
🌹
🌹
🌹
"Ra..buruan udah mau telat ini..!" Nicolas berteriak memanggil Indira.
Pria yang sudah menyandang sebagai ayah itu, kini sedang bersiap untuk mengantar Indira.
"Sabar sih om.." Indira keluar kamar dengan menggunakan pakaian sangat rapi.
"Kakak mu dan baby Dev sudah menunggu." Nicolas menggerutu kesal, karena terlalu lama menunggu Indira.
"Iya...iya..maaf."
Kini keduanya berjalan keluar apartemen menuju mobil yang sudah Nicolas siapkan.
"Lama ya kak?" Ucap Indira dengan menyengir kuda.
"Kamu dandanya kaya penganten lama." Nicolas masih saja kesal.
"Dih..sewot melulu."
Nicolas menjalankan mobilnya menuju kampus Indira.
Biana yang mendengar perdebatan mereka hanya tersenyum. "Kamu cantik Ra."
"Cantik lah..calon desainer." Ucap Indira dengan tawa.
"Pantas saja Allan tergila-gila sama kamu, selain cantik kamu juga pintar." Biana kembali memuji gadis itu.
"Iya..cantik, pintar..tapi ngeyelnya gak ketulungan." Lagi-lagi Nicolas meledek.
"Ck. Om kalo lagi kesel orang nya pendendam." Indira menatap punggung Nicolas yang sedang menyetir.
"Tergantung siapa dulu yang buat kesal."
Indira memilih diam dan bermain dengan baby Dav, karena meladeni ucapan Nicolas tidak akan pernah usai.
Mobil yang dikendarai Nicolas sampai diparkiran universitas ESSA yang kini sangat ramai karena kelulusan mahasiwa/i yang sudah menempuh pendidikan di universitas itu.
"Om, kakak aku duluan ya." Indira mencium pipi gembul baby Dav, dan pergi setelah mendapat ijin dari Nicolas.
"Sayang, apakan Allan akan datang?" tanya Biana yang kini sudah duduk diantara barisan tamu yang hadir di gedung aula kampus itu.
Nicolas yang sedang memangku Dev dan bermain dengan putranya yang berusia satu tahun itu. "Entahlah kemarin dia hanya berkirim pesan, jika tidak ada kendala dia akan datang."
Hari ini adalah hari dimana Indira akan melakukan wisuda. Dirinya sangat menunggu momen ini, meskipun tidak ada kedua orang tuanya tetapi dirinya merasa bangga bisa menjadi bagian murid di universitas bergengsi yang ia impikan.
Menjadi perancang busana atau Disainer adalah impianya, dirinya sungguh tidak menyangka akan ada dititik ini.
Kini Pengumuman predikat nilai terbaik dan tertinggi telah di sematkan kepadanya, nama Indira Cahaya Putri asal Indonesia di nobatkan mahasiswa berprestasi dan mendapat nilai Cumlaude.
Tangis haru mewarnai dirinya. "Akhh gue gak nyangka bisa sampai di titik seperti ini." Indira memeluk Emeli dengan tangis haru.
"Loe emang pantas dapetin yang terbaik Ra." Emeli menyambut pelukan erat sahabatnya.
Kini mereka sudah berada dihalaman kampus, setelah memberi sambutan dan motivasi kepada rekan sesama mahasiswa, Indira dan sahabatnya melakukan foto bersama.
"Selamat Ra, kamu lulus dengan nilai terbaik." Nicolas merentangkan kedua tangannya.
Indira menyambut uluran tangan Nicolas, memeluk pria yang sudah menjaganya selama ini. "Makasih Om udah jagain Indira, dan selalu support Indira." Ia tersenyum bahagian hingga tak bisa membendung air matanya.
Nicolas mengelus punggung gadis itu dengan lembut. "Sudah sewajarnya, Om udah anggap kamu adik om sendiri."
"Selamat Ra, kamu hebat." Kini giliran Biana yang memberi pelukan, sedangkan baby Dev digendong Nicolas.
"Terima kasih kak, sudah mau membimbingku hingga bisa menjadi seperti ini." Indira sangat berterima kasih, dirinya ingat ketika mengalami kesulitan belajar, maka Biana yang akan membantunya hingga bisa. karena Biana juga lulusan universitas itu, tapi dengan jurusan kuliner.
"Sama-sama." Biana mencium kening Indira.
"Ayo kita rayakan kelulusan kalian." Nicolas membawa keluarga kecilnya bersama Indira. Emeli yang tidak bisa ikut karena ada acara dengan keluarganya.
Mereka berjalan dengan saling senyum, hingga ketika sampai didekat mobil seseorang memanggil nama Indira.
"Ay..!"
Mereka semua menoleh.
"Bimo..!!" Indira menatap cowok tampan yang sedang berdiri dan merentangkan kedua tangan nya dengan memegang sebuket bunga.
Indira berlari mendekati Bimo dan langsung masuk dalam pelukan Bimo.
"Bemo..gue kangen banget sama loe."
"Gue juga Ay.."
Mereka saling berpelukan erat, kedua nya berpelukan sambil berputar-putar.
"Loe gak bilang kalo mau kesini."
Melepas pelukan Indira pura-pura merajuk.
"Ahhkk...makasih Bemo sayang." Indira kembali memeluk tubuh Bimo.
Jantung Bimo masih saja berdebar kencang jika berdekatan dengan gadis itu. Dirinya belum bisa melupakan perasaan yang masih ada untuk Indira.
"Selamat ya, loe lulus dengan nilai terbaik seperti yang loe impikan."
"Loe pasti juga kan, gak mungkin dong cowok kek loe gak dapet nilai terbaik." Indira berucap dengan senyum lebar.
Bimo hanya terkekeh dan mengangguk.
Mereka berjalan mendekati Nicolas yang sedang berdiri menunggu mereka, sedangkan Biana didalam mobil bersama baby Dev.
"Apa kabar Om?" Bimo memeluk Nicolas.
"Baik." Nicolas menepuk punggung Bimo pelan. "Selamat ya kamu juga lulus dengan nilai terbaik." ucap Nicolas dengan tawa.
"Om tau saja."
Mereka pun akhirnya memutuskan masuk kedalam mobil begitupun juga Bimo.
"Ay.. apa Om Allan tidak datang?" Bimo menoleh kebelakang ketika berbicara.
Karena Bimo duduk dikursi penumpang sebelah Nicolas.
"Gue gak tau Bim, udah lebih seminggu Abang gak kasih kabar." Ucap Indira sendu, mengingat Allan sudah satu Minggu lebih tidak menghubunginya, biasanya pria itu akan selalu mengirim pesan setiap jamnya.
Bimo sudah tahu jika gadis yang masih bertahta dihatinya mempunyai hubungan dengan Om nya sendiri, dan kenyataan itupun membuat dirinya terpukul dan kecewa. namun karena ia sadar bahwa cinta dan perasaan tidak bisa dipaksakan kepada siapa, dirinya mencoba rela dan mengikhlaskan Indira dengan Allan.
Sebenarnya gadis yang sering Bimo ceritakan kepada Indira adalah bualan nya saja, karena pada kenyataan nya, Bimo masih juga belum bisa melupakan Indira dan berdekatan dengan gadis lain. Dirinya tidak ingin Indira merasa bersalah.
"Nanti Om pasti akan nemuin loe Ra." bibirnya berucap dan bisa tersenyum namun kenyataan nya hatinya terasa perih.
"Hem.." Indira hanya bergumam, pandangan nya menatap jendela dengan pikiran yang berkelana. 'apa Abang beneran bakalan datang'
...............................
"Jim, jam berapa keberangkatan jadwal ke Paris." Allan yang sedang menandatangani berkas bertanya pada Jimmy.
"Nanti malam bos jam delapan." Ucap Jimmy menatap bosnya.
"Tidak bisa Jim, besok adalah hari bahagia Indira."
"Tapi hari ini cuacanya kurang bagus bos, takut terjadi sesuatu." Jimmy hanya khawatir, karena cuaca hari ini kurang bagus dan bosnya akan nekat berangkat ke Paris.
"Tidak akan terjadi apa-apa, karena jika terjadi sesuatu, maka Tuhan sudah berkehendak."
Entah mengapa jawaban Allan malah membuat Jimmy semakin khawatir.
Jam sudah menunjukan pukul tujuh malam.
"Ma Allan pergi dulu ya." Allan mencium kening Lili ketika berpamitan.
"Apa tidak sebaiknya ditunda besok saja nak, diluar sedang hujan." Lili nampak khawatir dengan cuaca yang kurang baik dan Allan akan pergi jauh.
"Tidak apa ma, Allan tidak mau mengecewakan Indira lagi." Allan tersenyum dan mengelus tangan Lili.
"Tapi mama khawatir." Lili menatap putranya sendu, entah mengapa perasaan nya jadi tidak enak.
"Mama tidak usah memikirkan yang aneh-aneh, Al akan baik-baik saja, Al akan bawa pulang calon menantu Mama." Allan berucap dengan binar bahagia, dirinya tidak sabar untuk membawa gadis pujaan hatinya kembali.
"Yasudah kamu hati-hati sayang." Lili pun dengan berat hati melepas kepergian putranya.
Kini Allan diantar oleh Jimmy menuju bandara, karena ia tidak mengijinkan Lili ikut mengantarnya.
"Jim, selama saya pergi tolong jaga mama, dan saya percaya jika kamu bisa saya andalkan di perusahaan." Allan menepuk punggung Jimmy dengan senyum.
"Tuan hanya sebentar, satu Minggu juga sudah kembali, jadi jangan bebankan semua kepada saya." Entah mengapa ucapan Allan terdengar tidak biasanya bagi Jimmy.
"Ya, saya tahu..hanya saja untuk berjaga-jaga."
"Apa anda berniat untuk tidak kembali." Ucap Jimmy dengan mata menyelidik.
Allan hanya terkekeh mendengar ucapan Jimmy. "ya, mungkin saja, berdoalah semoga saya segera kembali."
Allan pun memasuki burung besi yang akan membawanya bertemu dengan gadis pujaan hatinya.
Sepanjang perjalanan diudara dirinya merasa sangat bahagia, karena inilah akhir dari penantiannya, ia akan menjemput wanita yang sangat ia cintai dengan segenap jiwa.
Ketika sedang memikirkan sesuatu yang membuatnya tersenyum sendiri, tiba-tiba merasakan goncangan begitu keras dalam pesawat, dan nampak seluruh penumpang berteriak histeris.
Semakin lama goncangan itu tak terkendali, hingga semua nampak berputar-putar dan tiba-tiba suara dentuman keras menggema di udara, bersaman dengan suara teriakan yang hilang.
.
.
.
Mampir yuk di novel author yang ketiga. jangan lupa klik vaf ya😋