
Tidak ada yang berubah, keadaan masih sama. Bedanya kini Indira lebih kuat dan tegar menunggu suaminya yang masih memejam kan mata.
Rumah sakit adalah rumah kedua Indira, selama suaminya dirawat dirinya tidak pernah pulang untuk meninggalkan suaminya.
Jimmy menyiapkan ruangan khusus untuk istri tuanya agar bisa beristirahat dengan nyaman, mengingat Indira sedang hamil. Satu bulan lagi Beby mereka akan hadir, namun takdir seakan belum selesai memberikan mereka ujian.
Dua kali Indira merasakan di posisi yang sama, bedanya dulu ketika Allan kecelakaan dirinya yang belum berstatus menjadi istrinya, tidak perduli dengan keadaanya sendiri. Dan sekarang dirinya harus kuat demi anak dan suaminya.
Ingin rasanya menangis setiap kali melihat tubuh suaminya yang berbaring lemah, namun menangis tidak akan merubah apapun.
Sejatinya musibah tidak harus membuat kita terpuruk, namun bisa membuat kita lebih kuat untuk menghadapi nya.
"Ketika kamu bisa berjuang dan menghadapi musibah yang menghampirimu, maka sejatinya kamu adalah seseorang yang telah berhasil untuk membuktikan bahwa kamu adalah sosok yang kuat."
Dan sekarang Indira sedang berjuang menghadapi musibah yang begitu membuat jiwanya menghilang, suami dan calon ayah untuk anaknya terbaring tak berdaya selama berminggu-minggu.
Dokter masuk ke dalam ruangan di mana Allan berbaring, ruangan yang sama sekali tidak boleh ada orang lain selain perawat dan dokter.
Dokter nampak memeriksa keadaan Allan, barusan suster mengatakan jika ada perkembangan pada pasien.
"Lakukan pengecekan secara teliti, organ-organ vitalnya sudah berfungsi kembali normal." Ucap sang dokter.
Waktu masih menunjukan tengah malam ketika suster melihat monitor yang menunjukan grafis organ tubuh Allan yang mulai normal.
.
.
.
Indira merasakan tidurnya malam ini kurang nyaman hingga membuat dirinya terjaga di malam hari, karena memang di usia kehamilan yang mendekati persalinan dirinya sangat susah untuk bisa tidur dengan nyenyak.
Turun dari ranjang dirinya melihat mama Lili yang juga masih terlelap di sofa.
Melihat jam didinding masih jam tiga pagi. Berjalan ke kamar mandi untuk buang air kecil.
"Jenguk Abang kali ya.."
Kakinya berjalan keluar ruangan menuju dimana suaminya berada.
Lorong rumah sakit nampak sangat sepi di jam tiga pagi.
Indira berjalan santai dengan mengelus perutnya yang membesar dirinya merasa senang jika sebentar lagi malaikat kecil mereka akan segera hadir.
Berharap ketika waktunya suaminya sudah sembuh. "Kita jengukin papa ya sayang, mama tidak bisa tidur." Ucapnya berbicara pada perutnya, seolah bayinya bisa mendengarkan.
Kebiasaan Indira selain karena hamil tua dirinya juga tidak akan bisa tidur nyenyak jika tidak di peluk oleh suaminya. Mengingat itu Indira kembali merasakan nyeri dihatinya ketika rasa rindu mendera.
Ketika sampai di ruangan suaminya, seperti biasa dirinya hanya bisa melihat dari kaca besar yang memperlihatkan Allan sedang berbaring di sana.
Tangan nya mengelus kaca tepat pada wajah Allan. "Abang...Dira merindukanmu." Matanya berkaca-kaca sekuat tenaga tidak ingin menjatuhkan kembali air matanya.
"Abang harus terus berjuang, kami menunggu Abang." Jarinya bergerak seolah sedang membelai wajah suaminya.
Sekitar tiga puluh menit Indira berdiri memandang suaminya dari kaca, seakan tak pernah lelah untuk terus menemani dari jarak jauh.
"Ra..kamu disini?" Tanya Arum.
"Em..abis dimana lagi, disini tempat ku untuk melepas rindu." Ucapnya sambil tersenyum, senyum yang yang begitu menggambarkan suasana hatinya.
Arum yang kebetulan bertugas sif malam, mendatangi ruang Indira yang tidak ada, dan disinilah Indira berada.
"Terus berdoa agar Abang cepat membaik." Arum memeluk sahabatnya itu.
Indira tersenyum. "Ya, dan aku beruntung memiliki cinta seperti Abang."
.
.
.
Pagi hari Indira bangun dijam enam pagi, karena semalam tidur hampir pagi membalutnya sedikit telat bangun. Bahkan ketika membuka mata mama Lili sudah tak ada di ruangan.
Indira bergegas masuk ke kamar mandi untuk menuntaskan hajatnya dan membersihkan diri.
Keluar dari kamar mandi sudah tersedia makanan untuk dirinya sarapan. "Pasti suster yang mengantar." Melihat menu makanan yang menurutnya enak, segera Indira memakan dengan lahap.
"Duh, pasti Abang nungguin, biasanya aku kesana lebih pagi." Berjalan sedikit tergesa, dirinya tidak biasanya menemui suaminya hingga jam tujuh pagi begini, biasanya jam enam dirinya sudah berdiri menunggu Allan.
Tidak dipungkiri bahwa rasa khawatir dan cemas selalu menghantuinya dirinya setiap waktu. Namun dirinya segera menepis pikiran negatif dan berpikir positif jika Tuhan tidak akan mengambil suaminya saat ini. Mereka baru saja akan merasakan kebahagiaan keluarga kecil yang lengkap, jika itu terjadi tidak tahu apa yang akan dirinya lakukan.
Langkahnya berhenti tepat dikaca besar seperti biasa, namun alangkah terkejutnya melihat ranjang itu kosong.
Tidak mau memikirkan hal negatif Indira berusaha tetap tenang, namun air matanya tidak bisa Ia cegah ketika jatuh begitu saja.
Wajahnya khawatir, melihat kesekeliling dan sekitar tidak ada suster ataupun dokter, tangannya mengusap air matanya yang kian deras mengalir. keluar ruangan untuk bertanya dimana suaminya sekarang.
"Hik..hik..Abang.." Indira berjalan dengan pikiran yang kacau, tidak mungkin hanya beberapa jam dirinya tinggal suaminya sudah tidak ada.
Kejadian buruk dan mengerikan kini bersarang di otaknya. Tidak...ini tidak mungkin terjadi?
Air matanya dan Isak tangis mengisi kesunyian di lorong yang sepi masih ingin berjalan mencari dokter ataupun suster tapi kakinya seolah tak bisa ia gerakan.
"Abang...hik..hik."
"Maaf ibu kenapa menangis disini." Seorang suster yang tiba-tiba menyapa Indira.
"Sus.." Suara Indira tercekat. "Su-suami saya kemana?" Tanyanya dengan terbata menahan Isak tangis yang menyesakkan dada.
"Maksud ibu, pasien yang diruang ICU?" Tanya suster itu, yang kebetulan bukan suster yang berjaga menjaga Allan.
Indira hanya menganggukkan kepalanya. "I-iya sus."
"Pasien sudah di pindahkan di ruang rawat VVIP Bu, karena kondisinya sudah melewati masa kritis." Ucap suster itu membantu Indira untuk berdiri. "Ayo saya antar Ibu kesana."
Indira masih belum percaya apa yang diucapkan suster tersebut, dirinya sudah pernah di bohongi oleh Jimmy dan sekarang dirinya tidak percaya begitu saja jika belum melihatnya langsung.
"Suster tidak sedang membohongi saya?" Tanyanya yang mengikuti suster itu berjalan ke ruangan lain.
"Tidak Bu, karena saya yang membatu pasien pindah." Suster itu menuntun Indira memasuki ruangan khusus VVIP.
"Jadi suami saya beneran sudah membaik?" Tanya nya lagi yang masih tidak percaya.
Suster itu tersenyum dan mengangguk. "Suami ibu sangat kuat, berjuang untuk tetap bertahan demi ibu dan anak ibu." Ucapnya menenangkan Indira.
"Silahkan, ini ruangan suami ibu."
Indira hanya diam diambang pintu, tangannya terasa bergetar ingin membuka nya.
Pintu dibuka dari luar, pemandangan pertama masih sama suaminya terbaring di ranjang, namun tidak lagi terpasang alat-alat ditubuhnya, bahkan sekarang suaminya sudah bisa dipakaikan baju.
"Abang..." Tangisnya semakin pecah, dengan kedua tangannya ia menutup mulutnya.