
Sudah satu Minggu dimana sejak kejadian Indira mendiamkannya, bahkan Allan belum menemui gadis itu lagi. Pekerjaan yang menumpuk serta dirinya yang tidak sempat pulang kerumah, karena Allan memilih pulang keapartemen yang lebih dekat dengan kantornya, karena bisa menghemat waktu.
Pikiran Allan tidak berhenti memikirkan gadis yang ia cintai itu, meskipun mata dan tangan nya berhadapan dengan pekerjaan tapi pikiran nya terbelah kemana-mana. Meskipun begitu Allan adalah pria yang proporsional sehingga membuat nama dan perusahaan nya bisa berkembang pesat dan berada di banyak negara.
Allan hanya menelepon Mama nya ketika malam hari menjelang tidur, jika tidak diangkat maka dirinya akan mengirim pesan.
Ingin sekali Allan menemui Indira, tetapi lagi-lagi karena waktu yang tidak bisa ia bagi karena terus berkutat dengan pekerjaan yang harus segera ia selesaikan.
Allan sendiri tidak tahu jika gadis itu sudah tidak lagi bekerja dirumahnya, bahkan Oma Lili pun menangis meminta agar gadis itu tinggal tetapi Indira tetap pada pendiriannya.
Entahlah Indira sendiri sebenarnya merasa berat dan tidak tega meninggalkan Oma yang begitu sayang dan baik kepadanya, tapi lagi-lagi perasaan yang mendominasi dirinya jika mengingat Allanaro.
Indira yang tidak ingin diganggu atau didekati oleh pria bernama Allan, karena ia sangat ingin fokus kepada sekolah dan ingin mendapatkan beasiswa itu kembali hingga ke-Perguruan Tinggi.
Hari pertama Indira ujian telah terlewati dengan baik, kini dirinya sedang belajar dengan dua sahabatnya. Indira lebih memilih tinggal dirumah Arum karena kedua orang tua Arum meminta Indira untuk membantu Arum meningkatkan nilai mata pelajaran nya.
"Sumpah kenapa otak gue bebel kalo masalah beginian." Kiki mendesah lelah, ketika melihat deretan angka dikertas putih itu.
"Loe punya otak hanya buat isi cogan doang." Arum mencibir.
"Dih..kek otak Lo gak ada nama Resa aja." Kiki balik mencibir.
"awwss.." Arum melempar pena kearah Kiki. "Sakit dudul."
"Udah sih belajar, malah mainan kek bocah tau gak."
Mendengar Indira mengomel membuat keduanya terdiam.
............................
Setelah satu Minggu lebih tidak pulang kerumah. Hari ini Allan bisa istirahat dirumah sang Mama, karena pekerjaan yang selalu menyiksanya.
"Malam den, Aden pulang." Mbok nah yang selalu setia menunggu Allan pulang kerumah utama.
"Iya mbok... Mama dimana?" Allan bertanya dengan memberikan jas dan tas kerjanya.
"Nyonya sedang dikamar den."
"Baiklah terima kasih."
Allan melangkah menuju lantai dua kamar Lili.
Ceklek
Allan membuka pintu, ternyata Mama nya sedang duduk bersandar dengan membaca sebuah majalah.
"Al.." Lili tersenyum melihat putra yang ia rindukan kini sudah pulang.
"Al kangen Mama." Allan memeluk Lili dengan rasa rindu.
"Mama juga nak." Lili meneteskan air mata.
"Kenapa Mama menangis?" Allan mengusap pipi Lili dengan ibu jarinya.
"Mama hanya merindukan mu, selama kamu tidak pulang, Mama merasa kesepian." Tutur Lili memberi tahu apa yang ia rasakan.
Dirinya merasa kembali Kehari-hari sebelumnya karena ia selalu sendiri dan hanya ada mbok nah yang menemaninya.
Allan menautkan alisnya bingung, kenapa mamanya merasa kesepian padahal ada Indira yang menemani.
"Kamu sibuk dengan kantormu, dan Indira dia sudah tidak mau menemani Mama lagi." Lili bicara dengan sedih bahkan air matanya menetes jika mengingat gadis yang sangat ia sayangi pergi.
Deg
Indira pergi? "Apa maksud Mama, Indira pergi?" Allan bertanya dengan raut wajah bingung.
"Dia bilang, dia sudah tidak bisa menemani Mama, dia ingin serius belajar demi mendapat beasiswa kembali, dan dia ingin meraih cita-citanya menjadi seorang desainer." Ucap Lili memberitahu keinginan gadis itu dan dirinya tidak bisa mencegah keinginan Indira karena Lili juga sangat menyayangi Indira.
"Kapan dia pergi?" Allan tidak mau berpikir buruk mengenai perginya Indira adalah bentuk dari kemarahan yang gadis itu tunjukan ketika sepulang dari rumah sakit.
"Sudah satu Minggu yang lalu."
"Apa.." Allan tidak percaya ternyata sudah selama itu gadis itu berhenti bekerja dan dirinya tidak tahu.
"Mama hanya takut terjadi apa-apa kepada Indira, kamu tahukan dia harus membayar hutang kepada rentenir."
Allan memeluk Mamanya. " Al pergi dulu ma." Allan mengecup kening Mama nya dan s
dia segera keluar dari kamar Lili.
Allan segera menyambar kunci mobilnya dan keluar rumah dengan tergesa menuju mobilnya.
Pikiran nya menebak-nebak apakah benar ucapan gadis itu berhenti bekerja karena ingin serius belajar atau karena ingin menjauhinya.
...............
"Kan saya sudah bilang beri saya waktu lagi, pasti saya akan bayar." Indira bicara dengan sedikit keras, dirinya tidak takut dengan dua orang yang bertubuh kekar tinggi besar sedang menatap nya garang.
Ia mencoba bernegosiasi, inilah yang ia takutkan tidak bisa membayar cicilan hutangnya karena tidak bekerja lagi dirumah Oma. Dirinya juga tidak mau meminta bantuan kepada para sahabatnya karena ia pikir ini adalah masalah pribadinya.
"Ini sudah lebih jatuh tempo, jadi anda sudah tidak punya waktu untuk minta kelonggaran." Ucap pria bertato itu tegas.
"Bos kalian itu sudah kaya, kenapa masih meminta-minta uang pada orang kecil."
Masih mencoba mengukur waktu.
"Sudah jangan banyak bicara, jika tidak mau membayar maka anda harus ikut dengan kami." Ucap pria itu lagi dengan wajah yang sudah marah karena harus adu mulut.
"Saya tidak mau!" Indira berteriak menatap tajam dua pria itu.
"Jek, paksa dia." Menyuruh teman satunya untuk memaksa Indira keluar dari rumah.
"Lepas..!" Indira meronta ketika pria itu menarik lengan nya dengan kuat.
Dirinya mencoba melawan hingga mereka berdua sedikit kuwalahan, tidak mau berlama-lama, dua pria itu berhasil menyekap mulutnya menggunakan sapu tangan.
Alhasil Indira pun pingsan tak sadarkan diri, karena kembali menghirup aroma obat bius.
"Bos pasti senang, mendapat tangkapan bening begini." Ucap jek dengan seringai licik dibibirnya.
"Ya... dan kita pasti mendapat bonus besar."
Dan kedua pria itu tertawa keras bersama, setelah berhasil membawa Indira masuk mobil dan pergi meninggalkan halaman rumah Indira.
Sedangkan Allan pikiran nya sejak tadi tidak tenang, dirinya harus terjebak macet karena ada kecelakaan lalu lintas hingga dirinya harus menunggu jalan kembali normal.
"Si*al..!" Allan mengumpat kesal, dirinya sedang buru-buru dan malah terjebak macet.
Setelah menunggu beberapa waktu akhirnya mobil didepan Allan bergerak maju. Allan pun segera melajukan mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata dirinya sudah tenang dengan pikiran dan perasaan tidak menentu.
Mobil Allan memasuki halaman rumah Indira dengan keadaan sepi seperti biasa.
Allan segera turun dan berjalan tergesa, tetapi dirinya berhenti melihat banyak jejak sepatu kotor bekas tanah basah karena sore tadi memang sedang hujan.
Allan segera mengetuk pintu tetapi tidak ada sahutan dari dalam, mencoba memutar gagang pintu dan ternyata tidak terkunci.
"Ra..! Indira." Allan segera masuk dan mencari keberadaan Indira, setiap ruangan ia masuki tidak menemukan gadis itu.
Terakhir Allan memasuki kamar Indira, gadis itu tidak ada, hanya banyak kertas bergambar sketsa gambar pakaian. "Kamu memang berbakat Sayang." Allan melihat gambar itu dengan bibir tersenyum, dan sadar ketika dirinya mencari gadis itu malah terkesan melihat gambar desainer tangan gadis itu.
"Kemana kamu pergi." Allan prustasi dirinya tidak menemukan gadis itu didalam rumahnya.
Dilain tempat Indira sedang berbaring diatas ranjang dan belum sadarkan diri.
Byuurrr
"Aarkkhh..!" Gadis itu berteriak ketika wajahnya disiram oleh air.
Indira gelagapan, napasnya ngos-ngosan karena air yang tiba-tiba membasahi wajahnya.
"Sudah bangun tuan putri?" Pria itu menyeringai .
Indira membulatkan matanya melihat dua orang pria yang mencoba memaksanya tadi malam, ingatannya berputar tentang kejadian tadi malam.
Dan mata nya melotot sempurna. " Ka-kalian mau apa?"
...💖💖💖💖💖💖...
Selamat pagi.. aku cuma mau mengatakan selamat Tahun Baru 2022. Semoga ditahun ini kita jadi lebih baik dari tahun sebelumnya.😘😘😘