
Indira menatap kesekeliling hanya ada tempat tidur dan meja kecil beserta cermin.
Ceklek
Pintu terbuka dan seorang wanita dengan mulut menghisap rokok masuk mendekati Indira bersama satu perempuan membawa kotak make up.
"Ma-mi Reta." tenggorakan nya terasa tercekat, melihat wanita yang meminjamkan uang kepadanya berdiri didepan matanya.
"Cepat dandani dia secantik mungkin, malam ini ada tamu penting." Ucap Mami Reta kepada wanita yang membawa alat makeup.
"Ma-maksud mami apa?" Indira meremang hanya mendengar kata tamu penting. pikirannya berkelana apakah dirinya akan dijual?.
Mami Reta hanya tersenyum tipis. "Ini konsekuensi kamu jika tidak membayar hutang mu." Masih mengepulkan asap rokok perempuan itu berbicara sinis.
"Tapi kan jaminan nya rumah jika saya tidak bisa membayar." Ucap Indira dengan raut wajah panik dan pias.
"Cih. lakukan saja apa yang saya suruh." Mami Reta segera keluar diikuti kedua bodyguard nya.
Indira merasa dirinya terancam, dirinya tidak bisa seperti ini ia harus bisa keluar dari sini.
"Ayo nona duduk disini biar saya merias wajah anda." Ucap wanita muda yang usianya sekitar 30tahun-an.
"Ini tempat apa?" Indira bertanya dengan wanita itu.
"Ini tempatnya para pria mencari kepuasan surga dunia." Ucap wanita itu dengan mengeluarkan alat makeup yang ia bawa.
"Ma-maksud anda?" Sebenarnya dirinya sudah mengerti tempat apa yang dimaksud wanita itu, tetapi ia masih tidak percaya jika nasib nya akan berakhir disini.
"Rumah bordir mami Reta, Atau sebut saja rumah para wanita Ja*ang."
Wanita itu mulai memainkan tangan nya diwajah cantik Indira.
Indira membeku, ketakutan mulai merayapi dirinya. Apakah dirinya akan menjadi pela*ur ditempat ini?.
"Jika kamu menurut maka kamu akan menjadi gadis kesayangan Mami, wajah kamu sangat cantik dan sepertinya kamu masih pelajar." Wanita itu terus saja berbicara, sedang kan Indira ia tidak mendengarkan ucapan wanita itu. pikirannya tidak tenang bagaimana caranya agar dirinya bisa keluar dari tempat ini.
Andai dirinya tidak berhenti bekerja mungkin ia tidak akan sampai ditempat seperti ini. Dirinya sudah pasti akan duduk santai dirumah dan menikmati kasur empuk kesayangan nya.
Ini semua karena egonya, demi menghindari pria mesum yang selalu membuat jantungnya berdebar dan pria itulah yang juga membuat hatinya terasa sakit.
Mengingat itu sekelebat bayang wajah panik Allan menyapa ingatan Indira, ketika ia berada dirumah sakit dan pria itu sangat khawatir kepadanya, apakah sekarang Allan juga khawatir?.
Tak terasa air matanya jatuh kepipi, dirinya tidak mau berakhir seperti ini, lebih baik ia menjadi gelandangan dari pada harus menjadi seorang pela*ur pemuas napsu.
"Hei jangan menangis, makeup mu akan luntur." Wanita itu kesal, riasan yang sudah rapi kini menjadi rusak karena Indira menangis.
"Untuk apa kamu menangis seperti perawan saja." Perempuan itu masih saja mengoceh kesal, karena ia harus mengulang kembali pekerjaan nya.
'Bang Allan'
...............
Sedangkan Allan masih prustasi, dirinya tidak menemukan keberadaan Indira, pikiran negatif tentang Indira serasa membuat dadanya kian meledak, bagai mana jika rentenir itu melakukan sesuatu kepada gadis pujaan nya.
Allan mengeluarkan ponsel nya dan menghubungi Jimmy.
"Halo.." Suara Jimmy diseberang sana.
"Halo.. Jim segera kamu cari tahu siapa rentenir tempat Indira meminjam uang, cari tahu semua nya karena Indira tidak ada dirumah." Allan segera berbicara dengan Jimmy untuk mencari Indira. Allan yakin jika gadis itu pasti sedang berurusan dengan rentenir itu.?
"Tuan dimana?"
"Saya akan Sherlock lokasinya." Allan mematikan sambungan telepon tanpa mendengar jawaban Jimmy.
"Cih..siapa lagi Indira itu, kenapa harus malam-malam seperti ini." Dirumahnya Jimmy menggerutu kesal, dirinya baru sampai rumah sepulang dari kantor karena lembur dan sekarang bos nya memerintahkan sesuatu kepadanya, meskipun Jimmy tidak tahu siapa wanita yang bosnya maksud tapi ia yakin jika wanita itu begitu penting untuk bosnya.
Jam sudah menunjukan pukul sepuluh malam, Allan masih memikirkan dimana gadis itu berada dan apakah baik-baik saja.
"Maaf kan aku, maaf jika pikiran dan mungkin hati aku sudah memiliki wanita lain." Allan menatap foto itu nanar tatapan matanya sendu, kejadian itu mengingatkan luka yang teramat dalam.
Ia kembali memasukkan foto itu kembali ke tempatnya. "Sayang kamu dimana?" Allan menarik rambutnya kasar, niat diri ingin melepas rindu dengan memeluk ataupun melihat gadis yang sekarang sudah menempati hatinya, tetapi malah dirinya tidak bisa menemukan gadis itu.
Tak berapa lama Jimmy datang dan segera masuk setelah Allan memerintahkan.
"Apa yang terjadi tuan?"
Kini mereka sedang duduk berhadapan disofa ruang tamu.
Allan pun segera menceritakan apa saja yang berkaitan dengan Indira, dirinya meminta Jimmy mencari tahu siapa orang yang telah meminjamkan uang kepada Indira.
"Baik tuan, saya akan mencari nona Indira." Jimmy segera keluar ia juga menghubungi anak buahnya agar bisa membantunya dengan cepat. Karena melihat wajah panik tuan nya ia merasa sedikit terenyuh, kini tuan nya bisa kembali merasakan jatuh cinta lagi.
Setelah bertahun-tahun bosnya itu tidak pernah dekat dengan wanita apalagi berkencan, tetapi sekarang Jimmy yakin jika tuan nya menyukai gadis yang belum pernah dirinya lihat.
Indira merasakan tubuhnya panas dingin, wanita yang meriasnya menyerahkan sebuah gaun berwarna merah terbuka begitu seksi, bahkan tidak bisa disebut sebagai baju.
"Kamu pakailah, cepat." Memberikan gaun itu kepada Indira dan menunggu diluar.
Indira menatap gaun di tangan nya, apakah malam ini dirinya akan menyerahkan mahkotanya kepada pria hidung belang dan para bandit tua. Membayangkan itu saja sudah membuatnya merasa mual ingin muntah.
Ia mencoba gaun itu dengan hati-hati, setelah memakai dirinya berdiri didepan cermin, ia menatap pantulan dirinya, tali gaun yang berbentuk spageti melekat dikedua bahu putih mulusnya, sedangkan bagian depan terlihat sangat seksi, belahan dada rendah membuat kesan menggoda buah dada yang sedikit mengintip membuat siapa saja akan tergoda. gaun itu hanya panjang sebatas paha. Tubuh Indira yang juga bagus dan wajah cantik serta kulit putih ditambah riasan tipis yang ia pakai membuat dirinya menjadi wanita cantik.
"Gak guna meskipun loe cantik, loe sebentar lagi akan jadi jal*ng." Indira menatap pantulan dirinya tersenyum ironi.
Mungkin inilah jalan takdirnya, dirinya akan terjamin ke dunia malam dan entah mungkin tidak akan bisa keluar dari sini.
"Bagaimana mi cantik bukan." perias yang biasa dipanggil Mala itu tersenyum puas, pasti dirinya akan mendapat bonus karena ia merias gadis sangat cantik dari para gadis lainnya.
Mami Reta menatap Indira dari atas sampai bawah dirinya merasa puas kali ini mendapatkan mutiara indah yang akan menjadi primadona dirumah bordirnya.
"Ingat lakukan tugasmu dengan benar, karena tamu yang akan kamu layani adalah tamu spesial." Mami Reta mengapa wajah Indira dengan tatapan penuh peringatan.
"Jangan coba-coba membuat ulah jika tidak ingin celaka."
Beralih menatap Mala. "Kerja bagus Mala, segera kamu antar kan dia kekamar tamu Vip." mami Reta pun segera pergi dari hadapan mereka.
"Beres Mih."
"Ayo gue antar, menemui mesin ATM no limid." Mala dengan senang hati membawa Indira menuju kamar VIP yang sudah disiapkan.
Indira pasrah dirinya tidak tahu ahrus berbuat apa, ingin rasanya menangis dan berteriak. dirinya tidak mau menjadi wanita seperti ini.
"Masuklah, seseorang sudah menunggumu." Mala mendorong Indira masuk, dan segera menutup pintu.
Indira ketakutan wajahnya pucat dan pias, jantungnya berdetak tak karuan, ia melihat seorang pria berpakaian jas rapi sedang berdiri menghadap keluar lewat jendela kaca.
Deg
Jantungnya serasa terlepas begitu saja ketika melihat pria itu berbalik dan menatapnya.
.
.
.
.
.
Like...komen.. tinggalkan jejak kalian..😘