
Malam hari pukul sepuluh malam Riko baru saja sampai rumah dengan keadaan rumah sudah sepi. Dirinya tahu jika Indira dan suami menginap disini karena mereka tadi memberi kabar.
Riko berjalan menaiki tangga menuju kamarnya namun dirinya tidak sengaja mendengar suara rancauan terdengar dari kamar yang ia tau pasti dua pengantin yang tidak baru lagi.
"Ck. mereka membuat telingaku panas saja." Riko hanya geleng kepala mendengar suara erotis dari kamar kedua orang tuanya.
Ceklek
"Loh Riko, kamu baru sampai?" Allan yang kebetulan keluar kamar, melihat Riko ingin masuk kedalam kamarnya.
"Ya. Apa kabar?"
"Baik, bagaiman lancar bisnisnya?" Tanya Allan lagi, kini kedua nya saling berhadapan.
"Ya, lumayan berhasil." Riko tersenyum. "Mau kemana?" tanya Riko yang melihat Allan membawa gelas.
"Mau bikin kopi, sekalian bawa gelas kedapur, kebetulan Indira sedang tidur menemani nenek bersama Rania." Ucap Allan yang sambil berjalan diikuti Riko.
"Hm, kamu tidak bisa tidur?" Suara Riko terdengar meledek.
"Belum bisa, bukan tidak bisa." Allan tahu jika rival nya dulu kini menjadi sepupunya sedang mengejek dirinya.
"Dih, tinggal bilang iya aja, pake ngeles." Riko mencibir dan Allan pun melengos menuju dapur.
"Loe mau kopi?" Allan menawari, tanpa perduli ledekan Riko.
"Boleh, sekali-kali dibuatin ponakan adik ipar?" Riko tertawa setelah berucap.
"Awas kualat loe." Allan melempar apel yang berada di meja, karena melihat Riko tertawa.
Riko dengan sigap menangkap lemparan Allan dan memakan apel itu dengan masih cekikikan.
"Loe yang bakalan kualat sama gue, karena gue Abang loe." lagi-lagi ucapan Riko membuat Allan kesal.
"Serah loe lah." Allan menaruh dua cangkir kopi diatas meja depan tv.
"Loe tau gak sih, kalo gue masih ngarepin bini loe." Riko dengan wajah jahil membuat Allan kesal.
"Awas aja loe kalo berani deketin beni gue, mampus loe." Allan mendelik tajam kerah Riko yang tergelak.
"Posesif amat bos." Riko mencoba meredam tawanya dan meminum kopi buatan Allan.
"Jelas, dia istri gue. mau apa loe.!!" Allan masih saja kesal dengan Riko.
"Mau rebut dia dari loe, boleh?" Ucap Riko dengan menaik turunkan kedua alisnya dan senyum meledek.
Bugh
"Makan tu bantal." Allan melempar bantal tepat sasaran mengenai wajah menyebalkan Riko.
"Aduh..Sialan loe." Riko kesal karena dirinya tidak sempat menghindar.
"Loh kalian belum pada tidur?" Harlan tiba-tiba datang dengan wajah segar dan rambut masih sedikit lembab, membuat Riko geleng kepala dan Allan biasa saja.
"Papa sepertinya habis olahraga malam, seger begitu." Riko mencibir ayahnya yang habis enak-enak dengan istrinya.
"Ya, olahraga mengenakan rohani jasmani." Harlan hanya menjawab santai ucapan putranya, karena memang Riko suka usil.
"Dih, mentang-mentang pada punya bini." Riko ngedumel dengan kesal. Yang lain bisa peluk guling hidup, sedangkan dirinya masih saja memeluk guling mati. Disaat sudah menyukai wanita ehh malah keponakan sendiri, apes lah yang masih jomblo, kurang apa coba dirinya itu.
"Om ingin kopi?" Tanya Allan menawarkan.
Mereka menyaksikan acara malam yaitu pertandingan sepak bola di jam Sebelas malam, karena belum bisa tidur alhasil ketiga pria itu sedang begadang nobar bersama.
.
.
.
.
Hingga pukul tiga dini hari mereka bertiga tertidur disofa, bahkan tv masih menyala.
Allan bergerak gelisah, dirinya seperti mendengar suara istrinya memanggil. Dan dengan cepat Allan membuka mata ketika mendengar suara teriakan.
"Om.. Riko..! Bangun." Allan membangunkan kedua orang yang masih terlelap.
"Em..ada apa Al,?" Tanya Harlan yang masih setengah sadar.
"Gak tau, Al cuma denger teriakan minta tolong dari kamar nenek." Allan segera berjalan menuju kamar nenek diikuti Harlan dan Riko yang juga terpaksa bangun.
"Sayang.."
.
.
.
.
Pagi ini di pemakaman nampak beberapa orang yang masih memanjatkan doa, setelah para pelayat pulang. keluarga inti dan kerabat dekat masih tinggal di dekat gundukan tanah merah yang masih banyak bunga segar itu.
Nenek meninggal ketika memeluk kedua cucunya yang menemani tidur. ketika Indira bangun ingin kekamar kecil dan ketika kembali ia masih melihat posisi nenek yang masih sama dan tidak berubah, Indira pun mencoba membangunkan agar nenek bisa pindah posisi namun malah kenyataan yang ia dapatkan.
"Semoga nenek di surga bisa berkumpul sama ayah dan Mama." Indra dengan wajah sedih sisa air mata yang tak henti mengalir kini mengelus nisan sang nenek. "Maafin Dira kalau belum bisa bahagiain nenek." Allan pun merangkul tubuh istrinya.
"Sudah sayang, kita ikhlas kan." Harlan me dekati Indira dan mengelus punggung keponakan nya itu. Harna dan Rania saling berpelukan dengan air mata mengalir.
Riko hanya menatap diam dengan wajah sendu, dirinya merasa kehilangan neneknya. Mungkin dirinya tidak terlalu dekat karena tidak berada dirumah, tapi ia juga menyayanginya.
"Ayo kita pulang, besok kita kesini lagi." Harlan mengajak Indira bangkit dan Allan sigap merangkul bahu istrinya. "Jangan bersedih, karena semua makhluk hidup akan kembali kepada_Nya, kita hanya tinggal menunggu giliran saja"
Dan mereka pun meninggalkan pemakaman dengan wajah sendu, tak terasa nenek yang menemani mereka kini sudah meninggalkan mereka semua.
Sejatinya manusia diciptakan hanya untuk mencari jati diri sendiri dan berprilaku baik semasa hidup. semua mahluk ciptaan_Nya bakal kembali kepada_Nya, kita sebagai mahluk hidup hanya menunggu waktu kapan itu tiba.
.
.
.
Absen tidur sian🤭
.
Jangan Lupa jempol kalian jangan pelit, sedih aku pembaca banyak tapi jempol pelit😭