
Indira melepas kepergian suaminya dengan wajah sendu, Allan yang tidak jadi berangkat ke kantor di pagi hari memilih menemani sang istri yang sedang merajuk sedih yang akan ditinggalkan.
Memang semenjak menikah Allan selalu membawa Indira kemana pun jika sedang ada pekerjaan yang harus bertolak ke luar kota atau pun luar negeri. Baru kali ini dirinya meninggalkan Indira. Bukan tanpa alasan Allan meninggalkan istrinya dan tidak ajak, karena Allan akan sangat sibuk dan pasti tidak akan sempat istirahat dengan nyenyak waktunya keluar kota hanya dua hari, besok malam dirinya sudah kembali ke Jakarta jadi tidak mungkin Allan membawa Indira yang sedang hamil, karena takut akan kelelahan dijalan.
Jimmy menjemput bosnya dirumah ketika dirinya sudah menyelesaikan urusan nya di kantor, dan Jimmy akan ikut menemani Allan keluar kota.
Indira membuang napas kasar ketika mobil suaminya sudah tak terlihat, dirinya merasa kesepian jika di malam hari.
Lili yang melihat wajah sendu menantunya mencoba menghibur. "Sayang, temani Mama ke mall yuk, mama udah lama gak shopping."
Indira menoleh pada mama mertuanya. "Boleh mah, dari pada Dira bosan." Indira tersenyum.
"Yasudah Mama tunggu, kamu bersiap gih." Lili tersenyum melihat wajah menantunya yang kembali tersenyum.
"Beruntungnya kamu Al, memiliki istri seperti Indira."
.
.
Indira sudah rapi dengan penampilannya, seperti biasa dirinya akan menggunakan dress yang sedikit longgar yang menurutnya lebih nyaman ketika dalam keadaan hamil seperti ini.
"Kamu sudah siap sayang..?" Tanya Lili yang melihat Indira turun dari tangga.
"Sudah Mah, Ayo kita berangkat." Indira bersemangat. Dirinya sudah lama tidak pergi ke Mall meskipun hanya untuk sekedar jalan-jalan atau cuci mata seperti dulu, karena jika ada Allan Indira lebih suka menghabiskan waktu.
Menghabiskan waktu dalam hal apapun, seperti menemani Allan bekerja di rumah ketika saat dikantor Allan belum menyelesaikan pekerjaannya.
Kesibukan Indira hanya di siang hari, dirinya mengerjakan desaine yang dibutuhkan untuk butiknya, setelah semua desaine nya siap Indira menyerahkan kepada Rere yang sebentar lagi akan menjadi sepupu iparnya.
.
.
Tiga puluh menit Lili dan Indira sampai di Mall dengan diantar supir keluarga.
Indira mengajak Lili ketoko perlengkapan bayi, karena ketika ingin menuju toko pakaian Indira melewati toko perlengkapan bayi yang membuat matanya berbinar.
"Mah, lihat ini lucu banget." Indira menunjukan sepasang kaos kaki berkarakter.
"Iya sayang, kalo lihat yang beginian pasti hilaf mata." Lili juga berbinar melihat betapa lucu dan menggemaskan beraneka ragam keperluan bayi yang begitu lengkap.
"Mah, Dira rasanya pengen borong semua." Indira melihat baju bayi yang sangat lucu ada karakter binatang yang timbul di bagian depan.
"Nanti sayang belum waktunya, harus menunggu usia kehamilan kamu tujuh bulan." Ucap Lili yang mengingat dirinya dulu juga dilarang oleh ibu mertuanya membeli pakaian bayi ketika usia kandungannya belum genap tujuh bulan.
"Memangnya kenapa mah, bukanya sama saja membeli nanti dan sekarang?" Tanya Indira bingung.
"Harus nunggu dong mah." Ucap Indira lesu.
"Iya sayang, sabar hanya beberapa bulan lagi. Setelah itu kamu bebas untuk memborong." Lili membesarkan hati menantunya agar tidak sedih kembali.
Indira menurut meskipun rasanya ingin memborong semua tapi dirinya menghargai ucapan mama mertuanya, meskipun tidak paham kenapa tidak dibolehkan.
Keduanya kembali berbelanja kebutuhan mereka, Indira juga lingerie yang menurutnya sangat seksi dan hot. Ia akan memakai baju haram itu ketika nanti Allan pulang.
.
.
Dilain tempat Rere yang sedang sibuk di butik Indira tidak melihat sedari tadi ponselnya yang terus berkedip tanda panggilan masuk, karena Rere sempat men-selent ponselnya tadi malam.
Butik yang kebetulan sedang ramai membuat pegawai lainya juga sibuk, Rere sebagai orang yang diberi kepercayaan tanggung jawab penuh mengurus butik sebisa mungkin memberi pelayanan yang terbaik.
"Mbak ada customer yang marah-marah katanya baju yang dipesan cacat dan sobek." ucap Meta.
Rere yang sedang menulis pun berhenti." Maksud nya gimana?" Ucap Rere bingung, karena tidak mungkin barang customer akan cacat ataupun robek karena semua barang yang masuk toko dirinya sendiri yang mengecek.
"Saya juga gak tau mbak, tapi ibu itu marah dan membuat kegaduhan meminta ganti rugi."
Rere pun berdiri dan berjalan menemui ibu-ibu yang katanya sedang marah-marah.
"Maaf ada apa ini ya?" Rere bertanya.
"Oh jadi anda yang bertanggung jawab disini.?" Seorang wanita berpakaian glamor menatap Rere nyalang.
"Iya, saya yang bertanggung jawab disini, jika nyonya punya masalah tolong bicarakan baik-baik jangan membuat kegaduhan di butik kami." Ucap Rere setenang mungkin, karena keadaan butik cukup ramai membuat para pengunjung banyak yang sedang berbisik-bisik.
"Baik-baik anda bilang..!! Lihat." Wanita itu menunjukkan baunya yang cacat dan sobek di bagian depan, seperti di robek menggunakan benda tajam. "Katanya gaun mahal tapi tidak menjamin kualitas bagus." Wanita itu melempar gaunnya kepada Rere.
Rere melihat bagian yang robek, dirinya yakin jika robekan itu seperti di sengaja. "nyonya yakin ini cacat dari butik kami, bukan nyonya sendiri yang membuatnya cacat." Rere bicara dengan nada sinis, dirinya tidak suka jika ada orang yang sengaja ingin menjatuhkan nama butiknya menjadi buruk.
"Maksud anda apa? anda menuduh saya yang merobek gaun itu.!!" Wanita itu marah dan tidak terima ketika dirinya dituduh sengaja merobek gaun itu.
"Jika nyonya tidak melakukanya kenapa harus marah? saya hanya bertanya tapi nyonya sudah menyimpulkan sendiri, kenapa gaun itu bisa cacat." Rere menatap wajah wanita itu datar tanpa ekspresi. "Saya tidak yakin jika gaun ini cacat dari butik kami, jika memang cacat kenapa label butik kami sudah tidak ada, tapi jika baju ini masih baru dan belum dipakai.. Kalian semua bisa lihat jika label bajunya sudah tidak ada, dan.." Rere mencium baju yang berada di tangannya. "Bau parfumnya saja masih membekas, bukan bau baju baru lagi." Rere menatap sinis dengan sudut bibir tersenyum, membuat wanita didepanya diam kaku dengan wajah panik.
Ada beberapa orang yang sengaja merekam kejadian itu untuk di viral kan.
"Anda yakin baju ini masih baru nyonya?" Tanya Rere dengan wajah tenang, namun membuat lawannya menelan ludah kasar.
"Maksud anda apa? jelas baju itu masih baru." Wanita itu sebisa mungkin bersikap tenang meskipun ketakutan sudah dirasakannya.
"Hm.. maksud saya anda sengaja meminta ganti rugi untuk kesalahan yang anda lakukan dengan sengaja." Rere berjalan memutari tubuh wanita itu yang terasa bergetar. "Apa perlu saya perjelas nyonya." Rere menaikkan satu alisnya meremehkan lawan didepannya. "Baiklah jika itu mau anda." Rere menghadap kerumunan customer yang sedang menonton adegan live mereka. "Jadi nyonya yang terhormat ini sedang melakukan penipuan dengan membeli gaun di butik kami, baju yang ia bawa ini sudah di pakai karena bau parfum yang dia pakai masih menempel, ingin meminta ganti rugi agar mendapat untung memiliki baju baru lagi, setelah baju yang dipakainya ia robek menggunakan pisau atau benda tajam lain nya, dan menyalahkan butik kami yang kurang kompeten dalam penjualan. Cara yang beliau lakukan sangat mempengaruhi nilai penjualan kami terhadap customer yang lain." Rere berbicara tenang, namun tatapan matanya tak lepas dari wajah wanita yang sudah pucat dan berkeringat ditempatnya karena ketahuan.