
Allan memasuki bandara dengan sengaja memakai hodie dan celana jeans, serta kaca mata hitam. Dirinya ingin melihat Indira untuk yang terakhir kali, walaupun hanya dari kejauhan.
Dirinya bisa melihat gadis itu sedang berbicara dengan sahabat dan Mama nya. "Abang akan selalu merindukanmu." Allan menatap Indira yang sedang berjalan tetapi sepertinya gadis itu sedang mencari atau menunggu seseorang, terlihat gadis itu sesekali menatap kesekeliling dan berbalik guna bisa melihat yang ia cari.
Allan menghembuskan napas kasar, dirinya kini sudah duduk dikursi kemudi menunggu Mama nya.
"Maaf tadi Mama membeli minum dulu." Lili masuk dan segera menutup pintu. "Kamu baik-baik saja nak?"
Allan tersenyum dan hanya menganggukkan kepalanya.
Menghidupkan mesin mobil, keluar dari bandara menuju rumahnya.
"Sepertinya Indira tadi menunggumu datang." Lili memecah keheningan.
"Biarkan seperti ini ma, Allan tidak mau membuat Indira menoleh kebelakang dan melupakan mimpinya." Ucap Allan dengan pandangan fokus menyetir.
"Mama hanya tidak tega kepadamu." Lili menatap sendu putranya. Dirinya tahu tentang mereka bertiga, hubungan anak dan cucunya dengan gadis belia itu.
"Mama doakan saja yang terbaik untuk kami." Allan membalas tatapan Lili dengan tersenyum.
Rasa cinta yang Allan miliki, tak lantas membuatnya mengedepankan ego, Indira gadis yang masih belia yang mempunyai cita-cita.
Dirinya tahu jika gadis itu berbohong tentang perasaanya, namun karena keadaan yang memaksa membuat gadis itu mengakui sesuatu yang tidak ia jalin.
*Flasback*
Malam sebelum Bimo berangkat ke LA, Allan menemui keponakan nya itu. Dirinya sengaja ingin berbicara dengan Bimo.
"Tumben Om maen kerumah?" Bimo menghampiri Allan yang sedang duduk dengan secangkir kopi.
"Abang hanya kangen sama kamu." Ucap Allan dengan senyum.
"Gak banget Om omonga nya." Bimo tertawa.
"Besok kamu berangkat, pasti om merindukanmu." Allan berkata jujur.
"Jangan rindu Om, rindu itu berat om pasti gak kuat." Kelakar Bimo.
Allan tertawa mendengan candaan Bimo. "Om boleh tanya sesuatu?"
"Apa?" Bimo duduk dengan tegak, ketika melihat wajah Allan yang akan bicara serius.
"Biasa saja, jangan tegang gitu." Allan menguranginya rasa yang tiba-tiba hadir didadanya.
"Isss om becanda, aku udah siapin telinga ini." Bimo berdecak sebal.
Allan malah tertawa. "Kamu bakalan LDR-an dong sama gadis yang kamu sukai." Pancing Allan kepada Bimo.
"Iss om kepo." Bimo mencibir dengan melirik Allan sinis.
"Om serius Bimo." Perkataan serius tapi bibirnya tersenyum.
Bimo menghela napas, kepalanya menunduk. "Aya menolak Bimo, dia hanya menganggap Bimo sahabat terbaiknya tidak lebih." Bimo berucap dengan lirih, wajahnya menampakan kesedihan.
Allan terdiam, dirinya mencoba mencerna ucapan Bimo barusan, jika Indira menolak cinta Bimo dan hanya menganggapnya sahabat, maka gadis itu berbohong kepadanya.
Allan tertawa keras dalam hati, ternyata dirinya dibohongi gadis itu, bahkan ia rela merasakan sakit luar biasa ketika memikirkan gadis itu memilih pria lain, dan kenyataan nya dirinya telah bodoh tidak mencari kebenaranya dahulu.
Sialan memang.
"Bimo harus rela jika dia nanti menemukan cintanya." Suara Bimo tidak Allan dengarkan. dirinya sedang asik dengan pemikiran nya, hingga membuat dada nya berdebar karena senang. Cinta nya masih bisa diperjuangkan.
Allan menepuk pundak Bimo. "Banyak gadis yang akan dapat melihat kamu sebagai pria bukan sebagai sahabat, Semangat ya" Allan berkata dengan senyum.
'gue gak bakalan biarin loe lepas lagi Ra' Allan tersenyum bahagia.
*Flasback Of*
"Al bakal tungguin Dira selesai dengan mimpinya ma." Allan menatap Lili sekilas.
"Mama doakan semoga kamu mendapatkan Indira." Lili tersenyum dan mengelus pundak Allan yang sedang menyetir. Allan membalas juga dengan senyum.
Kini perasaanya lega, setelah mengetahui kebohongan gadis itu, dirinya kembali merasakan semangat hidup, setelah kacau dengan perasaanya.
Allan mengantar Lili pulang dan ia akan kembali berangkat ke kantor.
"Hati-hati nak." Lili melambaikan tangan nya, ketika mobil Allan pergi.
.............................
Dijalan Allan mengemudi mobilnya dengan perasaan senang dan sedih.
senang karena ternyata Indira masih sendiri, sedih karena selama dua Minggu memendam rasa rindu, dan hari ini dirinya hanya melihat dari kejauhan melepas gadis itu pergi meraih impiannya, desainer Allan tersenyum mengingat ia pernah melihat hasil gambar tangan gadis itu yang sangat bagus, Mungkin sudah bakat gadis itu untuk menggambar sebuah desain pakaian.
Ditengah jalan ketika pikirannya sedang melayang membayangkan gadis yang mencuri hatinya, tiba-tiba mengerem mendadak.
"Si*al!." Allan segera keluar dari mobil, melihat apa yang terjadi.
"auwss..." Seorang gadis duduk didepan mobilnya dengan memegangi lengan tangan yang lecet-lecet. Untung Allan membawa mobilnya tidak kencang.
"Kamu tidak apa-apa?" Allan berjongkok bertanya.
"Perih.." Bukanya menjawab gadis itu malah merintih.
"Maaf kalo saya gak liat kamu tadi, ayo saya antar berobat." Beruntung jalanan yang Allan lewati lumayan sepi, jadi tidak takut amukan masa.
Gadis itu tidak sengaja tertabrak, karena dirinya berjalan dengan bermain ponsel.
"Yasudah ayo saya antar ke rumah sakit." Allan membantu gadis itu berdiri dan masuk ke mobilnya.
Mereka sampai di rumah sakit, Allan menunggu gadis itu yang sedang ditangani dokter.
Ia membuka ponsel melihat status yang gadis itu unggah di medsos nya, bibirnya tersenyum melihat caption yang indira sematkan.
"Pergi untuk meraih mimpi,, bukan pergi untuk mencari jodoh..'A'."
Indira menyematkan huruf diakhir, Allan kira itu adalah inisial panggilan nama gadis itu 'Aya'. Tapi yang Indira maksud adalah nama 'Allan'.
"Baru Tiga jam kamu pergi, rasanya aku sudah menahan rindu lama."
Allan segera memasukkan ponselnya ketika suara pintu dibuka dan dokter keluar. "Bagaiman keadaanya dok?"
"Tidak terjadi cedera cukup serius, lukanya sudah kami obati, jadi bisa langsung pulang." Ucap dokter itu.
"Terima kasih dok." Allan segera masuk, setelah dokter dan suster pergi.
"Kamu tidak apa-apa? "Allan berdiri didekat gadis yang sedang duduk di ranjang pasien.
"Hanya luka kecil, tidak apa-apa Om." Gadis itu tersenyum.
Allan memperhatikan gadis itu lamat-lamat, dirinya merasa jika garis wajah gadis itu mirip dengan Indira.
"Nama kamu siapa?" Allan bertanya.
"R-rania Om." Gadis itu gugup karena ditatap Allan.
"Oke Rania, mari saya antar pulang."
"Emm apa tidak merepotkan Om." Tanya Rania yang merasa tidak enak.
"Kebetulan saya tidak buru-buru."
Mereka kini sedang berada didalam mobil menuju rumah Rania.
mereka hanya saling diam, Hanya Allan bertanya dimana alamat rumah gadis itu.
"Om tidak mampir dulu?" Rania Menawari.
"Apa orang tuamu ada." Ucap Allan, entahlah dia mulai penasaran dengan wajah gadis itu yang sedikit ada kemiripan dengan Indira.
"Biasanya Papa masih dikantor, tapi Mama dan nenek ada dirumah." Ucap gadis itu lagi.
Gadis itu keluar dari mobil Allan, begitupun Allan.
"Nenek..mama..!" Gadis itu berteriak ketika sampai didalam rumah.
Allan hanya menatap kesekeliling nampak banyak foto keluarga yang terpajang.
"Kenapa kamu teriak-teriak Rania?" Wanita yang sudah lumayan mudah karena usia nya masih 45tahun.
"Ada yang ingin bertemu Mama, nenek dimana?" Tanya Rania.
"Kenapa kamu berteriak seperti dihutan, sampai nenek mendengarnya dari belakang." Wanita yang lebih tua muncul nampak kulitnya sudah mmterlihat keriput dari belakang.
"Ya ampun tangan kamu kenapa Rania!." Mamanya Rania yang baru melihat tangan anak gadisnya diperban.
Rania hanya menyengir melihat wajah panik kedua wanita beda usia itu. "Hanya keserempet mobil Om itu." Tunjuk Rania pada Allan yang hanya diam berdiri melihat interaksi mereka.
"Eh... Ada tamu ganteng." Mama Rania langsung mendekati.
Allan hanya tersenyum dan mengulurkan tangan. "Allan.. maaf saya tadi yang tidak sengaja menyerempet Rania." Ucap Allan menjelaskan maksud ia bertamu.
"Saya Harna Mamanya Rania. ahh tidak apa-apa memang sudah biasanya gadis nakal itu ceroboh, dan membuat ulah." Ucap Harna melirik putrinya.
Rania yang di sebut nakal hanya mencebikkan bibirnya, ia sudah biasa disebut seperti itu oleh mamanya.
"Kamu bikin ulah apa sampai diserempet mobil?" Tanya nenek Rania.
"Gak bikin ulah, hanya jalan sambil main ponsel ." Jawab Rania enteng.
Mereka hanya geleng kepala mendengar ucapan gadis yang masih 17tahun itu.
Rania masih pelajar yang sekarang duduk dikelas 3SMA. Dirinya mempunyai seorang kakak laki-laki yang usianya 24Tahun, Tetapi kakaknya sedang berada diluar negeri.
Rania adalah gadis manja dan ceria, dirinya terlahir dari keluarga cukup kaya hingga semua kebutuhannya terpenuhi.
.
.
.
.
.
Kopi mana kopi👉👈... ngantuk pagi-pagi apalagi habis keluarin tenaga dalam buat bikin bang Allan seneng🤣🤣🤣 kalian jangan nakal sama author ntar kalian gak ketemu Alay, authornya di santet online😂😂 canda yaa para reader kesayangan author...ayo..ayo.. like..komen..kirim hadiah kalian biar author semangat up hari ini😆😘