
"Bimo..!" Tubuh Allan membeku menatap gadis dibelakang tubuh Bimo dengan menatapnya datar tanpa ekspresi.
"Sepertinya Aku akan punya Tante." Bimo tersenyum tipis melihat tangan Allan melingkar di pinggang Siska. Dengan cepat Allan melepas tangan nya dan Siska pura-pura memekik.
"awwssh..sakit." Meskipun begitu Allan tak mengindahkannya.
Siska menatap tajam kedua orang yang mengganggu rencananya.
"Egh, bu_"
"Ayo Bim, Keburu Oma lama nunggu." Indira memotong ucapan Allan yang belum selesai bicara, bahkan gadis itu sama sekali tidak melirik Allan.
"Bimo duluan Om." Bimo menarik tangan Indira, berdiri disamping motor dan memakaikan helm ke kepala gadis itu, kemudian Bimo menepuk kepala Indira yang sudah memakai helm, keduanya tersenyum.
Perlakuan Bimo tidak luput dari mata tajam Allan, kedua tangan nya mengepal kuat, hingga buku jarinya memutih, dadanya meletup-letup ketika melihat keponakan nya bermesraan dengan gadis hatinya. sungguh rasanya Allan ingin menghajar wajah pria itu, tetapi sayang nya adalah keponakanya sendiri.
Bimo melajukan motornya dengan Indira memeluk perut Bimo, bahkan ketika mereka melewati mobil Allan Indira sama sekali tidak menoleh, hanya Bimo yang membunyikan klakson motornya.
"Allan tolong bantu aku." Siska kembali mencari perhatian.
Tatapan Allan masih belum lepas dari punggung gadis yang semakin menjauh dirinya merasa cemburu melihat kedekatan Indira dengan keponakannya. "Da*n it!" Allan masuk kedalam mobil dengan membanting pintu kuat.
Siska sampai terlonjak kaget, dan dirinya tambah melotot ketika dirinya ditinggal Allan. "Allan..!! hey tunggu." Siska mengejar mobil Allan yang sudah melaju, dirinya tidak perduli ketika tadi berakting kakinya sakit.
"Sia*lan.." Siska megerang marah, dirinya merasa permainkan. "Awas saja kau." tatapan tajam bercampur amarah meledak bersamaan dengan mobil Allan yang sudah menjauh.
...............
Mobil Allan melaju kencang, tujuannya adalah pulang kerumah dan mencari tahu hubungan Indira dengan keponakannya yang begitu dekat.
"Si*al...si*al..!!" Allan memukul setir kemudi beberapa kali, meluapkan rasa cemburu yang membumbung di kepalanya, pikirannya teringat ketika malam dirinya melihat pria yang mencium kening dan memeluk Indira, 'apakah pria itu bimo' Allan menggelengkan kepalanya, menarik rambutnya prustasi. "Argghh..!" 'Tidak bukan Indira yang Bimo sukai' Pikiran Allan kembali ketika mengingat cerita Bimo yang menyukai seorang gadis bernama 'Aya'.
Allan menepis pikiran yang membuatnya bertambah emosi.
Tak lama setelah Bimo sampai, kini mobil Allan sudah terparkir didepan rumahnya.
"Ehh Aden tumben sudah pulang." seperti biasa mbok Nah selalu meyambutnya.
Mbok Nah melihat wajah Allan seperti menahan amarah, matanya mengedar kepenjuru ruangan.
"Dima Mama mbok?" Suara Allan terdengar tegas, mbok Nah sampai heran dengan sikap Allan yang tiba-tiba berubah marah.
"E-emm nyonya sedang di belakang, deng_" Belum sempat mbok Nah selesai bicara Allan sudah berjalan menuju suara tertawa dihalaman belakang.
Langkahnya terhenti ketika melihat pemandangan yang menyesakkan dadanya, seolah batu besar sedang menghimpitnya. Matanya menatap tajam dengan rahang mengeras, kilatan kabut kemarahan terlihat dikedua matanya.
Bahkan mamanya pun juga ikut tertawa bahagia.
Didepan sana dua orang sedang berkerjaran dengan Bimo yang menangkap Indira lalu memeluk gadis itu dari belakang, tawa kedua nya pecah ketika Bimo mengelitiki pinggang Indira.
"Hahaha..sudah Bim ampun." Indira tertawa karena kegelian dirinya mengeliat didalam dekapan Bimo.
Bimo tak kalah bahagia karena bisa sedekat ini dengan Indira, dirinya tidak menyangka bahwa gadis yang ia cintai ternyata dekat dengan Oma nya.
"Gue gak akan lepasin." Bimo mengangkat tubuh Indira dari belakang dan berputar dengan Tawa memenuhi halaman belakang, Indira memegang tangan Bimo yang melingkar diperutnya. Oma Lili yang melihat cucunya pertama kali tertawa lepas, merasa bahagia. Meskipun dia tahu mungkin putranya juga memiliki perasaan kepada Indira, dirinya akan tetap mendukung keduanya siapa yang akan mendapatkan gadis itu. Meskipun salah satu dari mereka ada yang mengalah.
Mereka tidak menyadari jika ada seseorang yang memperhatikan dengan tatapan nanar bercampur amarah.
Allan segera pergi dengan membawa hati yang terasa perih, napasnya memburu dadanya bergemuruh menahan amarah yang tidak bisa ia lampiaskan.
Berjalan menuju kamarnya, Allan membanting pintu dengan keras dan masuk kedalam kamar mandi, untuk meluapkan kemarahannya.
Prang!!
Suara benda pecah berhamburan dilantai, napasnya yang memburu meluapakan rasa yang menyesakkan dadanya. "Argghh Breng*sek..!!"
bugh
bugh
Allan meninju dinding kamar mandi dengan kuat bahkan sebelumnya tangan nya sudah terluka karena meninju kaca didinding kamar mandi. Darah segar mengalir dari punggung tangan nya yang terluka, jarinya lecet-lecet dan mengeluarkan darah akibat tergores pecahan kaca.
Kepalanya menunduk dengan tangan masih bertumpu pada dinding. Matanya memerah menahan sesuatu yang bergejolak perih dalam dada. "Loe bodoh Al, bodoh!" Allan kembali memukul dinding dengan kepalan tangannya.
Tak seharusnya ia juga menyukai gadis yang juga disukai oleh keponakannya, dirinya tidak sejahat itu jika harus berebut gadis dengan sang keponakan yang sangat ia sayangi. Dirinya tahu jika Bimo tidak pernah dekat dengan seorang wanita, bahkan wajah Bimo nampak sangat bahagia ketika bersama dengan Indira.lu
Napas Allan masih memburu dirinya tidak bisa menahan rasa yang hadir menyiksa hatinya, terasa sakit karena kenyataan bahwa wanita yang ia cintai juga dicintai oleh keponakannya sendir.
'Kasian kau Allan'
Kini Indira dan Bimo sedang berada di halaman depan karena waktu sudah sore, Bimo berniat mengantarkan Indira pulang.
"Besok gue jemput Ay." Ucap Bimo ketika masih berdiri didekat motornya bersama Indira.
"Besok gak sekolah Bemo ngapain jemput gue?"
"Gue jemput Lo buat berangkat kerja Ay." Bimo menarik hidung kecil Indira.
"Awwss..." Indira mendesis ketika sesuatu masuk kedalam matanya.
"Eh kenapa Ay?" Bimo panik karena melihat Indira memejamkan matanya.
"Mata gue kelilipan, awwssh.."
"Jangan dikucek." Bimo menahan tangan Indira yang akan mengucek matanya.
"Gue tiup." Bimo memegang wajah Indira dengan pelan ia meniup mata Indira yang sedang kelilipan.
Dari arah pintu Allan melihat kejadian dimana Bimo memegang wajah Indira seolah mereka terlihat seperti sedang berciuman, padahal Bimo hanya meniup mata Indira.
Allan mengepalkan kedua tangan nya, dirinya sekuat tenaga menahan rasa marah yang ia pendam agar tidak ia lampiaskan kepada keponakan nya. Dirinya berjalan menuju mobil yang bersampingan dengan motor Bimo, sudah pasti dirinya akan melewati kedua orang itu.
"Om.. mau pergi." Tanya Bimo ketika melihat Allan yang berjalan mendekat kerahnya, lebih tepatnya kemobil Allan.
Indira yange mendengar Bimo menyebut Om, dirinya menoleh dan benar Allan ingin pergi, dirinya menajamkan penglihatan ya ketika Allan memegang handel pintu mobil nampak luka baru yang masih mengeluarkan darah.
"Hem..ya." Tanpa menunggu lama Allan segera masuk dan menutup pintu lalu pergi dengan mengendarai mobilnya, bahkan Allan masih memakai baju kantor siang tadi.
"Aneh." Bimo hanya bergumam.
Cup
Bimo mencuri ciuman dipipi Indira, karena gadis itu sepertinya nampak bengong.
"Ngelamun, ayo gue anter pulang." Indira tersadar ketika tiba-tiba Bimo mencium pipinya. Tidak ada rona malu ataupun debaran didada berbeda ketika Allan yang melakukanya.
'Kemana dia, itu tadi tangan nya berdarah'
Indira bergumam dalam hati, kemudian ia menaiki motor Bimo dan melaju membawanya pulang kerumah.
.
.
.
.
Like..komen..ditambah hadiah bertebaran pasti author sangat bahagiaš¤£š¤£ menjelang bobok aku kasih spil Abang Al kesayangan kleanš