Pembantuku Canduku

Pembantuku Canduku
Part102


Dilain tempat di sepasang pengantin baru nampak bahagia, pagi setelah Arum memberi surprise berupa alat tes kehamilan yang bergaris dua membuat Resa bahagia hingga Arum tidak percaya sangking bahagia Resa yang terkenal manusia kutub dan robot menitikan air mata.


Ya, Arum mengandung setelah dua bulan menikah kini usia kehamilannya berumur 3minggu, Arum yang sebagai dokter sudah merasakan hal yang berbeda kepada tubuhnya namun dirinya tahan hingga perbedaan itu semakin terasa, meskipun bukan dokter ahli kandungan Arum bisa mengetahui seperti apa kejanggalan yang berhubungan dengan kehamilan.


Arum adalah dokter ahli bedah di salah satu rumah sakit ternama di Jakarta, sedangkan Resa menjadi CEO di kantor milik keluarganya,


Hubungan cinta mereka semenjak SMA di persatuan hingga kepernikahan dan sekarang Resa sangat bahagia menyambut gelar papa muda.


Diantara lima sahabat Resa, baru dirinyalah yang sudah menikah dan akan memiliki anak.


"Hon, mulai sekarang jangan terlalu sibuk bekerja." Resa mengelus perut rata Arum. Keduanya berada dalam mobil setelah memeriksakan kehamilan Arum, hari ini Arum mendapat shif malam jadi dirinya kembali pulang kerumah setelah periksa.


"Aku sih mau nya gitu by, tapi semua sudah ketentuan rumah sakit."


"Tidak bisa meminta keringatan jatah bekerja?" Tanya resa yang nampaknya begitu menghawatirkan istrinya itu.


"Tidak bisa by, mereka semua sama dalam menjalani tugas, kamu tenang saja kami pasti akan baik-baik saja...papa." Nada Arum begitu lucu ketika menirukan suara anak kecil dengan sebutan papa.


Resa tertawa dirinya tidak menyangka akan dipanggil Papa diusia yang masih 25tahun.


"Kenapa aku sebahagia ini hanya mendengar sebutan papa dari kamu honny...belum anak kita yang memanggil." Resa nampak jelas bahagia dari wajahnya saja pria itu sekarang sedang tertawa.


Arum terkekeh. "Kamu bahagia by?" Tanya Arum menatap Resa dengan senyum.


"Sangat sayang, melebihi apapun." Tangan Resa membawa tangan Arum untuk dia kecup.


Resa yang dulu masih sama dingin dan cuek. Hanya sekarang bisa lebih santai ketika bersama dengan para sahabatnya, jika pada wanita lain sifat resa masih sama belum berubah, dingin dan seperti robot.


.


.


.


"Abang apa kali ini aku tidak boleh ikut?" Tanya Indira yang sedang melihat suaminya bersiap untuk bekerja pagi ini.


Indira berjalan mendekati Allan dan membantu memakaikan dasi.


"Abang takut kamu lelah sayang, hanya dua hari Abang akan segera pulang dan ikut menghadiri acara lamaran Riko."


Allan akan pergi keluar kota untuk melihat perkembangan disana, dan pagi ini dirinya berpamitan kepada Indira, jika nanti siang dirinya akan pergi keluar kota bersama Jimmy.


"Pasti aku kesepian jika tidak ada Abang." Indira menampilkan wajah sedih, dirinya tidak pernah di tinggal suaminya ketika berkerja keluar kota ataupun keluar negeri, dirinya pasti diajak.


"Lagian Abang hanya dua hari dan satu malam menginap disana Abang takut kamu kecapean dan berakibat fatal." Allan mengelus wajah istrinya yang masih menampilkan raut sedih. "Abang janji akan secepatnya menyelesaikan pekerjaan dan segera pulang."


"Hu'um.." Indira hanya mengangguk tanpa menjawab.


"Jangan cemberut seperti itu sayang, Abang jadi tidak rela." Allan tidak tega melihat wajah sedih Indira.


"Abang tau kan jika aku tidak bisa tidur kalau tidak ada Abang." Indira mengerucutkan bibirnya lucu.


Allan terkekeh, istrinya benar Indira tidak akan bisa tidur tanpa dirinya peluk, bahkan meskipun istrinya marah dan sempat mengusir Allan dari kamar namun tengah malam Indira menyusul dirinya yang sedang tidur. Dan ternyata Indira tidak bisa tidur tanpa dirinya peluk.


"Janji Abang akan cepat pulang." Allan meraup wajah istrinya dan menempelkan bibir keduanya. Menyesap dengan lembut, ciuman yang awalnya hanya ingin memberi kecupan kini berganti dengan luma*tan, Allan menahan tengkuk Indira memperdalam ciuman mereka, Indira menyambut ciuman yang Allan berikan hingga keduanya larut dalam gelora yang menggebu. Jari Allan menyusuri punggung istrinya naik turun membuat tangan Indira mengalung dileher Allan.


"Engh.." Indira meleguh ketika tangan besar Allan mere*mas boko*ng Indira, dan ciuman mereka semakin panas.


"Jika sudah seperti ini Abang tidak akan tahan." Allan kembali meraup bibir ranum Indira yang sudah sedikit bengkak karena ulahnya, tangan nya meraih resleting baju Indira di belakang.


"Abang..engh.." Kini Indira sudah berada di atas ranjang dengan tubuh polos, matanya terpejam merasakan sensasi yang selalu berhasil membuat dirinya terbang melayang. Jemari Allan menyusuri buah dada yang begitu Allan sukai, bibirnya menyusuri leher putih Indira meninggalkan jejak karya disana.


"Abang nanti telat kekantor." Di ambang kesadaran yang mulai mengabur Indira masih sempat mengingatkan.


"Hm.. lebih baik Abang telat dari pada harus menahan has*rat." Allan berbicara dengan napas menderu-deru dirinya sudah sangat ber*gairah, benda dibawah sana sudah terasa ngilu.


"Emh..shh.." Indira men*sah ketika sesuatu yang besar melesak dalam seperti biasa, meskipun sering kali berhubungan namun benda milik suaminya itu seperti semakin besar ukuranya.


"Ahh.." Allan mendongakkan kepalanya ketika benda miliknya didalam terasa terjepit.


Keduanya larut dalam gairah di pagi hari seperti biasa Allan akan lebih suka berolahraga dipagi hari bersama istrinya dari pada malam hari, karena dipagi hari Indira nampak fresh tidak akan takut kelelahan.


Allan memacu gerakannya sedikit cepat ketika Indira sudah ingin mencapai pelepasannya. Tangan nya meremat kedua buah yang bergerak indah di bawahnya, bibirnya terus merancau ketika di dalam sana semakin sempit dan menjepit miliknya.


"Sayng...ouh.." Allan menghentakkan pinggulnya dengan kuat ketika ketika merasakan hangat nya lembah Indira yang sudah mendapat pelepasan.


"Abang...shh..emmh.." Indira mencekram erat lengan Allan yang berada di dadanya karena tangan Allan masih bekerja memberi pijatan dan rematan yang membuat Indira semakin menggila.


"Sebentar sayang, enghh.." Allan menggeram dalam ketika dirinya menghentakkan dalam miliknya yang akan meledak.


"Ahh.." Indira memejamkan mata ketika merasakan semburan hangat dalam rahimnya, napasnya memburu dengan dada naik turun.


Allan nampak memejamkan mata, merasakan pelepasan yang begitu membuat dirinya merasa lepas. Tangannya bertumpu di sisi tubuh Indira, dengan masih dalam keadaan menyatu.


"Terimakasih." Allan mengecup kening Indira yang basah oleh peluh, tangan nya masih menyangga agar tidak menekan perut istrinya.


"Emh.." Indira merasakan kedutan dibawah sana. "Abang lepas." Indira dengan nada lirih seperti desa*han.


Allan tersenyum, dengan sengaja sedikit menggerakkan pinggulnya pelan menggoda istrinya.


"Abang..shh.." Indira yang sekarang lebih peka dan sensitif membuat Allan senang.


"Lepas apanya sayang hm.." Allan sengaja menggoda dengan pinggul bergerak pelan.


"Emhh..i_itu." Indira dengan wajah sayu menatap Allan, mulutnya berkata namun tubuhnya menerima.


"Apa sayang..?" Allan menatap wajah istrinya yang sangat seksi, apalagi bibir ranum Indira yang selalu menggoda untuk dirinya cicipi.


"Nanti Abang telat, aku lelah Abang."


"Emh.."Sedikit menekan.


"Abang..." Rengek Indira yang merespon rasa dibawah sana.


"Ahh.." Keduanya meleguh ketika Allan mencabut milik nya yang memang setengah menegang kembali.


"Maaf...Abang terlalu bersemangat." Allan mengecup kening dan bibir Indira.


"Ayo kita mandi bersama." Allan mengendong tubuh polos istrinya menuju kamar mandi, keduanya kembali mandi untuk kedua kalinya di pagi hari ini.


.


.


Like...komen...๐Ÿ˜˜ Selamat sore๐Ÿค—๐Ÿค—