
Allan sampai dirumah sakit terdekat tempat Indira di bawa, dirinya langsung keluar tanpa peduli satpam yang memanggilnya karena mobil nya belum terparkir dengan benar.
"Pak, tunggu..mobil anda menghalangi banyak orang." seru satpam itu mengejar Allan.
Allan pun berhenti dan menatap satpam itu. "Tolong pak." Tanpa bicara lagi dirinya menyerahkan kunci mobilnya dan dia pun segera berlari ke UGD.
"Lah mana bisa gue nyetir mobil beginian, kagak ada kuncinya." Satpam itu memutar-mutar kunci mobil yang di berikan tadi.
Allan berlari dengan jantung berdegup kencang, matanya memancarkan rasa khawatir dan takut akan keselamatan istrinya.
"Tuan.." Pengasuh Aldrick pun berdiri setelah melihat Allan.
"Bagaiman keadaan istri saya..apa yang terjadi..!" Allan begitu panik, tapi ketika melihat Aldrick tertidur dengan masih sesenggukan membuatnya meraih putranya dari gendongan pengasuh Aldrick.
"Nyonya..nyonya jatuh ketika bermain dengan tuan muda Al tuan, dan mengalami perdarahan." Ucap pengasuh itu menunduk sedih, air matanya masih belum kering dirinya juga sedih dengan apa yang menimpa majikanya itu.
"Ya Tuhan.." Allan memeluk Aldrick dalam gendongannya menciumi pucuk kepalanya dengan mata panas menahan laju air mata.
Tak lama pintu UGD terbuka dan seorang dokter keluar.
"Dokter, bagiamana keadaan istri saya." Allan segera bertanya, dengan masih menggendong Aldrick.
"Kami harus segera melakukan operasi Caesar, karena kalau tidak makan akan terjadi se_"
"Lakukan dokter, lakukan yang terbaik untuk menolong anak dan istri saya." Allan memotong ucapan dokter itu, dirinya tidak mau terjadi sesuatu kepada istri dan anak yang masih dalam kandungan Indira.
"Tuan, anda harus memilih salah satu di antara mereka jika terjadi sesuatu."
Deg
Tubuh Allan menegang jantungnya seperti diremas dan tak berdetak lagi. Jika tidak ingat masih menggendong Aldrick tubuhnya sudah luruh kelantai, dirinya merasa benar-benar terpukul.
"Ma_maksud dokter." Tanyanya dengan suara bergetar.
"Pendarahan istri anda cukup hebat, dan untuk kemungkinan jika terjadi sesuatu kami harus menyelamatkan salah satu dari mereka." Jelas dokter itu membuat Allan diam mematung.
"Dokter, selamatkan istri dan anak saya dok apapun yang terjadi, dan..dan jika terjadi sesuatu maka." Allan berhenti sejenak dirinya tidak mungkin memilih diantara satu dari keduanya karena mereka adalah kebahagiaan nya. Tapi jika sesuatu terjadi dirinya juga tidak ingin kehilangan keduanya. "Maka selamatkan istri saya." Allan begitu berharap dan memohon kepada dokter itu untuk menyelamatkan keduanya.
"Baiklah, kami akan berusaha sebaik mungkin, berdoalah semoga semua baik-baik saja, dan anda segera urus kelengkapan administrasi nya dan segera tandatangani surat persetujuan nya." Dokter itu pun menyuruh suster untuk segera menyiapkan operasi Indira, setelah menyerahkan surat yang harus Allan tanda tangani.
"Baik dok."
Allan memberikan Aldrick kepada pengasuh. "Mbak bawa Aldrick pulang, jaga dia dirumah dan tolong bilang sama Mama."
Ucap Allan pada pengasuh itu.
"Baik tuan."
Allan segera mendatangi administrasi untuk melengkapi prosedur operasi Indira.
"Ya Tuhan selamatkan istri dan anak hamba." Allan mengusap wajahnya kasar, dirinya terlalu takut jika terjadi sesuatu kepada istri dan anaknya.
"Al..." Lili menghampiri putranya yang sedang duduk dengan menunduk, Allan nampak berantakan dengan wajah sedih.
"Mah.."
Lili langsung merangkul tubuh tegap putranya itu, dirinya tahu jika putranya sangat takut dengan hal yang membuatnya merasa kehilangan.
"Sabar Nak, ini ujian..mereka pasti baik-baik saja." Lili menjatuhkan air matanya, ketika mendengar Allan terisak dalam dekapannya.
Seperti Lima belas tahun lalu, ketika papa nya meninggalkan mereka untuk selamanya.
"Dira mah." Allan menangis terisak dalam pelukan sang ibu, dirinya sangat takut jika kehilangan istrinya.
"Mama yakin menantu Mama adalah wanita kuat, pasti dia akan berjuang demi anak-anak dan suaminya." Lili mengelus kepala Allan dengan lembut.
'Tuhan jangan kau ambil lagi orang yang sangat berarti dalam hidup putraku.' Doa Lili dalam hati.
Dulu ketika kekasihnya meninggal, Allan tak sepuruk ini, apalagi menangis seperti ini.
Setelah tiga jam menunggu di depan ruang operasi dengan gelisah waktu menunjukan pukul delapan malam, dokter pun keluar tak lama setelah lampu di atas pintu itu mati.
"Bagai mana dokter." Tanya Allan begitu cepat ketika dokter keluar dari ruang operasi itu.
"Alhamdullillah bayi nya selamat, berjenis kelamin perempuan." Ucap sang dokter.
Allan sedikit bernapas lega. "Lalu bagaiman dengan istri saya." Tanya lagi.
"Istri anda sed_"
"Dokter pasien mangalami pendarahan hebat kembali, dan tidak mau berhenti." Tiba-tiba suster dari dalam menghentikan ucapan dokter itu.
"Baiklah lakukan tindakan selanjutnya." dokter itupun segera masuk kembali, tidak peduli Allan yang sudah memangil dan berteriak.
"Dok..dokter..!!" Allan ingin menerobos masuk tapi suster itu menghalanginya.
"Maaf tuan, harap tenang dan tunggu di luar, kami akan melakukan yang terbaik untuk pasien, untuk saat ini hanya dukungan dan doa yang pasien butuhkan." Ucap suster itu pada Allan dan Lili yang sedang menenangkan putranya.
"Tolong lakukan yang terbaik untuk memantu saya sus." Ucap Lili dengan tangisnya.
"Baik Bu." Suster itupun pergi dan masuk kembali.
"Dira, jangan tinggalin aku sayang..Mah, katakan pada nya jangan tinggalin aku." Allan menangis tergugu, separuh hidupnya bersama sang istri
Dirinya tidak tahu apa yang akan terjadi jika Indira meninggalkannya.
"Sabar sayang, kita berdoa."