
"Kenapa belok kesini bang." Indira memperhatikan restoran cepat saji.
"Abang lapar, belum makan." Allan yang hendak keluar dari mobil tapi dicegah oleh Indira.
"Tunggu bang." Indira memegang ujung bahu kemeja Allan. "Mending Beli bahan ntar Dira masakin, gak sehat jika sering makan jungfood."
Allan mengurungkan niatnya dan duduk dibelakang kemudi kembali. "Memang kamu tidak capek?" Tanyanya seraya menghidupkan mesin mobil kembali. Allan memutar dan keluar dari parkir restoran melajukan mobil menuju arah rumah Indira.
"Capek sih, mendingan kita makan warung tenda didepan dijamin Abang pasti suka." Ucapnya dengan riang, berbeda dengan sikapnya tadi cuek dan galak.
Allan hanya mengangguk, heran dengan sifat Indira yang kadang menyebalkan, tapi ketika gadis itu tersenyum dengan wajah bahagia membuatnya juga merasa senang. 'Sadar Allan dia masih bocah.' batin Allan.
Dirinya yang lelah bekerja seharian dengan segudang pekerjaan, merasa lebih baik ketika melihat Indira, apalagi melihat senyum manis gadis itu.
"Abang itu didepan sebelah kiri." Indira menunjuk warung tenda pinggir jalan yang cukup ramai.
Indira juga pernah diajak Bimo makan ditempat ini. Sekarang dirinya mengajak anak majikan nya makan disini.
Allan berhenti dipinggir jalan, dirinya melihat banyak warung berjejeran dengan aneka makanan. "Yakin disini?" Tanyanya yang merasa aneh, karena Allan belum pernah makan ditempat seperti ini.
"Kenapa? Abang belum pernah makan ditempat seperti ini?" Indira keluar dari mobil tidak memperdulikan wajah Allan yang terlihat bingung. Bingung ingin pergi atau mengikuti Indira tetapi cacing perutnya sudah berdemo.
Akhirnya Allan ikut turun mengikuti Indira yang sudah duduk dipojokan, dirinya menatap kesekeliling lumayan ramai dan dirinya merasa risih menjadi pusat perhatian kaum hawa yang sedang makan disitu juga.
"Abang mau makan apa?"
"Samain sama kamu aja." Allan dengan sengaja mengeluarkan ponselnya agar tidak membuatnya risih ditatap seperti mangsa predator.
"Mang!" Indira memanggil penjual untuk pesan makanan.
"Eh si Eneng kesini lagi, __ Ucap si penjual, __tapi akang nya beda ya neng?"
"Iya mang, pesan sate kambing 1porsi sama bebek goreng 2porsi ya mang, minumnya teh hangat." Ucap nya dengan tersenyum menampilkan deretan giginya yang rapih.
"Beres atuh neng, tunggu ya."
"Kamu sering kesini?" Allan bertanya setelah si penjual pergi.
"Eem baru dua kali ini." Jawab nya seraya membuka ponsel nya melihat pesan masuk dari para sahabatnya.
"Dengan siapa?" Tanya Allan lagi.
"Iss Abang kepo." Ucapnya tanpa melihat lawan bicaranya.
Allan mendengus sebal, kenapa juga dirinya bertanya siapa yang gadis ini bawa ketika makan disini, dan sekarang dirinya menjadi penasaran karena tidak mendapat jawaban.
"Pacar kamu." Allan merutuki mulutnya yang lepas kendali.
"Hem, Abang mau tau aja urusan anak muda." Indira mencibir dengan senyum jenaka.
Setelah selesai makan, bahkan yang awalnya Allan ogah-ogahan ketika sudah mencicipi makanan nya dirinya menjadi lahap. Begitulah kadang orang kaya yang suka makan direstoran mahal dan belum pernah merasakan jajan dipinggir jalan, padahal juga sama tak kalah enak.
"Abang mau mampir dulu." tanya Indira ketika sudah sampai dan sekarang dirinya berdiri disamping mobil Allan telan didepan pintu kemudi pria itu.
"Sudah malam, besok pagi Abang harus terbang ke New York." Jawabnya menatap wajah gadis itu lamat-lamat.
"Ohh.. oke hati-hati dijalan." Ketika Indira hendak berbalik Allan memanggil.
"Ya, Abang?" Allan melambaikan tangan nya agar gadis itu mendekat.
"Hati-hati dirumah, belajar yang bener." Allan mengacak-acak rambut Indira pelan, ketika gadis itu menunduk didepan pintu mobilnya.
"Iss aku kira apa-an." Indira cemberut.
Allan tergelak, "Yasudah Abang pulang, buruan gih masuk."
"Hem." Indira berjalan masuk tanpa menoleh lagi kebelakang.
"Huuh." Allan membuang napas kasar. Dirinya segera kembali menjalankan mobilnya untuk segera pulang.
...............................
"Al, tumben kamu baru pulang." Tanya Mama Lili.
Ketika dirinya masuk rumah ternyata Mama nya duduk diruang tengah yang dirinya lewati menuju ke kamar.
Allan menghampiri Mama nya dan mencium pipinya. "Iya Ma, Allan besok pagi akan berangkat ke New York." Jawabnya sambil duduk disofa samping Mamanya.
"Kenapa mendadak?" Lili bertanya dengan duduk menyamping melihat wajah putranya.
"Al, baru sempat bilang ke Mama, Al harus meninjau perusahaan baru yang Al buat disana."
"Nak, __Lili menggenggam kedua tangan Al, __Jangan terlalu mengejar pekerjaan, kamu sudah sukses sudah waktunya kamu mencari pendamping hidupmu." Nasehat Lili kepada putranya.
"Al belum ketemu yang cocok Ma."
"Kalau kamu tidak mencari kapan kamu akan tahu mana yang cocok atau tidak." Lili tahu jika putranya tidak pernah berdekatan dengan wanita atau berkencan, semenjak lima tahun lalu Liona pergi meninggalkan nya untuk selama-lamanya.
"Jalan kamu masih panjang, jangan terpuruk tentang masa lalu, dia juga akan sedih melihat kamu masih terikat masa lalu tanpa mau membuka masa depan dengan wanita lain." Tutur Lili panjang lebar.
Allan hanya menghela napas, bukanya tidak ingin mencari pengganti Liona, tetapi memang belum ada yang cocok menurut hatinya. Semua wanita yang mendekatinya hanya menggunakan topeng untuk membuatnya tertarik, tetapi tidak ada yang menjadi diri mereka sendiri yang apa adanya tanpa harus ribet menjadi orang lain hanya untuk menarik perhatian nya.
"Akan Al, usahakan untuk Mama." Kata itulah yang selalu membuat Lili tidak lagi bisa berbicara.
"Al mandi dulu Ma, gerah." Allan segera beranjak pergi meninggalkan Lili yang menatap iba kepada putranya.
"Semoga kamu menemukan wanita yang membuatmu bahagia."