
"Bimo!"
Bimo menoleh kebelakang ketika mendengar namanya dipanggil.
"Aduh." Orang yang memanggil Bimo memunguti barangnya yang jatuh ketika ada seseorang yang menabraknya.
"Kalian duluan saja, nanti gue nyusul." Ucap Bimo menyuruh para sahabatnya untuk duluan masuk, sedangkan dirinya menghampiri wanita yang sedang sibuk memunguti bawaannya yang terjatuh.
"Maaf Bu saya tidak sengaja." Orang itu minta maaf dan membantu mengambilkan barang milik orang yang dia tabrak.
"Tidak apa-apa, terimakasih." Setelah berucap orang itu meninggalkan wanita itu.
"Mama tidak apa-apa?" Bimo menghampiri wanita yang memanggilnya dan ternyata Mamanya.
"Tidak pa-pa, kamu sedang apa?" Tanya Mama Bimo.
"Lagi jalan sama temen-temen." Bimo membantu membawakan belanjaan Mama nya.
"Oh.. Yasudah kalo begitu Mama sudah mau pulang kebetulan liat kamu tadi."
"Bimo antar Mama ke mobil." Bimo meraih semua tas belanjaan yang Mamanya pegang dan membawanya berjalan menuju parkiran.
"Eh.. bukanya kamu lagi sama teman-teman kamu?" Tanya wanita itu dengan berjalan disamping anaknya.
"Iya, nanti Bimo kesana setelah antar Mama."
Setelah sampai diparkiran mobil, Bimo segera memasukkan belanjaan yang ia pegang dikursi belakang.
"Makasih sayang." Ucap wanita itu dengan senyum.
"Mama hati-hati dijalan." Bimo mengecup pipi Mamanya.
"Oke.. pulang kerumah Mama akan masakan kesukaan kamu." Ajak wanita itu.
"Ck. Bimo gak yakin kalo Mama yang Masak."
"Iss kamu sama papamu sama saja, tidak pernah menghargai Mama yang susah payah memasakkan makanan kesukaan kalian." Ucap wanita itu dengan wajah masam.
"Hahaha, lebih baik Mama ajak Bimo makan diluar dari pada Bimo harus makan masakan Mama yang sangat aneh itu." Bimo berkata dengan nada jahil. Meskipun memang masakan Mama nya sangat aneh rasanya tapi bagi papa dan Bimo mereka tetap menghargai usaha mamanya yang memang tidak pandai memasak.
"Kau itu sama saja dengan papamu." Wanita itu memukul lengan anaknya.
"Yasudah Mama pulang dulu, salam buat teman-teman kamu."
"Iya, mah."
Bimo melambaikan tangan nya ketika mobil yang dikendarai Mamanya berjalan pergi.
"Sorry gue lama." Bimo segera mengambil duduk disamping Indira yang memang dikosongkan untuk dirinya.
"Santai bos." Ucap Raka.
"Siapa Bim?" Tanya Indira.
"Nyokap gue." Jawab Bimo, bersamaan pelayan datang mengantarkan pesanan mereka semua.
Sesudah menghabiskan waktu bersama dengan para sahabat nya. Mereka kini sudah dijalan dengan mengunakan motor masing-masing.
Bimo yang membonceng Indira, Resa dengan Arum meskipun mereka sempat berdebat tetapi Resa tak kalah akal untuk bisa membonceng Arum.
"Kita pisah Bro." Guntur melambaikan tangan ketika dirinya berbelok dipersimpangan mengantar Kiki. Disusul oleh Resa dan Arum.
Jingga dan Raka juga berbelok menuju rumahnya karena motor Raka ditinggal dirumah jingga.
"Bim kita mau kemana?" Indira mendekatkan wajahnya kesamping kepala Bimo yang tertutup helm.
"Kesuatu tempat Ay." Bimo segera menambah kecepatan laju motornya ketika jalanan lumayan sepi.
Setelah beberapa waktu akhirnya sampailah Bimo membawa Indira kesebuah pantai yang sangat indah.
"Kenapa gak bilang kalau mau kesini." Tanya Indira yang mengedarkan pandangan nya menyusuri indahnya pantai menjelang sore.
"Cuma pengen ajakin kamu kesini." tangan Indira di genggam, mereka berjalan menyusuri pinggir pantai yang indah. Indira tidak berhenti tersenyum dengan rambut yang bertebaran tertiup angin.
"Gue mau main air boleh?"
Mendapat anggukan kepala dari Bimo membuatnya senang.
Dengan wajah bahagia Indira berlari dipinggiran pantai yang airnya hanya sebatas lututnya.
Bimo mengambil ponsel untuk mengabadikan momen wajah Indira yang nampak bahagia.
"Gue janji bakalan jaga dan bahagia-in loe Ay."
Setelah puas mendapatkan banyak foto Indira, Bimo segera menyusul Indira yang sedang tertawa bahagia bermain dipinggir pantai.
....................
Dibelahan bumi lain tepatnya Di kantor Allan dirinya dan sahabat sedang melakukan peninjauan lokasi yang akan didirikan nya pabrik baru.
Sekarang mereka berdua sedang berjalan menuju mobil untuk kembali ke hotel penginapan.
"Kenapa loe gak liburan dulu Man, gue yakin di Jakarta loe sibuk." Tanya sahabat Allan yang bernama Ferdi.
"Buat apa liburan kalo cuma sendiri Fee, galau tau gak." Allan berbicara sambil terkekeh.
"Alah lagak loe, makanya buruan gih cari bini. Ingat umur loe udah mau kepala tiga, gue aja udah mau punya anak." Ledek Ferdi dengan wajah jumawa karena sebentar lagi akan menjadi seorang ayah. Karena sekarang istrinya sedang mengandung dan sebentar lagi akan melahirkan.
"Ck, tar gue bakalan balap loe kalo soal anak. Asalkan udah nemu yang bisa diajak bercocok tanam." Ucap Allan dengan senyum menyeringai.
"Dih, ngeri kali." Ferdi bergeridik ngeri melihat senyum Allan.
"Gue pamit, semua yang berada disini gue serahin loe." Allan berucap sebelum masuk kemobil.
"Tenang saja Al, serahin semua sama gue." Ucap Ferdi dengan memeluk Allan ala laki-laki. "Loe hati-hati dan semoga cepet dapet bini."
"Oke... Gue balik..salam buat istri loe."
Setelah itu Allan mengemudikan mobilnya menuju pusat belanja karena ia ingat belum membeli oleh-oleh, Ia juga ingat gadis cerewet dan menyebalkan itu, sayang nya sangat manis.
Allan tersenyum sendiri mengingat gadis labil yang sangat keras kepala dan menyebalkan seperti Indira.
"Iss kenapa malah inget gadis kecil itu sih, Allan jangan jadi cowok pedofil" Ucapnya dengan menggeleng kepala.
Like
komen