
Jam istirahat kedua Indira, Arum dan Kiki sedang duduk di taman belakang sekolah taman yang jarang dikunjungi murid lain.
"Aje gile, jadi loe kerja dua tempat sekaligus beb?" Kiki tidak percaya jika selama ini sahabat baiknya ternya sekolah sambil bekerja.
"Hem, gue kerja part time pas hari Sabtu dan Minggu doang." Jelas Indira.
"Terus loe dirumah Oma-oma itu ngapain aja Dir?" Tanya Arum.
Ya disini Indira membawa kedua sahabatnya untuk dirinya menceritakan masalah dan kehidupan diluar sekolah yang ia hadapi, Bukan hanya untuk mencicil hutang nya tapi dirinya juga akan mencari uang untuk kebutuhan nya sendiri.
"Bantu Oma ngerawat kebun nya, beliau sangat baik, keluarganya juga ramah, kecuali_" Ucapan Indira menggantung mengingat pria menyebalkan itu.
"Kecuali apa?" Tanya Kiki penasaran.
"Anak bungsu Oma yang menyebalkan." Indira mendengus sebal mengingat Allan.
"Pasti cowok ya Dir? pasti ganteng kan?" Tanya Kiki heboh.
"Iss dasar! Otak loe pikirannya cowok melulu." Arum menoyor pipi samping Kiki.
Indira hanya tertawa. "Ganteng si ganteng, apalagi usianya udah dewasa." Indira malah tersenyum membayangkan ketika Allan tersenyum manis.
Ketika sadar buru-buru Indira mengucap istighfar dan menggelengkan kepalanya.
"Lah loe kenapa? Wahh jangan-jangan loe naksir ya, sama cogan anaknya Oma?" Kiki yang melihat Indira tersenyum dan kemudian menggeleng.
"Iss ngak banget, sama cowok nyebelin gitu." Indira bersungut.
"Mending Bimo Yee kan." Arum menyenggol bahu Indira.
"Jelaslah Abang Bimo kemana-mana." tambah Kiki.
"Udah ah yuk balik kelas." Indira berjalan lebih dulu meninggalkan mereka.
"Ehh woy Dir tungguin!" Arum dan Kiki mengejar Indira yang sudah ngacir duluan.
.................................
"Oma ini bunganya udah siap panen?" Indira memindahkan pot bunga yang sudah tumbuh keatas rak yang sudah disiapkan.
"Nanti kita panen ya, sepertinya bunga yang dirumah sudah minta diganti." Jawab Oma dengan menyemprotkan cairan pestisida agar tidak ada hama.
"Oke, nanti Dira bantu Oma." Indira segera menyelesaikan pekerjaan nya, karena waktu semakin sore dan dirinya harus membantu Oma memanen bunga.
Kini mereka berdua sudah berada di bangku belakang rumah yang menghadap ke taman, Oma dibantu Indira merangkai bunga ke dalam vas bunga untuk hiasan di dalam rumah.
"Ya ampun, bunga nya cantik banget Oma, kalo udah jadi begini." Dirinya senang melihat cantiknya bunga yang ia rangkai.
"Hem, rangkaian kamu cantik sayang, kamu berbakat jadi seorang perangkai bunga." Puji Oma Lili.
"Haha, Dira gak ada niat buat buka toko bunga Oma." Jawabnya sambil tangan nya sibuk menata bunga di dalam vas.
"Memang kamu ingin menjadi apa? ketika lulus sekolah?" Tanya Oma juga sibuk dengan memotong tangkai bunga dengan gunting.
"Sebenernya Dira punya cita-cita pengen jadi seorang desainer Oma, tapi itu kan hanya keinginan tidak harus Dira menggapainya." Ucapnya sendu.
Oma menatap wajah Indira lekat-lekat dirinya merasa kasian melihat gadis yang masih belia harus bekerja keras untuk membayar hutang dan biaya hidupnya.
"Selama ini kamu sekolah dapat biaya dari mana nak?" Tanya Oma hati-hati agar tidak menyinggung perasaan Indira.
"Dira dapet biaya siswa Oma."
"Ternyata kamu murid berbakat."
Oma mengelus lengan Indira. "Kamu masih beruntung nak, diluaran sana banyak anak seperti kamu yang tidak bisa lanjut sekolah." Oma menghibur Indira.
"Makasih Oma." Indira memeluk Oma dengan sayang. Beruntung dirinya dipertemukan dengan orang baik seperti beliau.
.........................
"Ini kenapa orderan Ojol kagak ada yang ambil sih." Indira menggerutu kesal dirinya sudah 15menit berdiri didepan pagar rumah Oma menunggu Ojol yang menerima orderan nya tapi tak kunjung ada.
"Bisa sampe subuh kalo gini caranya." Berkali-kali dirinya melihat dan mengecek ponselnya tapi juga sama saja.
Tin tin
Sebuah mobil hitam berhenti didepan nya, tanpa bertanya pun dirinya sudah hafal mobil itu punya siapa.
"Kenapa berdiri disitu?" Tanya Allan dari dalam mobil.
Allan yang kebetulan sudah menyelesaikan pekerjaan nya karena besok pagi dirinya harus terbang keluar negeri.
"Nunggu kang ojek." Jawab Indira malas. 'Kenapa juga ketemu dia sih.' gerutunya dalam hati.
"Masuk!"
"Ogah."
"Mau sampe kapan, hari sudah mulai malam." Allan juga kesal melihat gadis menyebalkan itu.
"Peduli anda." Ketus Indira masih mood jutek.
"Kalau kamu kenapa-napa Mama saya yang khawatir bocah." Allan mendengus dengan kasar. 'Masih bocah Allan, sabar.' Monolognya sendiri.
Setelah berfikir akhirnya dia masuk mobil Allan, dirinya juga sebenarnya sudah bete berdiri seperti orang bodoh nungguin Ojol.
Allan segera melajukan kendaraan nya setelah Indira masuk dan menggunakan sealtbeat.
"Kenapa jam segini baru pulang?" Tanya nya tanpa mengalihkan pandangan kedepan.
"Bantu Oma panen bunga." Jawabnya cuek, matanya fokus pada ponsel.
"Kalo pulang malem mending suruh sopir yang antar, bahaya gadis seperti kamu berkeliaran diluar sendirian." Allan berkata panjang lebar seperti khawatir.
"Udah biasa." Indira hanya menanggapi dengan cuek.
"Terserahlah." Allan kehabisan kata-kata melihat Indira yang bersikap masa bodo dan cuek. Entah mengapa dirinya menjadi punya rasa khawatir melihat gadis itu pulang malam sendiri. 'Wajarlah gue khawatir, usianya aja sama kaya ponakan gue.' Batin Allan merasa aneh dengan hatinya.
.
.
.
.
.
like
komen
tinggalkan jejak kalian