sudah datang?" tanya Oma Lili.


Indira hanya tersenyum, sedangkan Allan mengangkat pandangan nya yang sejak tadi menatap ponselnya.


"Sudah Oma." Indira mendekati tempat Allan duduk,.yang bersebelahan dengan wanita seperti kemarin yang dirinya lihat.


"Kamu makan berantakan, ada sisa makanan dibibirmu." Allan mengusap bibir Siska dengan jarinya, padahal sama sekali tidak ada apa-apa dibibir Siska.


Sedangkan Siska jantungnya sudah berdebar wajahnya merona karena malu dan senang.


"Terima kasih."


Siska sengaja mencari alamat rumah Allan, dan ternyata ketemu. dirinya mencoba mendekati Mama Lili dan ternyata Mama Lili sangat baik dan ramah. Meskipun dari pertama datang sampai dimeja makan tatapan datar dan dingin yang Allan tunjukan, tetapi tidak mengurangi rasa percaya Siska.


Allan hanya tersenyum, senyum yang biasa ia tunjukan kepada Indira.


Jantungnya serasa terlepas dari tempatnya, Indira membeku melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa Allan memperlakukan wanita itu dengan penuh perhatian.


Sekuat tenaga dirinya menahan gejolak didada, dirinya tidak bisa seperti ini, mereka berdua tidak punya hubungan apa-apa. tetapi kenapa dadanya terasa sakit seperti ini.


'Tuhan kuatkan aku'