
Hari ini Allan menepati janji pada istri cantik nya untuk bertemu dengan sang keponakan.
Allan mendengus kesal melihat wajah istrinya yang nampak senyum bahagia, apakah gara-gara ingin bertemu dengan Bimo istrinya nampak bahagia? memikirkan itu membuat Allan bertambah kesal.
"Apa bertemu dengan Bimo membuatmu bahagia, membuat bibirmu terus tersenyum." Sindir Allan yang kesal, sejak pagi Indira nampak bersemangat karena pagi ini Indira akan bertemu dengan Bimo.
"Tentu saja, karena sudah hampir tiga bulan aku tidak bertemu sahabat baik ku." Wajah Indira nampak ceria.
"Ck. jika saja sahabat baikmu itu wanita, pasti aku tak akan sekesal ini." Allan menggerutu dengan wajah di tekuk.
Dirinya tidak membayangkan jika nanti Indira bertemu Bimo pasti mereka berdua akan beradegan peluk-pelukkan.
"Uhhh bagaiman wajah bemo sayang yang sekarang, jadi penasaran. pasti bertambah tampan." Indira bertingkah lucu membayangkan wajah Bimo yang memang tampan.
"Terus sayang, terus..puji Bimo terus." Allan dengan nada kesal menatap sengit istrinya.
Keduanya kini berada di dalam mobil, Allan akan mengantarkan Indira ke kantor Bimo.
"Ihhh..emang bemo sayang tampan kan, Abang aja yang gak nyadar karena Abang laki." Ucap Indira membela Bimo. Dirinya tidak tahu jika hati Allan sudah mulai panas karena mendengar pujian pada pria lain selain dirinya.
Allan hanya diam tanpa ekspresi, wajahnya datar lurus kedepan.
'Apa aku ini tidak tampan di matanya, apa matanya sudah rusak sehingga suaminya sendiri tidak di akui ketampanannya.'
Allan menggerutu dalam hati. Kesal sudah pasti karena istrinya memuji pria lain di depan dirinya.
Setelah lebih 30menit berkendara mobil Allan memasuki area parkir kantor kakak iparnya yang juga akan menjadi milik keponakannya.
"Sudah sampai..?" Indira sangat antusias.
"Tunggu dulu." Allan menarik tangan istrinya ketika Indira ingin turun dari dalam mobil.
"Kenapa Bang?" Indira kembali duduk.
"Ingat jangan dekat-dekat dan tidak ada adegan peluk-peluk kan, mengerti." Allan mengecup bibir Indira sekilas.
"Iss..he'um." Indira hanya bergumam.
Allan keluar dan langsung membukakan pintu mobil untuk Indira. "Ayo.." Allan merangkul pinggang Indira yang sedikit lebih berisi.
"Selamat datang tuan Allanaro." Ucap resepsionis wanita.
"Apa Bimo ada di kantor?" Tanya Allan yang masih merangkul pinggang Indira.
Indira hanya diam dengan mata menatap kesekeliling karena ini adalah pertama kali dirinya mendatangi kantor Bimo, sahabat baiknya.
"Ada tuan, silahkan saya antar." Ucap resepsionis yang memang sudah tahu siapa Allanaro Putra Aditama.
"Tidak usah biar saya sendiri." Tolak Allan. "Ayo sayang." Allan berjalan dengan masih merangkul pinggang Indira posesif.
"Kantor nya hampir sama besarnya dengan kantor Abang" tanya Indira yang mengamati kantor Bagaskara Grub.
Kini keduanya berada di dalam lift.
"Hm.. hampir sama.." Allan menggandeng tangan Indira ketika keluar dari lift.
"Selamat pagi tuan." Sapa Daniel asisten Rendy.
"Pagi, apa Bimo ada di dalam." Tanya Allan.
"Ada pak, kebetulan pak Bimo baru selesai metting." Ucap Daniel.
"Baiklah saya ingin bertemu."
"Silahkan." Daniel membukakan pintu ruangan Bimo untuk Allan, setelah mendengar Bimo mempersilahkan.
Bimo yang sedang berkutat dengan berkasnya mendongak ketika mendengar pintu di buka.
"Om..Aya.." Bimo yang melihat om beserta istrinya segera berdiri menghampiri.
"Bemo.." Indira ingin menghampiri Bimo namun langkahnya berhenti ketika tangannya di tarik oleh Allan.
"No..tidak ada adegan peluk-peluk." Ucap Allan merengkuh pinggang Indira posesif.
"Abang.." Indira mencebikkan bibir nya kesal.
Bimo hanya geleng kepala, niatnya juga ingin memeluk sahabat baiknya namun diurungkan karena melihat tatapan tajam dari Om sekaligus suami sahabatnya.
"Om posesif, masa cuma ingin pelukan tidak boleh." Bimo berjalan menuju sofa, yang diikuti Allan dan Indira.
"Bukan muhrim tidak boleh."
"Abang dedek nya pengen di elus sama Bemo sayang." Indira yang duduk di samping Allan berucap dengan wajah sendu.
"Ck. mana ada si orok bisa minta elus sama dia, yang ada kamu yang ingin di elus." Ucap Allan kesal.
Bimo ingin sekali tertawa melihat kecemburuan Allan.
"Abang tau ngak, kalau ngidam tidak dituruti nanti anaknya ileran, Abang mau anak Abang nanti ileran." Ucap Indira dengan wajah serius.
Allan mencerna ucapan Indira, Ia membayangkan jika anak nanti akan ileran ketika sudah lahir, Allan bergeridik.
"No, Abang tidak mau anak kita ileran." Ucap nya dengan wajah geli.
"Makanya ini si orok ngidamnya pengen di elus sama Bemo sayang."
"Ck. gak usah Bemo sayang, geli Abang dengannya."
"Boleh ya, Bimo elus si orok." Indira dengan tatapan memohon.
Allan nampak berpikir, meskipun dalam hati tidak rela, jika istrinya di sentuh pria lain, namun ketika bayangan anaknya yang ileran membuatnya mengiyakan permintaan Indira.
"Boleh tapi hanya sebentar, satu menit tidak lebih." Ucap Allan menatap tajam Bimo, yang hanya tersenyum geli.
"Pelukan juga boleh."
"Jangan ngelunjak yank, di kasih hati minta ampela." Allan menarik hidung Indira.
"Ck. pelit." Indira mendengus kesal, dirinya berdiri dan langsung menghampiri Bimo yang duduk di kursi singgel.
"Gue kangen banget sama loe." Indira langsung memeluk Bimo ketika pria itu berdiri. "Gue rindu masa-masa remaja kita dulu Bim, gue kangen masa itu." Suara Indira serak, Bimo dengan kikuk membalas pelukan Indira meskipun mendapat tatapan tajam mematikan dari Allan.
"Gue juga kangen masa itu Ay." Bimo mengusap punggung Indira, wanita yang dulu singgah di hatinya, bahkan sampai sekarang nama Indira masih tersimpan didasar hatinya.
Allan menatap tidak suka, dadanya bergemuruh karena rasa cemburu, namun dirinya tahan untuk tidak emosi, mengingat dulu mereka berdua adalah sahabat bahkan lebih dulu mereka kenal dari pada dirinya.
Setelah merasa puas, Indira melepas pelukannya. "Apa kau sudah mempunyai kekasih." Indira bertanya dengan senyum jahil.
Bimo hanya tersenyum dan menggeleng. "Belum ada yang cocok Ay."
"Ck. kau itu terlalu banyak memilih." Bukan Indira melainkan Allan yang langsung menarik bahu istrinya untuk duduk di sofa. "Duduk sayang, nanti kamu kecapekan."
"Memilih yang baik itu perlu Om, demi masa depan." Bimo meraih gagang telpon. "Bawakan minuman keruangan saya." Ucap Bimo dengan seseorang di sebrang sana, dirinya sempat mengernyit mendengar suara asing yang bukan dirinya kenal.
"Kamu itu tampan dan kaya, tinggal tunjuk pasti para wanita akan bertekuk lutut."
"Jadi Abang mengakui juga kalau Bimo itu tampan." Indra memainkan kedua alisnya naik turun, menggoda Allan.
Allan hanya diam karena keceplosan bicara.
"Kau tidak usah tertawa." Allan mendelik ke arah Bimo yang tertawa melihat wajah Om nya yang masam.
tok..tok..
"Masuk."
"Minumnya pak." Gina membawakan minuman berupa jus jeruk.
"Kenapa kamu, kemana Alena?" Tanya Bimo yang sejak tadi bibirnya sudah gatal untuk bertanya.
"Alena tidak masuk pak, karena ada acara keluarga." Ucap Gina lalu permisi keluar.
"Siapa Alena?" Tanya Indira.
"Hanya OG." Ucap Bimo santai, namun pikiranya berkelana.
"Oh..aku kira perempuan spesial kamu." Indira menyesap minumannya yang diberikan Allan.
"Jangan mengada-ada, loe tahu sendiri gimana gue."
"Hm..cowok dingin dan cuek seantero." Indira tertawa.
Ketiganya terlibat obrolan ringan, Bimo yang di minta Indira untuk mengelus perut nya, Bimo pun melakukan hal itu meskipun sang Om yang sudah menatapnya seperti predator yang ingin memakannya.