
Keadaan rumah Allan nampak sepi, karena Lili sedang berada di rumah Leina berlibur dan kangen dengan anak perempuannya itu.
Indira sedang merapikan baju kedalam lemari, sedangkan Allan masih membersihkan diri.
Tiba-tiba sebuah tangan melingkar di perut ratanya. "Kapan ini bisa di tengok?" tangan Allan mengusap perut rata istrinya.
"Masih lama Bang, kan suruh nunggu tiga bulan agar bisa dibuahi lagi." ucap Indira yang masih sambil merapikan baju. Dirinya hanya memakai baju tidur satin tipis panjang nya sebatas paha, dan tali kecil di sisi bahunya, sedangkan rambut nya ia Cepol tinggi keatas sehingga dengan mudah Allan menyusuri leher jenjang istrinya.
"Begitu lama kau menyiksa ku sayang." Suara Allan sudah mulai berat, napasnya sudah memburu. Melihat pemandangan indah istrinya membuat rudalnya bereaksi.
"Sabar sayang." Indira hanya tersenyum mendengar dan merasakan sesuatu di bawah sana mengeras.
Allan mengecupi telinga leher hingga ke bahu Indira yang terekpos karena tali bajunya sudah Allan turunkan.
"Jangan terus menggodaku dengan seperti ini sayang, aku tidak akan kuat." Suara Allan semakin parau. Tangan nya meremat lembut dua benda kesayangan nya.
Indira berbalik dengan senyum, tangan Allan pun masih berada di kedua buah dadanya.
"Ini." Indira meremat sedikit rudal Allan yang sudah menegang. "Terong premium ku." Tersenyum menyeringai seirama dengan tangan nya meremas dan melihat Allan memejamkan kedua matanya dengan napas berat.
Indira langsung memajukan wajahnya dan meraih bibir tebal suaminya yang masih memejamkan mata.
"Aku akan tanggung jawab." ucap Indira dengan wajah dibuat sensual menggoda suaminya.
"Eng..Apa?" Allan terbata karena tangan Indira sejak tadi tidak berhenti mengurut rudalnya.
"Tanggung jawab dengan Terong premium ini."
"Ng, terong premium?"
"Hm, Ini." Indira menekan rudal Allan yang disebutnya terong premium.
Allan hanya terkekeh, merasa aneh benda keramatnya di namai terong premium.
Indira menarik tangan suaminya menuju ranjang.
"Mau apa sayang." Allan menatap tak percaya ketika Indira membuka kaitan handuk yang melilit di pinggang nya.
"Tanggung jawab." Tangan Indira mulai bermain , sedangkan Allan hanya menikmati sensasi pijatan tangan mungil istrinya.
"Sayang, oh." Allan merancau ketika Indira semakin cepat menggerakkan tangan nya.
Dengan hanya insting naluri Indira melakukan nya dengan baik, bahkan kini mulutnya yang bermain. Allan dibuat kalang kabut oleh rasa nikmat dan perbuatan istrinya yang menurutnya sungguh gila, Allan tidak pernah berfikir jika Indira akan melakukan ini hanya untuk memuaskannya.
"Sayang..ngh..shh..Oh kau ahh." Dirinya dibuat melayang oleh perlakuan Indira bahkan tangan Allan semakin menekan kepala Indira semakin dalam.
Indira merasa tenggorokannya tercekat, begitu dalam terong premium suaminya itu masuk ke mulutnya.
"Sshhh...Ahh Oh Raaa..!!" Allan menggeram, dengan kepalanya mendongak keatas merasakan sensasi luar biasa.
"Emh.." Indira naik diatas pangkuan Allan, dirinya langsung menyambar bibir suaminya yang sedikit terbuka karena masih mengatur napas yang memburu akibat pelepasan.
"Emh..shh.." Indira mendesis kala Allan dengan rakus Melu*mat bibirnya dalam. baju tipisnya sudah tergolek di lantai karena Allan pelakunya.
"Sekarang giliran ku." Allan berbisik pelan, sehingga membuat kulit Indira meremang.
Keduanya larut dalam gai*rah yang membara, memberi kenikmatan satu sama lain, meskipun tidak melakukan nya langsung, tetapi banyak cara untuk saling memuaskan.
Allan tidak akan mendahulukan nap*su nya, karena dirinya sangat mencintai sang istri dan tidak mau terjadi sesuatu kepada istrinya jika ia melakukan hubungan yang memang belum boleh karena Indira habis mengalami pendarahan.
Ruang kamar kini penuh dengan suara Indira yang selalu Mende*sah dan Meri*ntih.
Allan selalu bisa membuat istrinya melayang tinggi dengan hanya dengan melakukan dengan lidahnya.
"Abaangg...!!" Tubuh Indira mengejang dan bergetar ketika gelombang kenikmatan meledak dan disambut Allan dengan senang hati.
Napas Indira masih menderu-deru, keringat membasahi pelipisnya.
Allan menarik selimut dan membenarkan kepala istrinya dilengan nya. "Istirahat sayang, olahraga malam ini cukup." Allan mengecup kening dan bibir istrinya. "Kamu luar biasa, terimakasih." lagi dirinya melu*mat sebentar bibir Indira.
Dan mereka terlelap dengan wajah bahagia.
.
.
.
.
"Nenek, kita tunggu kak Dira, disini ya." Rania mendorong kursi roda teras rumah Harlan.
"Hm, kapan Dira akan datang?." Suara lemah wanita tua menunggu cucunya.
"Sebentar lagi, tadi kakak bilang sudah di jalan." Rania tadi sempat berkirim pesan jika Indira sudah dijalan menuju rumah Harlan.
Tak lama sebuah mobil hitam mewah memasuki gerbang rumah besar Harlan.
"Nah tuh kak Dira." Rania nampak senang dan nenek pun tersenyum dengan bibir nya yang keriput.
"Assalamualaikum." Indira memberi salam ketika melihat neneknya dan Rania menunggu mereka.
"Waalaikumsalam kak." Rania langsung memeluk Indira, lalu Indira memeluk dan menyalimi nenek, " Dira kangen nek."
Nenek mengelus punggung tangan cucunya dengan tangan keriputnya yang tinggal kulit.
"Kamu baik-baik saja."
"Iya nek, Indira baik-baik saja." Meskipun suara lemah nenek dan lama berucap tapi Indira masih bisa memahami ucapan nenek.
Allan memberi salam kepada nenek istrinya ia pun juga memeluk tubuh tua renta itu.
"Ayo kak masuk, mama sudah nyiapin banyak masakan buat kakak." Rania pun berjalan duluan, karena Indira meminta ia yang mendorong kursi roda neneknya.
"Sayang, sepertinya nenek kurang sehat." Ucap Allan pelan disamping istrinya.
"Mungkin Bang." karena mereka bisa melihat wajah nenek yang nampak pucat dan lelah.
Mereka semua berkumpul dimeja makan, Selain Riko. karena Riko akan pulang nanti malam dari perjalanan bisnisnya.
Banyak yang mereka bicarakan, sesekali mereka semua tertawa karena obrolan yang begitu lucu. Nenek nampak bahagia melihat anak cucunya berkumpul.
Dan malam ini Indira dan Allan pun diminta menginap dirumah Harlan oleh nenek. katanya nenek masih kangen, dan mereka pun tidak bisa menolak permintaan wanita tua itu.
Rania sangat senang karena saudaranya akan menginap, Harna juga senang karena keponakanya mau menginap.
Mereka berkumpul dengan canda tawa.
Tidak tahu jika mungkin esok tawa mereka akan menjadi tangis kesedihan, sejatinya hanya ada tangis dan tawa yang selalu mengiringi kehidupan kita didunia.
.
.
.
.
.
.
.
Jempol nya makin lama makin sepi eyy😂 Apakah jempol kalian pada sakit kah👍...yuuukkkk semangat jempol..mana jempol..!!🤣🤣