Pembantuku Canduku

Pembantuku Canduku
Extra part4


Dua bulan kemudian....


Sore hari Indira sedang mengajak Aldrick jalan-jalan ke taman dekat dengan rumah mereka, Indira yang hamil besar pun tidak merasa kesusahan untuk mengikuti kemana putranya melangkah, meskipun ada pengasuh bersamanya tapi dirinya tidak akan melepas tanggung jawabnya seorang ibu begitu saja.


"Nak, jangan kenceng-kenceng larinya nanti jatuh." Teriaknya ketika Al kecil semakin lincah berlarian di taman itu, sore itu cukup ramai karena hari sedang cerah.


Aldrick masih sana berlarian kesana kemari, bocah yang usianya hampir dua tahun itu terlihat senang dan bahagia.


"Mama..cini." panggilnya dengan tangan melambai ke arah mamanya.


Indira hanya tertawa melihat putranya yang begitu menggemaskan.


"Oke..tunggu mama di situ." Indira berjalan cepat kearah putranya yang jaraknya cukup jauh darinya, tapi suara kecil itu masih dirinya dengar.


Karena tergesa pada jalanya Indira tidak melihat jika didepanya ada batu.


"Akkhh.." Indira meringis ketika tubuhnya terjatuh di rumput hijau taman itu.


"Ibu..!"


"Mama..!"


Pengasuh dan Aldrick pun berlari menghampiri Indira yang jatuh dan kesakitan.


Beberapa orang yang melihat pun langsung mendekat dan mengerubungi Indira.


"Ahh..sshh sakit.." Indira merintih dengan memegangi perutnya yang terasa sangat sakit.


"Ya Tuhan ibu." Pengasuh itu pun berteriak ketika melihat darah mengalir dari sela kaki Indira.


"Tolong batu kami." Pengasuh itu pun panik melihat keadaan majikanya, apalagi Aldrick sudah menangis kencang.


"Mama...huwaa..mama..."


.


.


Allan melihat jam di pergelangan tangannya, enyah mengapa dirinya gusar dan ingin segera pulang, setelah mendapat pesan dari istri nya jika mereka sedang berada di taman sore ini.


"Ck. gak tenang gue." Allan menyudahi pekerjaannya, dia memilih menutup laptopnya dan segera pulang.


"Bos mau kemana?" Tanya Jimmy, yang melihat atasannya sudah keluar dari ruangannya padahal masih setengah empat sore.


"Pulang, perasaan gue gak enak Jim." Allan terus berjalan menuju pintu lift.


"Oke, hati-hati bos." Jimmy tidak bertanya lagi, karena dirinya cukup hafal dengan atasannya itu, apalagi sekarang istrinya sedang hamil besar, felling seorang suami pasti beralasan.


"Semoga tidak terjadi apa-apa." Do Jimmy.


Karena dirinya tahu kehidupan Allan dan Indira bagaimana. Dari Allan yang selamat dari kecelakaan maut, hingga membuatnya koma, hingga Indira yang mengalami keguguran yang membuat Allan begitu terpuruk dan terpukul.


.


.


"Ya Tuhan, kenapa perasaanku menjadi seperti ini." Ucapnya terasa begitu sesak.


Beruntung jalanan masih sedikit lenggang, karena memang belum saat nya jam pulang kantor, masih ada setengah jam lagi kira-kira.


Tak lama dirinya sampai di mana taman dekat rumahnya yang seperti istrinya sebutkan tadi.


Dirinya keluar dari mobil dan mengedarkan pandangannya keseluruhan tempat itu.


"Dimana mereka.." Allan berjalan untuk mencari istri dan anaknya.


Karena tidak menemukan mereka, Allan mencoba untuk menghubungi nomor Indira tapi tidak juga mendapat jawaban.


"Maaf Bu, apa anda tadi melihat wanita hamil besar bersama anak kecil yang usianya dua tahun laki-laki disini?" Tanya Allan pada seorang ibu-ibu yang juga berada disitu.


"Maksud bapak, wanita muda yang hamil bersama putranya dan pengasuhnya?"


Allan hanya mengangguk. "Em.. Ini foto istri dan anak saya." Dia memperlihatkan foto wallpaper ponselnya pada ibu itu.


"Perempuan ini tadi jatuh pak, dan sekarang sedang di bawa kerumah sakit terdekat."


Deg


Jantung Allan ingin terlepas dari tempatnya mendengar ucapan ibu itu tubuhnya terasa kaku tak bisa digerakkan.


"Ja-jatuh maksud ibu.." Suara Allan tercekat, dadanya bergemuruh semakin sesak.


"Iya pak, istri anda jatuh dan mengalami pendarahan." Ucap ibu itu yang sebenarnya merasa kasihan melihat wajah Allan yang sudah pucat.


Tanpa menunggu lama Allan berlari kembali menuju mobilnya untuk menyusul Indira yang sedang di bawa kerumah sakit.


Tidak perduli banyak pengendara lain yang mengumpati nya yang jelas dirinya ingin segera sampai di rumah sakit.


Pikirannya sudah kacau, dirinya tidak ingin terjadi sesuatu pada isterinya, tapi mendengar ucapan ibu itu jika Indira mengalami pendarahan membuat tubuhnya bergetar hebat.


.


.


Masih ada 1atau 2 bab lagi mazehh..


.


.


Marhaban ya Ramadhan untuk para sahabat emak otor tersayang bagi yang akan menjalankan, esok kita sudah memasuki bulan Ramadhan yang penuh berkah...


Semoga kita semua di beri kesehatan dan kelancaran untuk menjalankannya..aminn...


Maafkan emak otor yang banyak salah ucapan atau lisan, percayalah mak otor sayang kalian reader kesayangan...🥰🥰🥰


🙏🙏🙏🙏