
"Nanti aku jemput pulangnya." Ucap Riko ketika Indira akan keluar dari mobilnya.
"Kamu lama-lama seperti bodyguard ku tau." Indira melepas sealtbeat.
"Kalo bisa si, bodyguard hatimu." Riko tersenyum menggoda.
"Dih..ngarep." Indira keluar dan mengucapkan terimakasih.
Riko menatap kepergian gadis itu, dirinya merasa sesuatu yang tak bisa ia jelaskan, tapi ia sadar jika dirinya menyanyangi gadis itu.
....................................
Indira dan Nicolas sedang menunggu kedatangan Lili,Arum dan Kiki dari Jakarta, dirinya tidak sabar ingin bertemu.
Dari kejauhan dirinya melihat tiga orang wanita yang dirinya kenal, dan Indira pun segera melambaikan tangan nya.
"Oma..!" Indira berteriak memanggil, ketiganya mengembangkan senyum melihat Indira yang sudah menunggunya.
"Indira..!!" Suara Kiki masih sama cempreng nya tidak berubah.
Mereka berpelukan, Indira memeluk Oma dan kedua sahabatnya memeluk mereka berdua jadilah mereka berempat yang sedang berpelukan.
Nicolas hanya tersenyum melihat kebahagiaan mereka.
Dirinya kemarin mendapat pesan, jika Allan tidak jadi ikut.
Sayang sekali padahal Nicolas tahu jika gadis itu sangat menunggu kedatangan bosnya itu.
"Oma..apa kabar? kalian juga apa kabar?" Indira dengan wajah senang karena bisa melepas rindu kepada orang-orang baik kepadanya.
"Oma sehat nak."
"Kita pasti sehat, buktinya sampai sini." ucap Kiki.
"Gila loe makin cakep aja sih." Arum memutar-mutar tubuh Indira membuat sang empunya tertawa.
"Pantes para cogan banyak naksir loe, ternyata loe smelehoi begini." Kiki berdecak melihat tubuh Indira semakin menggoda.
Indira hanya menggunakan Jean dan kaus ketat warna hitam dan dilapisi Coat berwarna coklat.
"Udah ah ngobrolnya, Oma capek pengen istirahat." Putus Oma ketika mereka masih asik bicara.
"Loe sih ngoceh Mulu..Oma kan udah punya cucu jadi gak kayak loe yang masih seger."
Arum mengoceh pada Kiki. Kiki pun mendelik tajam kearah Arum merasa menjadi kambing hitam.
Dan mereka pun masuk kedalam mobil yang dikendarai oleh Nicolas, setelah memasukkan barang bawaan kedalam bagasi mobil, Nicolas melajukan keapartemen Indira.
Karena sudah tahu jika mereka akan datang Indira pun menyulap ruang tv menjadi tempat tidur, menaruh kasur hingga dua dan di rapatkan menjadi satu, rencana nya mereka akan tidur bersama.
"Oma apa kabar Tante Leina?" Indira yang duduk disebelah Oma, Kiki dan Arum duduk berdua dikursi paling belakang.
"Baik sayang.. semua nya baik-baik saja." Lili pun mengelus punggung tangan Indira.
"Emm...apa Abang tidak ikut." Indira berkata lirih ketika mengucapkan itu.
Arum dan Kiki dibelakang tidak terlalu mendengarkan obrolan Indira.
Oma menatap wajah gadis cantik yang amat ia sayangi. "Al masih banyak pekerjaan, jadi belum bisa ikut." Lili sebenarnya tidak tega membohongi gadis itu, tapi tidak sekarang, nanti ia akan bercerita ketika sampai dirumah.
Indira terdiam, hatinya merasa perih mungkin pria itu sudah tidak mau menemuinya lagi. Bibir tersenyum namun merasa perih dihati, mungkin pria itu belum membaca buku yang ia tinggalkan.
"Kamu tidak apa-apa sayang." Lili bisa melihat wajah gadis itu, ada kesedihan dibalik senyum nya.
Indira menggeleng. "Tidak apa-apa Oma."
Tak lama mereka sampai di apartemen Indira.
"Jika butuh sesuatu anda bisa hubungi saya nyonya." Ucap Nicolas.
"Terima kasih Nico, kamu sudah menjaga Indira dengan baik." Lili berucap tulus.
"Sudah menjadi tugas saya nyonya."
Nicolas pun pamit pergi meninggalkan ke empat wanita itu di apartemen Indira.
"Wah...gila loe tinggal sendiri ditempat ini." Kiki berdecak kagum melihat tempat tinggal Indira.
"Kadang ditemani mbak Biana sih, istri Om Nico." Indira ngambil minuman kaleng dan membawanya keruang tamu bersama cemilan.
Mereka bercengkrama kesana kemari, bercerita semua keseruan mereka Oma pun ikut menimbrung obrolan para anak muda itu.
Hingga waktu tak terasa sudah malam, kini hanya tinggal Oma dan Indira yang sedang duduk di ruang tamu dengan Indira yang tiduran diatas pangkuan Oma Lili.
Arum dan Kiki sudah menuju alam mimpi mereka bilang dirinya lelah dan butuh istirahat.
Entah mengapa perasaan Indira menjadi gusar, mengingat Allan sama sekali tidak pernah menghubunginya dan mendatanginya, padahal pria itu bisa kapan pun pergi hanya untuk menemuinya.
"Sayang ada yang Oma mau katakan." Lili pun mengelus kepala Indira, dengan lembut.
Indira menegakkan tubuhnya menjadi duduk menghadap Oma. "Apa Oma?"
Lili menarik napas dalam, menghembuskan pelan sebelum bicara.
............
Pagi ini Indira diapartemen sendiri sedangkan Oma dan kedua sahabatnya sedang menikmati liburan. Indira beralasan ada pertemuan dengan sahabatnya membahas tentang pelajaran. tetapi sekarang dirinya malah hanya duduk dikamar dengan tangan memegang ponsel, melihat nama kontak yang tertera sedang online padahal sekarang jam 9pagi waktu Paris dan jam 3pagi dini hari di Jakarta.
Indira kembali mengingat perkataan yang Oma ucapkan, seketika rasa sesak menyusup relung hatinya.
*Flasback*
"Maaf jika Al tidak memberi tahu kamu." Lili mengusap kepala Indira pelan.
Indira hanya diam tak menjawab ucapan Oma Lili. Dirinya juga tak merespon apapun.
*flashback of*
Indira menguatkan hati untuk berbicara kepada Allan. Jarinya menekan tombol panggil ketika melihat nomor itu masih online padahal waktu menunjukan dini hari.
Allan menatap gelap nya malam di balkon kamar. entah mengapa malam ini dirinya enggan untuk memejamkan mata, sejak dimana hari dirinya bertunangan dengan Siska. dua hari yang lalu.
Rasa yang tidak bisa lagi dirinya jabarkan, rasanya hidupnya kembali hambar, meskipun Jimmy dan anak buah nya sedang menyelidiki apapun yang berkaitan dengan Siska, tapi sampai sekarang dirinya belum bisa mendapatkan apa yang dia mau.
Lamunan nya buyar ketika ponselnya bergetar, tanda panggilan masuk.
Entah dirinya harus bahagia atau sedih, yang jelas nama yang tertera di layar itu membuatnya menyunggingkan senyum.
"Halo..."
Terdengar suara yang sangat ia rindukan menyapa telinganya.
"Ya..Ra." Suara Allan terdengar berat, menahan rasa yang membuncah antara senang dan sedih menjadi satu yang menyesakkan dada.
"Abang belum tidur?" Entah kenapa malah kata-kata itu yang keluar dari mulutnya.
Diseberang sana Allan tersenyum. "Abang sedang tidak bisa tidur." Allan menghela napas, Indira pun bisa mendengarnya.
"Kenapa?" Lah kenapa jadi kepo sih.
"Boleh Abang tanya sesuatu?"
"Hem.. apa?" Indira mencoba biasanya ketika mendengar pertanyaan itu.
"Apa kamu percaya sama Abang?"
"Memang Abang melakukan kesalahan apa?"
"Maaf, Abang belum bisa menemui mu, secepatnya setelah masalah Abang selesai." berdiri di pinggiran pagar balkon, kepalanya ia donggakkan menghalau cairan bening yang menggenang di pelupuk matanya. "Abang akan menemui mu." Ucapnya lirih menahan sesuatu yang terasa ngilu.
................................
Sudah 2 bulan semenjak kepulangan Lili dari Paris. wanita itu hanya melihat Allan di pagi hari, Lili bahkan tidak pernah melihat kapan Allan pulang.
Allan masih terus berusaha mencari bukti tentang kejadian itu. Dimana ia dan Leona kecelakaan selain dirinya meminum minuman keras namun Allan masih sadar bahkan Leona pun tidak mabuk, Allan adalah tipe pria yang kuat minum, jadi hanya minum dua botol lantas tidak membuatnya tumbang apalagi kadar alkohol nya rendah. Ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang namun karena tiba-tiba ada sebuah mobil yang memotong jalan nya dan Allan pun tidak sempat menghindar akibat rem mobil yang ia kendarai blong, dan masuk kedalam jurang.
*Flasback*
Siska membawa Allan menginap di hotel yang sudah ia pesan.
Allan mabuk dan sudah tak sadarkan diri, akibat lelah dan banyak pikiran, menghabiskan dua botol saja sudah membuatnya tumbang.
"Dulu gue mengalah karena Leona, tapi sekarang wanita sialan itu sudah pergi selama-lamanya." Siska mengelus rahang Allan dengan jari telunjuknya.
Siska melepas pakaian yang melekat ditubuh Allan, dan dia juga melepas pakaian yang ia kenakan. besok pagi adalah rencana puncaknya dimana kedua orang tuanya dan Lili akan memergoki mereka.
Tepat jam tujuh pagi, pintu hotel di buka dari luar, pemandangan yang menyesakkan Lili putranya bergelung selimut dengan seorang wanita tanpa busana.
Lili berteriak untuk membangunkan keduanya, orang tu Siska tidak bisa berkata apa-apa karena sudah tau watak dan sifat Siska.
"Allanaro..!!" Suara teriakan Lili membuat dua orang yang masih terlelap terpaksa terbangun, meskipun kepala Allan masih pusing namun dirinya bisa mendengar dan melihat jelas wajah mamanya.
"Mama..?" Allan syok ketika disebelah ada Siska yang sudah menangis. 'ada apa ini'
"Apa yang kamu lakukan Allanaro?" Lili menatap tajam Allan dengan wajah berurai air mata.
"Ma.." belum sempat Allan selesai bicara Lili sudah keluar dan diikuti kedua orang tua Siska.
"Argghh Shitt.." Allan meremat rambutnya kasar, ia melihat Siska yang sedang pura-pura menangis.
"Loe wanita Bi*ch." Allan menatap tajam Siska dengan sorot mata dingin.
Siska tersenyum manis, bahkan wajah yang biasa tampil anggun dan cantik kini bagaikan monster.
"Kenapa? mau marah?." Siska bergeser mendekati Allan. "Gue cuma minta loe jadi milik gue."
Allan menatap tajam Siska dengan dada bergemuruh. "Gue bisa sebarkan foto-foto kita, keluarga dan reputasi perusahaan loe bakalan hancur." Siska tersenyum bangga sambil menunjukan foto-foto int*m mereka.
Kepala Allan rasanya ingin meledak, ternyata Siska yang biasanya ramah dan anggun kini berubah menjadi monster mengerikan.
"Ingat jika loe tidak menuruti kemauan gue, jangan salahkan gadis pelayan itu bernasib sama dengan tunangan loe yang pergi selama-lamanya." Siska tertawa keras tawa yang sangat menyedihkan namun juga mengerikan.
"Sialan..!!" Allan menggeram prustasi dirinya mencoba mengingat kejadian empat tahun kebelakang.
"Ra tunggu Abang"
.
.
.
.
Para netizen yang Budiman, jangan bikin author bersalah ye, nyemplungin bang Al ke lobang Siska,,eh salah🤣🤣 maksudnya ke kandang ulet bulu.🤠Aku tak Setega itu misahin coupel Alay..😂. pencet jempol kalian..tinggalkan unek-unek kalian..😜 author strong💪 apalagi kalo tiap hari kalian kirim kopi☕☕☕