
Di sebuah rumah besar, dan halaman taman yang begitu luas seorang bocah laki-laki sedang asik bermain kejar-kejaran dengan seekor kucing.
Bagaiman dia berlalu dan tertawa membuat kedua orang yang melihatnya pun ikut tertawa.
"Sayang awas nanti jatuh." Indira tertawa, antara senang melihat putranya yang begitu aktif dan lincah, takut jika putranya jatuh.
"Emm.." Allan memeluk istrinya dari belakang, sore ini mereka menghabiskan waktu bersama keluarga.
"Kenapa princess ini selalu tidur." Jari Allan mengelus pipi mulus putrinya.
"Ai, mah mana bisa melek lama Bang." Indira menimang-nimang putrinya dalam gendongannya.
Anak kedua mereka beri nama Aileen Adena Adhitama, yang artinya cahaya indah.
Tiga Minggu sejak bayi itu lahir dan kini sudah berada di tengah keluarga mereka.
Indira yang mengalami pendarahan hebat dan harus di lakukan tindakan lanjutan pun, harus berjuang mempertaruhkan nyawa.
Selama berjam-jam di ruang operasi Allan selalu berdoa untuk keselamatan sang istri, dirinya tidak malu meskipun menangis di depan dokter dan Mamanya.
Karena baginya keselamatan sang istri adalah segalanya.
Tepat tiga jam operasi lanjutan itu di lakukan, dan dokter pun keluar dengan membawa kabar bahagia.
"Selamat pak, istri anda melewati masa kritis..Ini adalah mukzijat dari Tuhan untuk istri bapak."
Dokter itupun turut bahagia karena pasien yang Ia tangani mampu melewati masa kritis.
Sujud syukur Allan panjatkan, berterimakasih kepada sang maha pencipta yang telah menyelamatkan sang istri.
Dan sejak saat itu, dirinya selalu memberikan perhatian extra kepada keluarga kecilnya, kesibukan di kantor pun sudah Ia kurangi dengan sebagian kepada Jimmy.
Allan tidak ingin menyia-nyiakan waktu kesempatan bersama keluarga kecilnya, karena jodoh, Rizky, dan maut Tuhan sudah mengaturnya, dan kita tidak tahu kapan Tuhan akan mengambil kita dari sisi mereka.
Kebersamaan keluarga adalah waktu terpenting baginya, keluarga adalah nomor satu dari sekian banyaknya kepentingan lainya.
"Sini biar Abang yang gantian gendong." Allan meraih bayi mungil itu dari gendongan Indira, dirinya tidak bisa lama-lama terpisah dari putrinya ini.
"Duh..princess papa, wangi bener..uluh..uluh.."Allan menciumi pipi itu gemas, bau wangi minyak telon menguar di penciumannya yang menyegarkan.
"Abang Al, sini sudah mainnya nak, kasian kucingnya." Indira menghampiri putranya yang memainkan kucingnya, kucing berwarna abu-abu itu begitu menurut.
"Mama, Abang mau kucing atu agi." Ucap balita kecil itu dengan tatapan mata bulat nya.
"No..nanti pusi berantem kalau di tambah lagi, kasian Melki jika menjadi rebutan." Indira mencoba memberi pengertian.
"Belantem?" Tanya balita itu polos.
Allan mendekati kedua orang yang begitu berarti dalam hidupnya.
"Nanti papa belikan anjing kecil, Abang mau." Ucap Allan tiba di belakang mereka.
"Bang..?" Indira mendelik ke arah suaminya.
Suaminya itu tidak bisa di ajak kompromi, Indira yang sudah pusing melihat putranya itu yang selalu bermain dengan kucing dan di tambah anjing lagi, entah kapan Aldrick ada waktu bermain dengan adiknya, karena jika sudah dengan kucing balita itu lupa segalanya.
"Tidak apa sayang, hanya seekor anjing kecil." Ucapnya tersenyum manis.
Indira menghela napas kasar. "Terakhir tidak ada lagi penghuni baru lagi." Peringkatnya pada sang suami.
"Oke." Allan membulatkan bibir nya tanpa suara.
...****************...
"Sayang, terimakasih sudah berjuang demi kami." Allan memeluk tubuh istrinya dari belakang, keduanya berada di balkon kamar menikmati pemandangan langit malam yang bertaburan bintang.
"Hm..Abang bahagia?" Tanyanya dengan tangan mengelus lengan Allan yang berada di perutnya.
"Tentu saja, karena kalian sumber kebahagiaan Abang." Allan mendaratkan kecupan di pipi sang istri.
"Terimakasih Abang sudah bertahan bersama, aku beruntung di cintai oleh pria seperti Abang." Keduanya saling tatap, setelah Indira membalikan tubuhnya menghadap sang suami.
Mata Allan memindai wajah cantik di depannya dengan perasaan yang begitu bahagia.
"I love you my wife..you are my greatest wife."
Allan memangut bibir sensual isterinya yang membuatnya selalu candu.
Keduanya bercumbu bibir, dengan lembut dan penuh perasaan. perasaan bahagia yang membuncah di hati keduanya.
Tidak ada kata selain ungkapan rasa syukur dan terimakasih telah memberikan kebahagiaan yang begitu indah di keluarga kecil mereka.
Dan mereka pun merasakan akhir bahagia.
......................
...❤️❤️❤️❤️HAPPY ENDING❤️❤️❤️❤️...
Yeeeyy...akhirnya mak otor menyelesaikan cerita mereka..🥰
Terimakasih sudah mengikuti cerita receh otor, Semoga bisa menghibur kalian para pembaca 😘😘
❤️SAMPAI JUMPA DI KARYA OTOR SELANJUTNYA❤️