
Rere menatap kedua orang tuanya bergantian, dirinya mengumpulkan keberanian untuk bicara. "Bu, ayah..maaf Rere sudah membuat malu kalian." Rere menunduk dengan meremat kedua tangannya. "Riko membatalkan lamaran nya.." Rere menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, dari dirinya yang tidak bisa datang untuk mencari cincin hingga membuat Riko salah paham, mines Rere tidak menceritakan kejadian yang dirinya lihat di kantor.
Ayah Rere hanya menyandarkan tubuhnya kesadaran sofa dan menghela napas dalam.
"Kamu yang sabar nak..Mungkin belom jodohmu." Ibu Rere membawa putrinya kedalam pelukannya. Sebagai seorang ibu, Fitri ibu nya Rere merasa kecewa jika anaknya di perlakukan seperti itu, Mereka sudah sama-sama dewasa namun keegoisan seseorang tidak memandang dewasa atau muda.
"Jika begitu lamaran akan tetap di adakan." Ucap ayah Rere tiba-tiba, Hilman tidak mungkin menghubungi kerabat jauh yang sudah mendengar acara lamaran putrinya, karena itu akan membuat dirinya merasa malu jika putrinya diputuskan sebelum acara lamaran.
"Maksud ayah apa?" Rere langsung menegakkan tubuhnya, mendengar ucapan Hilman.
"Ayah jangan ambil keputusan yang membuat anak kita tidak bahagia." Ucap Fitri memperingatkan.
"Ayah akan menerima lamaran dari keluarga Zidan untuk menjodohkan kalian." Ucap Hilman dengan tegas.
"Tapi ayah..aku_"
"Kamu tidak usah khawatir Zidan sudah setuju dengan lamaran ini, dan kamu hanya menerima dengan jodoh yang Tuhan takdir kan." Hilman memotong ucapan putrinya ketika ingin protes.
Rere hanya diam dengan menunduk, dirinya tidak bisa lagi melawan ayahnya, ini kejadian kedua dirinya menolak dijodohkan karena merasa bisa mencari pria yang lebih baik dan bisa menerima dirinya. Namun ternyata keberuntungan tidak berpihak padanya.
Fitri hanya mengelus punggung putrinya, dirinya tahu bagaiman rasanya dijodohkan dengan orang yang tidak kita kenal sama sekali.
.
.
Di rumah Aditama Indira nampak bahagia menunggu kepulangan suaminya malam ini, meskipun sudah menunjukan jam sebelas malam namun semangatnya untuk menunggu Allan pulang.
Deru suara mesin mobil memasuki pekarangan rumah, Indira yang mendengarnya langsung berjalan menuju pintu untuk menyambut kepulangan suaminya.
Allan yang turun dari mobil segera berjalan menuju pintu utama, disana sudah ada bidadari yang tersenyum manis menunggunya.
"Abang.." Indira berjalan mendekati Allan yang sudah merentangkan kedua tangannya, bersiap memeluk erat tubuh istri tercintanya.
"Sayang.." Allan mengeratkan pelukannya, namun masih menjaga jarak aman dari perut istrinya.
"Emmhh...Dira kangen Abang." Indira melingkarkan tangannya erat di tubuh Allan.
Allan terkekeh istrinya ini sekarang sangat manja dan menggemaskan. "Abang juga." Allan meraih wajah Indira dan mencium seluruh wajah istrinya.
"Duh bos, kalo mau ehem..ehem..masuk kerumah dulu napa, saya juga rindu dengan yang dirumah ini." Jimmy berbicara ketika melewati dua sejoli yang sedang melepas rindu, dirinya menyeret koper Allan ke dalam rumah.
"Ck. tinggal pulang apa susahnya, kamu bisa bebas dan tak perlu iri." Allan mendelik ke arah Jimmy yang menampilkan wajah jailnya.
Indira hanya tersenyum dan berjalan masuk dengan dirangkul Allan.
"Kamu belum tidur sayang?" Allan keluar dari kamar mandi dengan masih menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya, dan handuk kecil untuk mengusap rambut basahnya.
Indira menggeleng. "Sini aku bantu." Indira menyuruh Allan untuk duduk di depannya, dan menghadapnya.
Allan menurut dan duduk di depan istrinya yang setengah berdiri dengan bertumpu pada lutut.
"Besok acaranya jam berapa yank." Tanya Allan yang memang ingat akan acara kakak sepupu istrinya itu.
"Hm.. Abang tidak tahu, kak Riko telah membatalkan lamarannya besok." Ucap Indira dengan nada sedih, apalagi Rere yang langsung cerita kepadanya.
"Batal...maksudnya R dan R tidak jadi lamaran?" Tanya Allan yang menatap wajah istrinya sedang mengeringkan rambutnya.
"Hm.. tapi besok kita tetap datang ke acara lamaran Rere." Ucapnya lagi yang membuat Allan bertambah bingung.
"Lah,, katanya di batalkan tapi Rere masih lamaran."
"Ya memang batal kalo sama kak Riko, tapi Rere di lamar oleh pria yang dijodohkan." Indira pun menceritakan apa yang Rere ceritakan padanya, meskipun sedih karena tidak menjadi saudara nya, namun Indira juga menghargai keputusan Rere yang lebih menghormati kedua orang tuanya.
"Duh, kasian sekali si Riko, mau dapet jodoh malah batal."
"Kak Riko hanya salah paham, tapi semenjak mereka ribut kak Riko tidak pulang dan tidak datang ke kantor." Jelas Indira yang mendapat kabar juga dari Harna.
"Berdoa saja semoga mereka mendapat jodoh yang baik."
"Kamu belum mau tidur." Allan menatap istrinya yang duduk dan memainkan ponsel, sementara dirinya masih duduk di posisi yang masih sama dan belum menggunakan baju.
"Hm, belum mengantuk, siang tadi aku tidur jadi belum ngantuk sekarang." Adu Indira pada suaminya.
"Ng.. ya sudah aku bikin lelah saja biar kamu cepat tidur." Allan tersenyum penuh arti.
"Bagai mana caranya?" Entah memang Lola, apa sedang bercanda Indira bingung.
Allan merapatkan tubuhnya kepada Indira. "Caranya hanya mendesaah di bawah atau di atas." Ucap Allan dengan lirih karena menahan hasrat yang sudah turn on.
Pipi Indira merona mendengar ucapan suaminya, yang ternyata menjurus pada kegiatan anu?.
Allan melancarkan aksinya meraup bibir yang sudah menjadi candunya, menyesap dan memanggut dengan dalam dan intens.
Tangannya bergerak mengelus leher hingga ke buah dada Indira yang masih terbungkus gaun tipis malam nya, sejak tadi tubuh Allan sudah panas dingin melihat penampilan istrinya malam ini.
Indira membalas cumbuan Allan dengan senang hati, dirinya juga merindukan sentuhan tangan suaminya meskipun hanya semalam saja.
"Shh Abang.." Indira mendongakkan kepala nya ketika bibir Allan menyusuri leher dan meninggalkan jejak disana, dan merambat hingga kedepan dada yang sudah folos.
Lumataann dan kulumman di pucuk dadanya membuat Indira mendessah lirih, jari Allan bekerja memilin puttingg nya yang sudah mengeras.
Keduanya sudah dalam keadaan folos seperti biasa Allan akan meminta istrinya untuk memimpin permainan mereka.
"Uhhgghh..." Keduanya meleguh ketika sudah menyatu, Indira berdiam sebentar untuk mengatur debaran didadanya.
"Came on dear." Allan menyuruh Indira menggerakkan tubuhnya.
"Emhh..shhh..ahh.." Indira bergerak maju mundur, terkadang naik turun mencari posisi nyaman dengan perut nya yang sudah semakin membesar.
Allan merancau merasakan miliknya seperti di pijat dan di remmass di dalam sana. "Ohh yess dear, harder." Allan mengeraam dalam ketika Indira menuruti ucapanya.
Tangan Allan meraih buah yang sejak tadi menggantung dan bergerak dengan indah, kedua jarinya bekerja untuk memiliin dan meremat pucuk yang tegang itu.
Indira semakin bergerak gelisah. "Abang...aku..emhh aku.." Indira mencoba terus bergerak mencari titik yang dapat membuatnya terbang.
"Keluarkan sayang.." Allan membatu menggerakkan tangan nya di pinggang Indira.
"Abang..ahhhwsshh.." Tubuhnya bergetar bersama ledakan dalam dirinya.
Allan tersenyum melihat wajah istrinya yang begitu seksi, ketika pelepasan di dapat.
Tangannya merapikan rambut yang menutupi wajah Indira ke belakang telinga.
"Sekarang giliran Abang." Allan menurunkan Indira yang masih mengatur napasnya untuk menungging. kali ini mereka menggunakan gaya ***** *****.
Allan kembali memasuki tubuh istrinya dari bekang. Memacu adrenalinnya untuk mendapat pelepasan.
Allan menarik kedua bahu istrinya agar bersejajar dengan tubuhnya.
Indira merancau semakin keras ketika tubuhnya dipeluk dari belakang dan hentakan di bawah semakin melesak ke dalam.
"Ohh...Abang.." Allan menekan kuat pinggulnya ketika merasakan denyutan miliknya semakin membesar.
"Ahhh...sayang.." Allan Memeluk tubuh Indira yang setengah duduk didepannya dengan kepala tenggelam di ceruk leher Indira.
Keduanya mengatur napas yang masih memburu.
"Abang bantu membersihkannya." Allan mencium bibir Indira dan menggendong ala bridal tubuh folos istrinya masuk kamar mandi.
.
.
Haredang...haredang...haredang...panas..panas..panas...ππΆπΆπ€£π€£