
Jimmi sampai dirumah sakit pukul sembilan malam. Setelah mencari keluarga korban yang ternyata adalah karyawan di perusahaan Rendy Bagaskara kakak ipar Allan yang bernama Regina, bekerja sebagai Cleaning servis.
Jimmi membawa ibu dari Regina yang ia datangi rumahnya, cukup jauh tempat tinggal orang tua Regina atau biasa di panggil Gina itu karena rumah orang tua Gina berada di pelosok kota Jakarta butuh waktu hampir dua jam Jimmi menempuh perjalanan.
Tok..tok..
Suara ketukan pintu membuat Allan menoleh, dan masuk Jimmi dengan seorang wanita paruh baya yang sudah bercucuran air mata.
"Ya ampun ndok, kenapa bisa jadi begini to kamu ndok." Ibu Gina menangis tergugu disamping ranjang putrinya, karena dari pelosok kampung ibu Gina menggunakan bahasa sehari-hari di kampung.
"Beliau ibu Regina atau biasa di panggil Gina bos." Jimmi mendekati Allan yang masih duduk memangku kepala Indira yang sedang tertidur.
"Kau bicara dulu dengan ibu itu." Allan menyuruh Jimmi untuk berbicara dahulu kepada ibu dari Gina, karena Allan ingin membenarkannya posisi tidur istrinya agar tidak terganggu.
"Kenapa anak saya bisa seperti ini lak? apa yang terjadi?" Ibunya Gina menatap Jimmi dengan wajah sedih, air matanya tidak berhenti mengalir.
Regina atau Gina adalah anak satu-satunya, mereka hanya hidup berdua, sedangkan ayah Gina meninggalkan mereka ketika Gina berusia lima tahun. Gina menjadi tulang punggung untuk ibunya di kampung, kota yang masih sama tempat Gina bekerja, namun rumahnya berada di pelosok pinggir kota.
"Maaf Bu, putri anda mengalami kecelakaan dan sekarang belum sadarkan diri." Jimmie mencoba menjelaskan.
"Ini salah saya Bu, saya minta maaf karena tidak sengaja menabrak motor putri anda." Allan bicara setelah membenarkan posisi Indira tidur dengan nyaman, dirinya sangat merasa bersalah dan ingin bertanggung jawab dengan Gina.
"Terus kenapa anak ku ngak bangun juga." Ibu Gina yang bernama Lastri masih menangis terisak.
"Putri ibu mengalami benturan yang cukup keras di kepala, sehingga Putri ibu mengalami koma." Allan berucap lirih dengan menundukkan kepalanya. Berharap semoga Gina cepat sadar.
Tangis Lastri semakin pecah mendengar kenyataan putrinya koma. Bahkan Indira yang sedang tidur merasa terganggu dan bangun ketika mendengar suara tangis Lastri.
"Abang.." Indira duduk dengan wajah yang masih belum terkumpul Kesadarannya.
"Sayang kamu bangun." Allan mendekati istrinya sudah duduk di sofa.
"Hm.. ada apa?" Indira menempelkan kepalanya di dada suaminya yang sedang duduk di sampingnya.
"Ibu gadis itu datang, dan menangis, Abang sangat bersalah." Allan berkata dengan wajah sendu menatap Lastri yang masih menangis di tenangkan oleh Jimmi.
"Biar Dira saja yang bicara." Indira ingin berdiri namun Allan mencegahnya.
"Tidak usah sayang, Abang takut jika ibu itu tidak terima dan nekat malah mencelakai kamu." Allan menatap wajah istrinya penuh khawatir.
Dirinya tidak tahu seperti apa sifat Bu Lastri, takut jika Bu Lastri tidak terima dan malah mencelakai Indira.
"Tidak kan Abang, percaya sama aku." Indira tersenyum menatap Allan dengan lembut, agar kekhawatiran Allan berkurang.
Allan lun hanya pasrah ketika Indira sudah berjalan mendekati Bu Lastri yang masih menangis Gina. Allan hanya berdiri di belakang Indira, takut jika hal yang tidak di inginkan terjadi.
Indira berjalan mendekati Bu Lastri yang masih duduk dikursi, tangan nya terulur untuk menyentuh bahu Bu Lastri. "Bu.." Panggil Indira lembut.
Lastri menoleh dan mendapati wanita cantik dengan perut terlihat menonjol, perempuan itu hamil.
"Maaf jika kami membuat Putri ibu menjadi seperti ini." Indira menatap Lastri dengan mata yang sudah berkaca-kaca. "Ini semua salah kami yang tidak hati-hati di jalan, dan mengakibatkan kecelakaan terjadi." Air mata Indira sudah menetes, membuat Allan mendekat dan mengelus punggung istrinya.
Lastri hanya menatap mata Indira mencari kejujuran dan ketulusan atas ucapan nya barusan, dan Lastri bisa melihat jika wanita hamil itu tulus meminta maaf.
"Ini semua sudah takdir dan nasib Gina nak, tidak perlu menyalahkan diri sendiri." Lastri mengusap air matanya, dirinya bisa merasakan jika orang di depannya ini adalah orang baik.
"Kami akan bertanggung jawab untuk perawatan Gina sampai sembuh, dan kami akan mengganti kerugian kerusakan motor anak ibu." Allan ikut bicara ketika melihat Lastri yang nampaknya sangat ikhlas melihat keadaan anaknya.
"Saya berterima kasih, kami memang bukan keluarga mampu, bahkan Gina lah yang mencari uang untuk hidup saya di kampung." Ucap Lastri yang membuat Indira mendekat dan langsung memeluk wanita paruh baya itu.
"Ibu tidak usah khawatir, kami akan menanggung semua biaya untuk Gina dan ibu." Indira memeluk erat Lastri dengan air mata yang mengalir.
.
.
.
Dua hari Gina tak sadarkan diri dari komanya dan kini gadis itu sudah membuka matanya kembali.
Bu Lastri yang selalu menunggui Gina dirumah sakit terkadang Indira juga menemani Bu Lastri.
Keadaan Gina sudah semakin membaik, meskipun masih harus di rawat namun kondisinya sudah cukup stabil.
"Ibu, Gina besok ada acara syukuran di rumah untuk calon Beby, tapi mengingat Gina belum bisa keluar dari rumah sakit Dira hanya ingin minta doanya semoga berjalan lancar." Indira menggenggam tangan Gina, dirinya duduk di kursi sedangkan Lastri berdiri di samping putrinya yang sedang duduk dengan bersandar di kepala ranjang.
"Ibu hanya bisa mendoakan yang terbaik nak, semoga kamu dan calon bayimu semua sehat sampai lahiran nanti."
"Amin.." Indira dan Gina menjawab bersamaan.
"O..ya jika Gina tidak keberatan di butik Dira masih membutuhkan karyawan, tapi yang saya tahu Gina sudah bekerja di kantor kakak ipar saya." Indira bicara dengan Gina.
"Loh mbak tau tempat kerja saya?" Tanya Gina heran.
"Asisten suami saya yang bilang, ketika mencari alamat kamu tidak sengaja melihat ID Card perusahaan tempat kamu bekerja." Ucap Indira menjelaskan.
"Tapi saya masih ingin bekerja di sana mbak, apa lagi bisa cuci mata setiap hari melihat bos muda yang sangat tampan." Gina membayangkan wajah tampan bosnya yang pernah dua kali dirinya lihat.
"Oalah ndok, kamu itu kerja opo cuma mau cuci mata cowok ganteng to." Ucap Lastri membuat Gina hanya menyengir.
"Kan biar semangat kerjanya lo buk."
Indira ikut tertawa, dirinya tahu jika yang dimaksud bos muda di kantor kakak iparnya adalah Bemo sayang. "Eh.. jangan-jangan kamu naksir lagi sama bos mu itu." Indira menggoda Gina yang wajah nya langsung memerah malu.
"Gak level lah mbak, bos aku itu tampan, tapi sayang nya dingin kayak kulkas berjalan."
Indira tergelak mendengar julukan Bimo yang sama persis seperti sahabat nya berikan yaitu Arum dan Kiki.
.
.
Jangan lupa mampir ke karya author lainya ya kesayangan...🥰🥰
.
"PEMBANTUKU CANDUKU 2"
DISINI LAPAK NYA BANG BIMO SAMA ALENA YAA SAYANG😘😘
.
.
"GADIS MALAM MILIK DADDY"